KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Satu Rupiah Membawa Berkah


__ADS_3

Zio nampak memegang laporan yang di berikan Radit tentang kegiatan Mayra akhir-akhir ini.


Ckk... Dasar gadis bodoh ! kenapa tak menghubungiku saja ! aku kan sudah bersedia membantu kapanpun ia butuh ! huhh ! Batin Zio yang merasa di sepelekan.


Radit sedang berfikir kenapa tuannya aneh sekali sedikit-sedikit tak menghubungi Mayra, lalu mencari tau tentangnya lagi. Sebenarnya apa keputusan yang di ambilnya fikirnya.


" Ayo ..." ucap Zio sembari memakai jasnya.


" Kemana tuan ?"


" Pangeran harus mencium tuan putri yang tertidur kan ?" Lalu melenggang meninggalkan Radit yang menyimpan berbagai tanda tanya di benaknya, lalu dengan segera menghampiri langkah sang Tuan.


***


Drama telah di mulai dengan sambutan dari Pak Johan yang juga turut serta menjadi sukarelawan, di luar ekspektasi acara berjalan dengan meriah bahkan terbilang sukses sejauh ini.


Hingga saat Mayra yang menjadi putri salju pingsan karena memakan apel dari nenek sihir. Datanglah seorang pangeran yang berbeda dari awal pertunjukkan, membuat penonton kasak-kusuk membicarakan ketampanan pangeran yang asli menurut mereka.


" Putri, aku akan menyelamatkanmu ... Bertahanlah.." lalu mengecup lembut kening Mayra, seketika suara gemuruh tepuk tangan memenuhi ruang pertunjukkan dalam sebuah sudut dari pasar malam tersebut.


Heyy ... Ngapain kamu ?! kan ciumnya tangan kenapa jadi di kening ?! si sengklek kemana coba ?! astagaaa !


Kemanakah Anton ? Anton sedang membersihkan sampah yang berserakan atas ancaman Zio jika tak ingin menjadi pengangguran.Hihi


Lalu Mayra yang berperan sebagai putri salju dengan balutan gaun berwarna putihnya terbangun. Berperan sesuai alur yang tertulis untuk drama tersebut.


Bergandengan dengan pangeran, berdansa di tengah para anak yang membentuk lingkaran mengelilingi mereka dengan menabur kertas glitter untuk menambah kemeriahan pertunjukkan, akhir yang begitu indah untuk drama tersebut.


Dan setelahnya adalah acara 'Suara Hati Kami' yang diisi oleh anak-anak yang membacakan puisi yang telah di tulis para Mahasiswa dengan pengarahan Mayra tentunya.


" Kami adalah sebagian yang terlupa


Dengan ingin, hidup nyaman nan bahagia


Sama sekali tak memimpi harta maupun kuasa


Tapi mengapa ruang rimbunku kau renggut jua" Toni


" Dunia kami luluh lantah

__ADS_1


Sakit, tapi memang tak berdarah


Mengharap berkah


Walau hanya satu rupiah " Lia


" Kami berjanji


Menjaga yang telah terberi


Dengan segenap nurani


Menjalani hari dengan lebih berarti." Jojo


" Thanks for teaching us about so many things


( terimakasih telah mengajari kami tentang banyak hal)


Thanks for giving us a path full of light


( terimakasih telah memberi kami jalan yang penuh dengan cahaya )


( terimakasih telah memeluk kami dengan cintamu)


Thanks my lovely Teacher


(terimakasih guruku tersayang)


We love you "


( kami mencintaimu) Suara semua anak memenuhi panggung pertunjukkan. Tepuk tangan riuh para penonton terdengar dalam ruangan tertutup tersebut.


Mayra yang terduduk di kursi terdepan di samping Zio tak kuasa menahan air mata, begitu terharu dengan suara para anak yang menggema begitu menggetarkan jiwa. Zio yang melihatnyapun mengangkat tangan memberikan saputangan yang selalu berada di saku kanan celananya pada Mayra. Mayra mengambilnya lalu menghapus bulir bening yang malah semakin menganak sungai saja. Zio pun mengelus lembut punggungnya mencoba memberi ketenangan.


" Yaa ... Mari kita mendengar kesan pesan dari pendiri 'Rumah Pelita' Nona Almayra Shadiqa, waktu dan tempat di persilahkan." ucap MC yang notabene seorang sukarelawan.


Mayra nampak menarik nafas dalam, mencoba menguatkan diri lalu berjalan menuju panggung.


" Terimakasih untuk semua partisipan serta sukarelawan yang telah begitu banyak membantu terselenggaranya acara ini. RUMAH PELITA terwujud dari sebuah kepedulian untuk menyelaraskan kesenjangan yang begitu mengiris hati saya pribadi. Bahkan kini terjadi hal yang lebih parah lagi. Semoga dengan 'Satu Rupiah Membawa Berkah' dari saudara sekalian bisa merangkul mereka dan memberi ruang untuk kehidupan yang lebih baik. Terimakasih." lalu menundukkan kepala. Tepuk tangan kembali terdengar dengan meriahnya.

__ADS_1


Acara di lanjutkan dengan nyanyian dari anak-anak lalu dokumentasi kegiatan belajar para anak hingga menampakkan berbagai kehancuran tempat tinggal mereka sebagai penghujung acara. Dan pada akhirnya acara pertunjukkanpun di tutup dengan tepuk tangan riuh para penonton.


Para Hadirin satu-persatu telah meninggalkan ruang pertunjukkan, dengan menyisihkan sebagian rupiah mereka dalam kotak amal untuk berdonasi kepada para anak kurang beruntung tersebut.


" Wahh May... Banyak banget yang donasi... bahkan melebihi ekspektasi kita !!" seru Rindi menghampiri Mayra dengan membawa laptopnya, menunjukkan jumlah yang terus bertambah dalam rekening khusus untuk penggalangan dana ini.


Karena drama yang di tayangkan live di social media, membuat para donatur lebih mudah dalam memberikan sumbangan untuk Rumah Pelita.


" Wahh iyaa... Yeeee" sembari bertepuk tangan kecil.


" Ehh iya, ngapain dia kesini ?" dengan menatap kesal pada Zio bergantian dengan Radit.


Berani sekali ! batin Zio nampak geram dengan perlakuan Rindi.


Uda bener ngejauh, malah dateng jadi pangeran pula, bener-bener plin-plan !! Rutuk Rindi dalam hatinya.


Mayra yang tahu jika Rindi tak begitu menyukai Ziopun memaklumi, lalu menggiring Rindi masuk ruang ganti untuk menemui anak-anak.


" Waahhh ... Kalian hebat bangett ... Ka May bangga ..." ucap Mayra dengan menampakkan rekah bahagianya. Yang disambut dengan anggukkan kepala dengan mata penuh binar khas anak-anak.


***


Zio memerintahkan Radit untuk mengurus segala legalisasi tanah tempat asal mereka, hingga jaminan pendidikan untuk anak-anak tersebut hingga ke jenjang yang lebih lanjut.


Raditpun segera bergegas untuk mengurus semuanya malam itu juga, untungnya ia tak sempat bertemu Tika yang sibuk mendadani anak-anak dan mengurus perkostuman. Jika bertemu entah kehebohan apa yang akan di perbuat Tika.


Zio nampak berjalan ke dalam ruang ganti menyusul Mayra masih dengan pengawalan dua bodyguard di belakangnya, membuat para sukarelawan yang masih berada di tempat pertunjukkan mempertanyakan siapakah sosok yang menjadi pangeran tersebut.


Zio memang tak di kenal masyarakat. Karena ia yang sangat membenci kebisingan juga keramaian hingga tak pernah sekalipun menunjukkan diri di layar televisi maupun social media. Hanya para kalangan atas yang mengetahui seberapa eksistensi Zio begitu berpengaruh dalam berbagai aspek usaha.


" Mayra, kita harus bicara ..." ucapnya dengan menarik pergelangan tangan Mayra.


Mayra hanya mendelik, menatap penuh curiga tentang apa yang akan di bicarakan Zio padanya.


Zio segera menarik Mayra untuk mengikutinya, mencari tempat sepi di tengah keramaian orang yang bersuka cita menyusuri pasar malam tersebut.


Hingga sampailah mereka di sebuah bangku kosong di bawah pohon rindang, dengan suasana purnama yang nampak begitu romantisnya.


Mayra dan Zio terduduk bersebelahan, hening seketika. Harus memulai kata dari mana fikir Zio. Padahal sebelum menemui Mayra ia sudah meyakinkan diri, untuk jujur memberitahu Mayra tentang traumanya agar ia mau membantu untuk penyembuhannya. Namun kini lidahnya terasa kelu untuk mengucap itu semua, mungkin karena sang hati yang tak rela jika Mayra yang malah akan membencinya jika mengetahui tentang trauma dalam dirinya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2