KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Rumah Nenek


__ADS_3

" Nenek...." Zio tampak meraih tubuh Nenek dan memeluknya erat, dengan lengan kiri yang masih digenggam dengan eratnya oleh Mayra dibelakangnya.


Nenek nampak menangis haru, bisa bertemu dengan cucu yang sudah keberapa purnama tak menjenguknya ini.


Mayra semakin linglung saja dibuatnya, jika mereka memang berada di dunia lain bagaimana cara kembali, dan kenapa Zio terlihat sangat mengenal Nenek ini pikirnya.


Hingga Nenek menyudahi pelukan pada cucu tersayangnya lalu menuntun mereka ke dalam rumah, Nenek bahkan sempat memberi kedipan penuh arti yang mengarah pada Mayra namun Zio segera berpaling. Enggan menjawab, membuat Nenek menampakkan raut bahagianya. Ternyata sang cucu tidak trauma pada semua wanita pikirnya dengan perasaan penuh kelegaan." Mau mandi atau makan dulu ?" tanya Nenek kemudian.


Kedua manik Mayra nampak masih sibuk menyapu seluruh ruangan yang tampak begitu klasik. Ia masih saja berpikir bahwa kini tengah berada di dunia lain.


Zio nampak menoleh pada Mayra, " Mandi atau makan ?" Mayra nampak terkaget. " Hah ?! apa ?!" ia tak akan di suruh mandi darah atau memakan cacingkan batinnya dengan raut ngeri. Hiii


" Kenapa ?" melihat raut terkejut Mayra yang amat tak wajar.


" Zio kita butuh bicara," dengan menarik Zio pada salah satu sudut ruangan hingga tak terlihat oleh pandangan Nenek.


" Ada apa ?"


" Ini dimana sih ?"


" Rumah Nenek."


" Nenek siapa ? lampir ?"


Membuat Zio tergelak seketika, " Nenekku Mayra, kamu itu kenapa tegang sekali."


" Nenek kamu ? yang bener ? masa sih ? tadi itu Nenek kamu ? aku pikir...."


Kita terdampar di dunia lain. Isshh... Konyol banget si May ... Batin Mayra dengan mengibaskan tangan dan tersenyum garing menyadari pikiran kekanakannya.


" E.. hmm .. Pikir apa ?"


" Ehehe.. Bukan apa-apa, aku mau mandi dulu." lalu melepas genggaman tangan Zio dan berlari menghambur pada Nenek.


Zio nampak mengangkat tangan yang terasa masih hangat oleh genggaman tangan Mayra, memandanginya tak percaya karena di lepas begitu saja, Hahh ?!


Mayra sedang membersihkan diri, Zio nampak terduduk dengan Nenek di ruang tamu, " Dia siapa ?


" Calon istriku, Nek."


" Calon istri ? dan bahkan kamu baru memberitahu Nenek sekarang ? apa jika bukan karena dikejar preman kamu juga tidak akan memberitahu Nenek ?" Pertanyaan merentet yang amat Zio benci, namun kini entah kenapa terasa biasa saja mungkin karena terbiasa mendengar berbagai ocehan Mayra.


" Aku lelah Nek." seperti biasa, ia akan melarikan diri jika sudah mendapat pertanyaan bertubi dari Nenek.

__ADS_1


" Dasar anak itu. Tidak pernah berubah." Nenek menggeleng pelan melihat kepergian Zio.


Zio nampak melenggang pada kamarnya. Kamar yang di tempatinya dua puluh tahun silam masih tertata dengan rapinya, bahkan tak ada yang berubah ataupun bergeser sedikitpun.


Mayra nampak telah selesai mandi, keluar dengan piayama dari Nenek dengan handuk tersampir di kepala menutupi rambut basahnya, Ia nampak terlonjak kaget melihat sosok Zio sedang berdiri di depan kamar mandi yang sebenarnya memandangi foto masa kecilnya terlampir indah di dinding.


" Zio kamu ngintipin aku ya ?!" dengan tangan menyilang di dada, menatap waspada.


" Tidak. Kenapa mandi di sini ? inikan kamarku."


" Hah ? kaya gini kamar kamu ?" memandangi kamar dengan gaya klasik persis seperti di ruang tamu di lantai satu.


" Semua ini, memang di desain oleh almarhum Kakek." seolah menjawab pertanyaan tak terucap Mayra.


Lalu menarik handuk yang tersampir di kepala Mayra, " Heiii !" membuat si empunya memekik seketika. " Aku mau mandi." jawabnya santai lalu menutup pintu kamar mandi.


" Dasarr manekin nyebelin !"


" Aku dengar. Rupanya aku harus memberi hukuman tegas agar kamu tidak bicara sembarangan." suaranya menggema di balik pintu kamar mandi.


" Nggak takut tuh ?!" ledek Mayra, dan iapun berlalu menuju ruang makan yang telah terdapat hidangan dengan aroma membuai cacing dalam perutnya.


" Wahh .. Harumnya.. Pasti enak." ucapnya setelah mendekat pada meja makan, melihat Nenek yang sibuk menata piring juga sendok. Nampak sangat antusias dengan kedatangan sang cucu meski di tengah malam buta.


" Makasih Nek, jadi ngerepotin."


" Tidak.." tersenyum tulus dengan mengelus lembut punggung Mayra.


" Ayo dimakan."


" Tidak menunggu Zio ?" dengan menggerakkan jari mengarah pada kamar Zio dan makanan bergantian.


Nenek nampak semakin jelas mengulas senyum, Zio telah menemukan pendamping yang tepat pikirnya, " Tak apa, makanlah ..."


" Ah ... Nenek tau aja, dia emang suka gitu Nek susah makannya." lalu menampakkan deretan gigi ratanya, dan segera mengambil nasi goreng yang terlihat begitu menggugah selera. Ia nampak makan dengan lahapnya, melupakan segala ketakutan yang di alaminya di hutan tadi. Membuat Nenek ikut terbawa, hingga terlihat sesekali tertawa dengan ocehan Mayra.


" Ohh.. Iya Nek, yang Kakek-kakek tadi siapa ? ko bajunya kaya orang mo main drama kolosal aja si ?"


" Ooh .. Mang Oleh ?"


" Hah ? tapi tadi ga bawa odading deh kayanya Nek." timbal Mayra dengan wajah cengonya.


" Apa itu ?"

__ADS_1


" Itu odading mang oleh Nenek masa ga tau sii ?"


Nenek menampakkan raut bingungnya, sebenarnya apa yang di ucap Mayra ini. Ia yang setiap harinya hanya membaca buku dan mengawasi para pekerja di samping rumah sama sekali tak tahu tentang kondisi dunia luar, memang menutup diri lebih tepatnya.


Raut gamang Nenek seketika membuat Mayra tersadar bahwa kini ia tengah berada di sebuah tempat terpencil di tengah hutan, " Hehe... Emang Mang Oleh siapa Nek ?" sambil meringis, mencoba mencairkan suasana tegang yang menerpa antara ia dan Nenek.


" Ohh... Dia pengurus Rumah dan kebun Nak.."


Salahkan May ! sotoy mulu sii. Batinnya dengan mengulas senyum indah pada Nenek.


***


' Bagaimana keadaan anda Tuan ?'


" Aku tak apa."


' Para pengawal sedang dalam perjalanan Tuan.'


" Hmm."


' Dan seperti dugaan anda, ini adalah perbuatan Aldo Tuan.'


" Lalu ?"


' Ada seorang pengusaha besar yang melindunginya. Saya dalam proses mencari tahu hubungan mereka Tuan.'


Zio nampak mengernyit dan menajamkan matanya, " Siapa ?"


' Samuel Pratama.'


" Cari tahu dengan detail, tanpa celah."


' Baik Tuan.'


Tut..Tuttt..Tutt


Zio masih nampak berseteru dengan segala macam pikiran yang melintasi kepala. Pengusaha besar, Samuel Pratama ? Sebenarnya apa hubungan diantara keduanya. Apa ini juga merupakan bentuk siasat licik Aldo, mempengaruhi seorang pengusaha besar untuk merebut Mayra darinya ? Cihh ! jangan harap !


Hingga lamunannya terhenti oleh suara nyaring Mayra di balik pintu, yang menyeru agar ia segera makan agar tak sakit. Sakit karena tak makan ? konyol sekali.


Karena rasa sakitnya adalah saat bersentuhan dengan wanita, atau waktu menjelang tidur tiba. Ia bahkan lupa seperti apa rasa sakit karena tak makan itu. Karena dalam hidupnya hanya di penuhi dengan segala rutinitas kepadatan jadwal yang telah tersusun sedemikian rupa oleh sang asisten nan kompeten yang baru di teleponnya barusan.


Namun ia tetap bergegas, sebelum suara nyaring di luar semakin bertambah volume hingga menjadi auman monster mengerikan.

__ADS_1


Ia sampai bingung sendiri, sebenarnya siapa yang harusnya disebut monster di sini.


__ADS_2