KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Bersepeda


__ADS_3

Sejenak Mayra terbuai, namun detik selanjutnya ia mulai menyadari posisi intens tersebut, hingga menampakkakn sorot tajam pada Zio, " Ngapain ? sini aku bisa pasang sendiri !" sengitnya pada Zio.


Entah kenapa Mayra jadi sebal sekali pada Zio, hingga selalu berucap dengan nada sengilnya.


Zio memundurkan wajah dan menutup pintu, berjalan mengitari mobil menuju kursi kemudi.


Di dalam mobil Mayra nampak terkagum-kagum dengan semua fasilitas mobil sedan mewah tersebut, semuanya menawan seperti pemiliknya pikirnya. Namun dengan segera menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya.


" Loh kok beneran kamu si ?! aku pulang sama supir aja lah !" ucapnya yang melihat Zio terduduk di kursi kemudi.


" Ini perintah Tuan Besar, TAK TERBANTAHKAN ." ucap Zio dengan nada penuh penekanan di akhir kalimat.


Mayra hanya bisa menelan saliva dengan kasarnya, benar-benar keluarga yang seenaknya pikirnya.


Seketika Mayra mengingat sesuatu," Ehh... Tunggu ..Tungguuu !!" pekik Mayra yang merasa mobil mulai berjalan.


Zio melepas injakkan gas dari kaki kanannya, " Kenapa ?" tanyanya dengan menoleh pada Mayra.


" Ituu... Sepeda.. Sepedanya Dewii !!"


" Nanti akan di antar pengawal."


" Nggak .. Nggak ... Harus di bawa sama aku dong, kan aku datengnya sama sepeda pulangnya juga harus pake sepeda. Kamu ni gimana si ?!" marahnya pada Zio.


Zio berdecak, sebal sekali dengan mulut cerewet Mayra yang beberapa waktu lalu ia rindukan, bahkan ia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini. Senangkah ? sedihkah ? bahagiakah bisa bertemu Mayra kembali ? Entahlah semua rasa serasa tercampur dalam hatinya. Ia dengan segera mengambil langkah keluar dalam mobil walau dengan sedikit terpaksa, entah kenapa jika itu ucapan Mayra sama sekali tak bisa di tolaknya.


Pengawal telah selesai menaruh sepeda Dewi di bagasi mobil sedan yang di tumpangi Mayra.


" Puass ??" ucap Zio dengan kadar kesabaran yang mulai menipis.


" Hmm."


Mobil berjalan membelah lengangnya jalanan ibukota, mereka saling terdiam dalam hening hanya suara deru mobil yang terdengar. Mayra menatap ke luar jendela dengan melipat tangan di dadanya, memikirkan apakah yang akan terjadi selanjutnya sambil sesekali melirik Zio yang tampak fokus mengemudi.


Sebenarnya ia sangat lapar, tapikan tak mungkin bilang pada Zio bisa di kira mencari kesempatan fikirnya. Hingga beralih menatap jendela mobil menikmati kelap-kelip lampu jalanan di malam hari ini. Sampai akhirnya mereka tiba di suatu rumah makan.


" Aku gak laper kok."


" Hanya parkir." Lalu beranjak mengambil sepeda di bagasi mobil, dan menuntun Mayra setelahnya.


" Kostmu kan tak bisa di lewati mobil."

__ADS_1


Dihh... Dasar holang kaya !


" Hmm..."


Zio telah menaiki sepeda, " Ayo.. Naiklah .." ucap Zio dengan senyum menawannya.


" Hahh ? naik di mana ?" bingung sekali Mayra sambil menatap sepeda model sport tersebut, naik di belakang kakinya tak akan mampu, di depan ? yang benar saja itu tidak mungkin pikirnya.


" Atau mau kugendong sampai kostmu ?"


Jderr


Seakan petir datang menyapa, akan seheboh apa jika ia di gendong Zio sampai kostan ? bisa mengguncangkan jagat raya pikirnya.


Akhirnya Mayra segera mendudukkan diri di depan Zio, mereka berboncengan dengan mesranya jika di lihat orang awam. Sedikit banyak memang membuat debaran di antara keduanya semakin menggema saja, namun hati keduanya seperti magnet dengan sisi yang sama, saling tolak-menolak.


Hingga suara bunyi perut Mayra terdengar juga oleh Zio, membuatnya tersenyum geli sendiri.


Ternyata dari tadi marah-marah karena lapar, astaga.. Batin Zio dengan menggelengkan kepala.


" Beli itu dulu !" Mayra menunjuk mobil pick up yang terparkir di jalanan.


Terdengar sebuah nada lagu yang cukup terasa aneh untuk telinga Zio dari mobil tersebut.


Zio menggeleng, bentuk strategi marketing yang sangat aneh pikirnya.


" Bang sepuluh ribu ya.. Pake yang pedes sama keju aja bumbunya." pinta Mayra pada si penjual dengan masih terduduk menyamping di sepeda yang masih berdiri tegak menggunakan kedua kaki Zio sebagai penopangnya.


" Nih neng... Eh Mayra.. Antimainstream amat May pacarannya sepedaan malem-malem, ngga takut nubruk apa ?" tanya si penjual yang nampaknya mengenal Mayra.


Mayra telah membuka mulut untuk menyangkal, namun suara Ziolah yang keluar, " Penglihatan saya masih cukup baik !" Lalu mengayuh sepeda dengan kecepatan penuhnya. Maninggalkan si penjual yang terabaikan.


" Zio pelan-pelan dong, kalo jatuh lagi gimana coba ?!" protes Mayra yang merasa ngeri di bonceng sepeda dengan begitu cepatnya. Maklumlah jiwa pembalap Zio sedang meluap karena ucapan si penjual tahu bulat barusan.


Iapun mulai mengerem dan malambatkan laju sepedanya. Pantas tak merasa kehilangan, banyak lelaki yang mengelilinginya. Siall !


Mayra duduk tenang dengan memakan tahu bulat satu demi satu," Apakah seenak itu ?" tanya Zio yang melihat wajah cerah Mayra setelah memakannya.


" Enaklah... Emang kamu belum pernah coba ?" mood up.


" Belum."

__ADS_1


" Sia-sia amat setua itu belum pernah makan tahu bulat, nihh..." menyuapkan tahu bulat untuk Zio.


" Enakkan ?" tanya Mayra dengan menoleh pada Zio.


" Hmm..." tersenyum dengan tampannya.


Astaga naga-nagaa .... Kenapa serangan wajah beneran bikin lemah jiwa gini sih.. Batin Mayra lalu mengalihkan pandangan pada jalan yang telah mendekati kostnya.


Hingga sampailah mereka, " Bisa ? atau mau..." suara Zio terhenti oleh sentuhan jari telunjuk Mayra pada mulutnya.


" Bisa-bisaa... Aku bisa sendiri ... Udah sana pulang.. Makasih ..." ucap Mayra lalu dengan segera menarik tangannya, dan berjalan menaiki tangga dengan kaki terpincangnya.


Fyuhh... Untung tepat waktu, aneh-aneh mulu sii dasar manekinn !! Batin Mayra lega Zio tak melanjutkan ucapannya. Was-was sekali ia kalau-kalau Zio asal menggendongnya seperti di rumah Utama tadi. Bisa gonjang-ganjing kostan ini pikirnya.


Zio nampak tersenyum kecil, lalu melenggang menaiki motor yang di kemudi pengawal yang sedari tadi mengikutinya.


***


" Lo kenapa May ?" tanya Tika dari arah dapur dengan membawa semangkuk mie instan.


" Gpp ko..." dengan meringis menahan nyeri.


" Bengkak gitu gpp gimana si May ?!" heboh Tika melihat kaki bengkak Mayra. Dengan segera ia mengikuti Mayra masuk dalam kamar.


" Gpp beneran ko, tadi udah di pijit."


" Ko bisa sampe kek gini sih ? di pijit siapa ? pantesan ga pulang-pulang. Gue pikir nemu brondong lagi di jalan." dengan meraba pergelangan kaki Mayra yang tampak membengkak.


" Yee... Brondong mulu si otaknya."


" Ya .. Abis ga pulang-pulang."


Mayra mulai menceritakan semua kejadian panjang yang begitu melelahkan perasaan juga tubuhnya hari ini pada Tika yang asyik memakan mie instannya. Sesekali Tika terdengar memaki Aldo juga Zio, kedua lelaki yang selalu saja membuat sahabatnya tersebut uring-uringan tak karuan, membuatnya begitu geram.


" Tapi enak banget sih lo May, di rebutin dua cowok, ganteng pula. Nah gua ngejar sebiji dugan kaga dapet-dapet. Ishh... kesell deh !"


" Di rebutin apaan coba ? ganteng tapi sama-sama ga jelas mah buat apaan. Di kata biji salak kali." jawab Mayra dengan cueknya.


" Iya biji salak kembar." seketika Mayra terbelalak, lalu menghamburkan bantal juga guling pada Tika.


" Dasarr mesummm !!"

__ADS_1


》》》》


__ADS_2