KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Murka part 2


__ADS_3

Mayra berjalan dengan langkah penuh keyakinan memasuki sebuah perusahaan Otomotif terbesar di Indonesia, gedung yang menjulang begitu tingginya tak menyiutkan nyali untuk memberi pelajaran pada sang pemilik karena telah mempermainkan hatinya.


Semua nasihat Rindi ketika mengantarnya tadi masih terngiang dengan jelasnya.


" Lo harus tetep hati-hati May, gue jadi khawatir gini sih sama elo, gue temenin aja gimana ?" ucap Rindi setelah mendengar semua cerita Mayra.


" Nggak, lo sibukkan ? gue gpp ko, lagian inikan di kantor ga mungkin dia ngelakuin hal jahat."


Rindi telah menceritakan pada Mayra jika dia telah menemukan pekerjaan baru di sebuah hotel, namun tak menceritakan jika ialah penerus hotel tersebut.


Lo ga tau aja May... Walaupun ini di kantor tapi pemilik kantor yang mau lo temuin bukan orang sesembarangan itu. Hahh... Astagaa !


" Gue masih ada waktu kok..." ucap Rindi,Mayra nampak menggeleng dan menatap gedung dengan sorot tajamnya. " Udah Rin, inikan masalah gue jadi gue yang harus maju." mengokohkan hati sekuat baja.


Rindi menghembuskan nafas pelan, lalu melepas blezer hitam panjangnya dan di pakaikan pada Mayra. Seolah memberi perisai untuk berperang melawan singa kelahiran kutub utara di dalam gedung tersebut.


" Kenapa ?" tanya Mayra, " Udah lo pake aja.." jawabnya.


Mayra telah sampai di meja resepsionist, " Permisi, ruangan Bapak Wakil CEO di mana ?" tanya Mayra dengan nada sopannya.


Resepsionist nampak memandangi Mayra dari ujung rambut hingga kaki, rambut lurus tergerai dengan poni tipis dan dress ungu muda di dalam blezer panjangnya hingga tas berwarna putih senada dengan heels rendahnya. Nampak elegan di tambah dengan kacamata hitam untuk menutupi mata sembabnya.


Siapa wanita ini beraninya bertanya ruang Wakil CEO kami yang alergi wanita.


" Maaf Nona, apakah anda sudah membuat janji ?"


" Belum"


" Bapak Wakil CEO sedang sibuk, tidak bisa di ganggu. Anda bisa datang lain waktu." dengan menundukkan kepala.


Astagaa ! Seketika sebuah ide melintas.


" Apa dengan ini masih tidak bisa juga ?" tanya Mayra dengan nada halus penuh ancaman, lalu menyodorkan sebuah potret liburan yang dulu pernah di kirim Zio padanya.


Kedua petugas Resepsionist nampak membelalak tak percaya, namun salah satu dari mereka segera menyambar telepon untuk menghubungi Radit.


A..a..aapa ? di...di dia kekkasih Wakil CEO ?

__ADS_1


Astaga ternyata semua rumor tentang Pak Wakil sama sekali tak berdasar.


" Mari saya antar Nona..." Ucap Resepsionist, lalu mengantar Mayra menuju ruangan khusus milik Zio di lantai dua puluh lima.


Ting


Lift sampai, dan Resepsionist hanya meminta Mayra untuk menunggu di Ruangan yang bertuliskan Wakil CEO. Ia sama sekali tak berani masuk, mengingat aturan kantor ini yang tak boleh sembarangan memasuki lantai dua puluh lima ini, apalagi seorang wanita. Bisa-bisa karirnya habis tak tersisa. Ia dengan segera menutup lift.


Lohh... Kok di tinggal siih. Dasar ! Batin Mayra lalu mulai berjalan mencari ruangan yang di sebutkan resepsionist tadi.


Ia telah sampai, namun terlihat hanya sepi senyap saja. Iapun segera beralih pada ruangan lain untuk mencari keberadaan Zio. Hingga samapailah pada sebelah ujung, ruangan terakhir yang belum ia datangi.


Cklekk


Di bukanya pintu lalu berseru, " Zio kita butuh bicara !!!"


Bukan suara Zio yang menjawab, melainkan pandangan membelalak banyaknya pasang mata yang menghadiri rapat tersebut. Mereka begitu terkejut dengan kedatangan seorang wanita yang dengan beraninya berseru pada atasan monster mereka ini. Punya nyawa berapa wanita ini pikir mereka.


Seketika Mayra terperanjat, jika tak menggunakan kacamata habis sudah harga dirinya.


" Kalian dengar, kita lanjutkan rapatnya nanti." Ucap seorang lelaki yang terduduk dengan menautkan kedua tangan di atas pangkuannya, senyum menyeriangai tampak jelas terulas di wajah bak manekinnya.


Tak ada sanggahan, semua mengikuti perintah dengan mengambil langkah keluar ruangan, sudah seperti robot yang di kendalikan remot pikir Mayra.


Tak terkecuali Radit yang keluar paling akhir, sebenarnya ia ingin memberitahu kehadiran Mayra namun kehilangan timing karena rapat telah di mulai, sama sekali tak mengira Mayra akan berani mendatangi rapat yang tengah berlangsung ini. Radit menunduk lalu kembali menutup pintu.


" Ada apa ?" berdiri menyandar pada tembok sebelah jendela di belakang kursi kebesarannya, dengan tangan melipat di dada.


Dengan sekuat tenaga Mayra mengumpulkan seluruh tekad dan keberainannya menghampiri Zio dan...


Plllaakkkkk


Sebuah tamparan sekuat tenaga Mayra mendarat pada pipi Zio. Membuat si pemilik pipi begitu tersentak, sebenarnya apa yang terjadi pikirnya.


" Gila kamu Zio ! apa sih mau kamu hahh ?! brengsek ! sialan ! kurang ajar !! Maksud kamu apa hah ?! masih kurang kamu mainin perasaan aku hah ?!!!"


Kening Zio nampak berkerut, ada apa hingga Mayra mencacinya seperti ini pikirnya," Kamu kenapa ? apa yang terjadi Mayra ?" dengan mendekap kedua lengan Mayra dengan kedua tangannya.

__ADS_1


" Sekarang kamu pura-pura gak tau ? Cih..." membuang muka, air mata sudah menetes dengan derasnya di balik kacamata.


" Dasar brengsekk !! Jahat kamu Zio !!!"


" Ternyata kamu sama aja ! salah, SALAH BESAR aku pernah anggep kamu orang baik !! nyatanya kamu itu licik ! pengecut !"


" AKU BENCI KAMU SEKARANG BAHKAN SELAMANYA !!!!" pekik Mayra dengan suara lantangnya memecah keheningan dalam ruangan luas tersebut.


" Sebenarnya apa yang terjadi Mayra ?" bahkan ia sampai mengguncang bahu Mayra.


" Masih nanya kamu hah !? setelah kamu suruh Kakek dateng ngelamar ke rumah aku, bahkan sampai ngasih foto yang sama sekali aku gak tau keberadaannya. Gila kamu Zio !!" dengan mengusap air mata yang menderas dalam pipinya.


Zio tersentak, Opa ? melamar ? Astagaa dia sama sekali tak berfikir Opa akan mengambil langkah sejauh itu.


" Mayra tunggu aku bisa jelaskan semua i.."


" Stop Zio ! stop bikin aku tambah benci sama kamu dengan semua kebohongan kamu yang lain !" melepas genggaman Zio pada kedua lengannya, lalu berbalik menuju pintu untuk segera pergi dari ruang rapat tersebut.


Seketika Zio terhenyak, seburuk itukah dirinya di mata Mayra kini.


" Mayra ..." namun Mayra sudah terlanjur menghilang di balik pintu, ingin mengejar namun nalarnya masih bekerja dengan baiknya. Ia lebih memilih untuk menemui Opa di Rumah Utama.


Mayra berjalan dengan anggunnya bersama Radit di belakangnya. Membuat seluruh pegawai yang melintas berbisik membicarakan satu-satunya gadis yang berani menghadapi singa macam Wakil CEO mereka.


Mayra tak peduli, rasa sakit hatinya pada Zio lebih mendominasi hingga tak memperdulikan semua bisikan para karyawan tersebut.


Hingga suara Radit menyadarkannya, " Silahkan Nona ..." dengan membuka pintu mobil untuk mengantar Mayra.


" Tidak perlu, aku bisa naik taksi." melewati mobil menuju jalan raya.


" Ayolah Nona, saya bisa di terkam hidup-hidup jika membiarkan Nona begitu saja." dengan mengejar Mayra.


Hati Mayra semakin teriris saja mendengarnya.


Bohong... Semua perhatian kamu palsu Zio !! aku benci ! aku bahkan benci karena tak bisa membencimu sekalipun di permainkan seperti ini !!


Mayra mengabaikan Radit dan segera memasukkan diri dalam taksi yang telah berhenti. Melupakan tujuannya datang kemari untuk memberitahu Zio bahwa Bapak ingin bertemu. Radit nampak terheran melihat kepergian Mayra, pasti ada hal besar terjadi pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2