KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Murka


__ADS_3

Setelah menelan semua kemarahan dan kegundahan dalam hatinya, Sabtu pagi ini Bapak mengendarai motornya untuk menjemput sang putri yang menjadi sumber segala kepeningan dalam kepalanya beberapa hari belakangan.


Ia ingin segera manemui sang putri untuk mengetahui segala kejelasan dari ucapan Opa beberapa hari lalu. Ia mulai lebih dalam menarik gas pada tangan kanannya untuk mempercepat laju motornya agar segera bertemu sang putri tercinta. Hingga sampailah ia pada kost Mayra.


Namun, Mayra tak ada dalam kamarnya kini karena pergi ke butik bersama Tika. Karena weekend pengunjung Butik jadi ramai hingga keduanya berangkat lebih awal dari biasanya. Bapak mengetahuinya dari Dewi teman kost Mayra, bahkan ia juga yang menceritakan semua masalah yang telah menjadi rahasia umum di kost ini tentang Mayra.


Membuat Bapak tercengang, benar-benar tak mengerti dengan sang putri yang tak berbicara apapun pada keluarganya tentang semua masalah yang menimpanya ini. Bapak semakin di buat geram saja, ini adalah kebenaran yang kesekian kalinya di tutupi Mayra dari Orang tuanya sendiri. Gumpalan kemarahan Bapak semakin membesar saja kini. Ia mulai melajukan motor menuju Butik Tika sesuai arahan dari Dewi tadi.


Bapak telah sampai di Butik, ia segera memarkirkan motor. Untungnya ada salah seorang wanita berseragam Butik tersebut yang baru sampai dari mengantarkan baju pada pelanggan, Bapak segera memintanya untuk memanggilkan Mayra, Ia mengangguk mengerti.


" May... Tu di cariin Bapak-Bapak di depan." Ucapnya setelah memasuki Butik dan melihat Mayra telah selesai melayani salah seorang pelanggan.


Mayra nampak mengerutkan kening, " Siapa ?" tanyanya yang hanya di jawab kedikkan bahu. Ia segera melangkah keluar Butik, dengan debaran hati tak karuan mulai mendekati seorang pria paruh baya yang bersender pada motor astra grandnya.


" Bapakk ?" dengan segera ia menghampiri Pria yang menjadi cinta pertamanya tersebut.


Sekuat tenaga Bapak tak menampakkan semua kekecewaannya, " Ikut Bapak pulang sekarang Mayra." Titahnya dengan suara datar. Mayra mengerutkan dahinya, ada apa tiba-tiba Bapak jadi aneh seperti ini pikirnya. Tak menjawab, ia malah mengambil tangan Bapak untuk menyalaminya.


" Ada apa Pak ? gak terjadi hal buruk kan di rumah ?" tanya Mayra dengan raut paniknya.


" Nggak. Ayo..." Bapak sudah menaiki motor dan memakai helm.

__ADS_1


" T... Tapiii Pak ..."


" AYO MAYRA !" dengan nada sedikit membentak, membuat Mayra terperanjat. Dengan segera ia mengambil langkah cepat ke dalam Butik untuk mengambil tasnya.


" Gue Izin dulu ya Tik, itu Bapak jemput kayanya ada hal penting banget. So sorry...." ucapnya dengan menangkupkan kedua tangan pada Tika.


" Ya udah si May.. Keluarga itukan lebih penting. Lo ati-ati ya..." dengan menurunkan tangan Mayra dan menepuk pelan bahunya. Mayra mengangguk lalu melenggang dari Butik. Menaiki motor Bapak yang telah bersiap sedia untuk melaju.


Sausana mencekam begitu terasa di antara keheningan yang bahkan tak pernah terjadi selama dua puluh enam tahun dalam hidup Mayra ini dengan Bapak. Mayra sama sekali tak berani membuka percakapan melihat raut Bapak yang amat tegang. Bahkan ketika Bapak mengisi bensinpun Mayra turun dan naik kembali tanpa di minta. Ingin rasanya Mayra menangis, sebenarnya apa yang terjadi hingga Bapak terlihat sangat aneh seperti ini pikirnya. Selama dua jam lebih perjalanan benak Mayra selalu di penuhi dengan hal-hal buruk tentang keluarganya. Ia ingin segera sampai dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Akhirnya mereka sampai di rumah, Rumah yang memberi ketenangan jiwa tersendiri bagi Mayra, karena di sinilah ia di lahirkan juga di besarkan dengan penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Bapak segera masuk menuju dapur dan menuang air dari teko, sekalipun dalam perjalanan hanya diam saja ternyata tetap membuat dahaga. Di ikuti oleh Mayra di belakangnya kini, ia juga mengambil air putih untuk mengguyur kerongkongannya yang terasa mengering.


Deggh


Hati Mayra serasa di hantam bongkahan batu, Ia menelan saliva dengan kepayahan. Mencoba menelaah situasi agar bisa memberi jawaban yang tepat untuk Bapak. Pasti Bapak marah karena ia tak bilang jika sudah keluar dari perusahaan dan bekerja di Butik pikirnya.


" Maafin Mayra Pak ... Mayra bukannya ga mau cerita sama Bapak dan Ibu, tapi belum ada waktu yang tepat..." Ucapnya dengan berdiri dan menundukkan wajahnya, merasa begitu bersalah karena tak jujur pada Bapak.


" Itu yang pertama. Lalu ?" Bapak masih mencoba untuk bersabar.

__ADS_1


Hah ? emang salah apalagi anakmu ini Pak. Batin Mayra sudah meronta tak terima dengan tuduhan Bapak.


" I... Itu aja kok Pak. Gak ada lagi..." tutur Mayra dengan mimik wajah penuh ketakutan.


Pllakkkk


Habis sudah kesabaran Bapak karena Mayra sama sekali tak ada niat menceritakan semua keburukannya.


Tamparan dari Bapak nampak begitu kerasnya, hingga membawa Mayra terhempas pada dinginnya lantai ruang makan tersebut. Mayra begitu syok dengan apa yang di lakukan Bapak padanya kini. Apa hanya karena tak memberitahu ia di keluarkan dari perusahaan, Bapak jadi semarah ini ? sungguh ia tak mengerti. Tapi yang jelas kini ia merasa hati dan tubuhnya telah luluh lantah, begitu hancur tak tersisa mendapat tamparan dari tangan yang biasa membelainya dengan penuh kasih tersebut, airmata telah mengalir dengan derasnya, nafasnya serasa tercekat, dadanya terasa begitu sesaknya, ingin rasanya ia menghilang saja.


Terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah dapur, " Yaa... Allah Pakk ... Istighfar Pak Istighfarr..." pekik Ibu dengan menutup mulutnya lalu menghampiri Mayra yang terduduk di lantai dengan deraian airmata yang tak terbendung.


Ibu segera menuntun Mayra berdiri, " Marah karena anak salah itu boleh Pak. Tapi jangan melakukan kekerasan seperti ini. Kasihan anak kita Pak !" ucap Ibu dengan suara menahan tangisnya, bahkan kini airmatanya sudah menganak sungai merasa tak rela anaknya di sakiti seperti ini.


" Bela saja terus. Semakin kamu bela akan semakin berani dia membangkang aturan orang tua ! menjadi anak tak bermoral ! berbuat seenak hati ! tak peduli dengan akibat yang akan dia tuai nantinya !" Ucap Bapak dengan nada yang telah meluap-luap. Mayra semakin tersedu dalam pelukan Ibu, sebenarnya kesalahan apa yang di perbautnya sampai Bapak berbicara seperti itu.


" KAMU ITU MASIH PUNYA KEDUA ORANG TUA YANG UTUH MAYRA ! BUKAN ANAK HILANG DI JAKARTA SANA ! SAMPAI DENGAN TIDAK TAHU MALUNYA KAMU....." pekik Bapak, lalu terduduk memegangi kepala yang terasa akan pecah ketika akan melanjutkan kalimatnya.


Ibu terlihat mengusap airmata, " Sudah Pak .. Sudah !" ucapnya dengan menelan semua kekecewaan dengan keadaan yang begitu menyesakkan ini. Lalu menuntun Mayra menuju kamar Khadija yang dulunya adalah kamar Mayra, bahkan semua barangnya masih tertata dengan rapinya di sana.


Mayra dan Ibu telah terduduk di atas kasur, namun tangis Mayra tak kunjung berhenti dan malah semakin menjadi saja dalam pelukan sang Ibu kini, ia benar-benar tak mengerti setan apakah yang telah merasuki Bapak hingga menjadi semurka ini. Padahal dulu walaupun dalam keadaan semarah apapun, tak akan sampai menamparnya seperti ini, selama ini Bapak selalu menyayanginya dan memberikan apapun yang Mayra inginkan sedari kecil walaupun harus dengan berbagai syarat. Tapi, sekarang .... Ia semakin tersedu begitu tak kuasa menanggung kebencian Bapak pada dirinya.

__ADS_1


》》》》》


__ADS_2