
Mobil telah siap di pelataran nan luas di Rumah Nenek, Mayra meraih tangan bahkan tubuh Nenek," Mayra pulang dulu ya Nek... Nenek baik-baik ya disini sama Mang Oleh sama Bi Ning, nanti kapan-kapan Mayra akan main kesini lagi." Ucapnya penuh haru di balik bahu Nenek. Bersama dengan Nenek selama beberapa hari ini membuatnya yang memang mudah akrab dengan orang lain bisa dengan mudah menyayangi Nenek yang begitu penyayang juga sabar tersebut.
" Iyaa ... " Nenek berusaha menenangkan dengan mengelus punggung Mayra, dengan tangan kiri yang menyusut sebagian air mata yang telah meluncur bebas dalam pipinya.
Zio nampak memandang gusar pada keduanya, ia sudah sangat terlambat meeting sebenarnya dan kini malah harus melihat drama nan menguras air mata tak berguna.
Membuang waktuku saja. batinnya dengan memandangi jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya bergantian dengan Mayra.
Akhirnya Mayra melepas pelukannya pada Nenek, lalu melambaikan tangan dengan berjalan menuju mobil.
" Sudah ayo ..." Zio nampak tak sabar hingga menjejalkan Mayra dalam mobil.
" Aku pamit dulu Nek, aku sudah cek mekanisme pabrik susu Nenek. Banyak kebocoran dana dan kerugian setiap harinya, Nenek harus lebih teliti lagi mengelolanya atau mau kucarikan manager saja ?"
Nenek nampak membuang muka malas, " Kalo Nenek jalankan pabrik susu rumahan ini seperti perusahaan kamu, bukannya untung malah rugi," Nenek kembali menatap Zio, " Merugi karena seharusnya bisa menjadi manfaat, tapi malah egois memikirkan keuntungan sendiri." ucapnya dengan tersenyum lalu menepuk pundak Zio.
Berdebat dengan Nenek memanglah hal sia-sia, karena akan menjadi serangan balik yang membuat Zio selalu kalah telak. Bukan karena kelicikannya seperti saat bersama Opa, tapi karena ketulusan hati Nenek dengan segala fatwa pembenarannya.
Nenek memang termasuk orang dermawan yang terkenal di kampung ini, tak jarang ia memberi bantuan sukarela untuk warga yang membutuhkan. Bahkan jika olahan susu tak habis terjual akan selalu diberikan pada anak-anak hari itu juga. Tak memperdulikan akan merugi, karena pada kenyataannya pabrik olahan susu masih berjalan hingga kini dan dapat menanggung gaji para puluhan pekerja.
Zio melenggang meninggalkan Nenek yang sedang tersenyum membalas lambaian Mayra di balik jendela mobil. " Daaa ... Nenek ..."
" Cengeng."
" Biarin." dengan mengusap air mata dengan tisu, " Kamukan manekin, mana tau perasaan ginian." dengan mengusap ingus.
" Jorok."
" Biarin. Manekin lebih jorok ga pernah mandi."
" Heii !!"
__ADS_1
" Apa mo marah ? makanya jangan ngatain orang mulu, emang ga kesel apa dikatain. Kesel ga ? kesel ga ? kesellah masa enggak !"
Zio melongo tak percaya menatapnya, makhluk macam apa Mayra ini sebenarnya.
***
Mobil telah sampai di RD Group, Zio memang sedang terburu agar berkesempatan menghadiri meeting sebelum usai.
" Kamu pulanglah ke apartemen atau Rumah Utama jangan ke kostan apalagi nekat pulang ke rumah kamu. Berbahaya mengerti !" ucapnya pada Mayra sebelum turun dari mobil.
" Dari kemarin bahaya, bahaya muluk. Aldo anaknya manis gitu bahaya dimananya coba ?" gerutu Mayra yang terduduk di kursi belakang kemudi seorang diri. Membuat sopir melirik sekilas, namun segera menatap kejalan kembali.
" Ke Rumah Utama aja Pak," bosen banget di apartemen sendirian, mo ngapain. Mending ketemu Opa, seru. hihii
Hingga sampailah ia di rumah Opa, dengan segera turun dan berlari menuju pintu, " Assalamu'alaikum ..." salamnya nyaring memecah keheningan rumah.
" Walaikumsalam." jawaban Opa yang terdengar menggema, membuat Mayra melangkah menuju arah suara.
" Wahh Opa lagi sibuk ya ? Mayra ganggu ya Opa ?" ucapnya setelah berhasil menemukan Opa yang tengah sibuk dengan berbagai dokumen di ruang keluarga.
" Bisa dong. Banyak banget Opa," dengan memilah-milah dokumen dan menyatukan sesuai logo, seperti perintah Opa.
" Iya ... Tadi Opa sedang tidak ada pekerjaan jadi mengecek beberapa aset. Kan sebentar lagi akan serah terima jabatan."
" Dengan siapa Opa ?"
" Tentu saja Zio, kalau sudah menikah Opa akan memberinya jabatan CEO dan akan Opa percayakan mengelola semua aset. Opa akan pensiun. Ha ha ha .." tawa Opa riang gembira. Memikirkan hari kebebasan yang akhirnya tiba.
Mayra nampak menelan Saliva kepayahan, Semua ini buat Zio ? karena menikah denganku. Batinnya dengan memandang ngeri semua dokumen berisi berbagai aset, dari berbagai properti, tanah lapang, kebun teh, dan bahkan ratusan saham yang menyebar dalam berbagai bidang perusahaan. Menyeramkan.
Opa nampak mengulas senyum melihat raut gamang Mayra, biasanya seorang calon istri akan sangat senang tak terkira suaminya memiliki begitu banyak aset.Tapi Mayra malah memandang semua itu dengan raut ketakutan, bahkan tak melanjutkan membereskan dokumen.
__ADS_1
" Kenapa ?"
" Tidak Opa, aku ga pa pa..." jawabnya setelah tersadar dari lamunan lalu kembali membereskan dokumen dengan cepat, hanya menyamakan logo tak berani melihat isinya. Hingga akhirnya bisa terselesaikan dengan cepat.
" Terimakasih Mayra ..."
Hah...Apalagi ini, kemarin terimakasih dari Nenek yang menyerahkan cucunya, sekarang seorang Opa yang memberikan hartanya. Ini sungguh berat. Aku tak mampu menanggungnya lagi ...Huhuhuu
" Opa yakin kamu akan menjadi pendamping yang tepat bagi Zio. Kamu pasti tak akan membuat Opa kecewa."
Mayra hanya membalas dengan anggukkan dan senyuman penuh *p*rofesionalitasnya.
" Karena itu kamu, makanya Opa percaya. Kalian pasti bisa mengelola semua ini dengan baik."
Opa akutu orang asing, ga seharusnya Opa sepercaya itu. Aaaaa !!
" Ya udah Opa, yuk kita makan dulu ..." lalu berjalan menuju ruang makan, meninggalkan berbagai dokumen aset yang membuatnya merinding hingga pucat tak berseri.
Ia nampak makan dengan perlahan, tak terdengar gelak tawa seperti biasanya.
" Oh iya Mayra. Nanti hari Rabu Minggu depan adalah peringatan berdirinya RD Group. Bagaimana kalau dalam acara tersebut kamu dan Zio bertukar cincin. Mengganti acara Kemarin yang batal."
Hah Apa ?! emang boleh acara sepenting itu diselipin acara tunangan ?
" Tapi Opa ..."
" Tidak apa Mayra, Opa yang akan mengurus semuanya. Oh.. Ya bagaimana progres pembuatan rumahnya ?"
" Baru berjalan sekitar tiga puluh persen Opa, itu juga termasuk cepat karena pekerja dengan kuantitas dan kualitas mumpuni yang telah Zio berikan." ucapnya dengan nada senetral yang ia bisa, karena menahan segala gumpalan kemarahan karena proses pembangunan Rumah yang amat cepat bahkan diperkirakan hanya butuh waktu kurang dari tiga bulan saja. Dasar gila ! inginnya memperlambat jalan pernikahan malah ia sendiri yang dibuat takjub dengan berbagai keajaiban dari kekuasaan yang dimiliki Zio.
" Wahh ...Pasti kamu bahagia sekali kan bisa mendapatkan rumah impian ?"
__ADS_1
" Iya Opa. Mayra senang sekali .... Bahkan Mayra sampai gak bisa tidur saking bahagianya ...." ucapnya dengan senyum cerah nan bahagia. Bertolak belakang dengan hatinya yang sedang menangis tersedu karena harus benar-benar memasuki lautan yang sama sekali tak ia ketahui kedalamannya.
~