
" Apa anda tidak penasaran dengan keadaan tuan ?"
" Apa sekarang itu penting ?"
" Mengapa anda meninggalkan Tuan ?" lolos juga pertanyaan tersebut dari mulut Radit.
" Buat apa ? buat apa aku di samping tuanmu kalo yang di cintainya wanita lain ? kamu pasti juga tau ini kan ?"
Radit nampak menghela nafas, pandangannya beralih pada sang putri yang masih asyik bermain pasir dengan Tika. Tika nampak menoleh dan di balas lambaian oleh Mayra.
Tapi entah kenapa fellengku kuat sekali tentang anda nona. Jika saja anda lebih berani mendekatinya mungkin ia akan luluh. Batin Radit lalu menghembuskan nafasnya kasar.
" Bersama dengan Zio adalah suatu kemustahilan dalam hidupku Radit. Perpisahan adalah keputusan terbaik dibanding aku harus merasakan hal yang menyedihkan bahkan lebih dari sekarang."
" Kamu tau ? aku bahkan sudah berkali-kali kehilangan rasa yang namanya cinta itu. Dan semuanya menyakitkan. Lalu apa aku harus menjadi duri dalam daging dan mengganggu hubungan orang lain juga ? apalagi perbedaan status sudah begitu membentang, bahkan aku akan kalah sebelum berperang Radit." Mayra menghela nafas sedalam-dalamnya.
Namun Radit hanya bungkam, sama sekali tak bisa berkutik dengan ucapan Mayra. Sedikit banyak ia memahami pperasaan Mayra yang takut jatuh cinta, karena ia juga berada di posisi yang sama kini. Memulai cinta dengan berbagai kesenjangan apalagi ia tahu jika sang tuan hanya memanfaatkan Mayra, membuat Radit bungkam dengan semua kekacauan yang di perbuat Tuannya setelah perpisahan dengan Mayra.
Dari bekerja tiada henti, berangkat pagi pulang tengah malam dan begitu seterusnya. Melemburkan para karyawan selama seminggu penuh. Bekerja keras bagai kuda pecut agar tak selalu teringat dengan Mayra. Tak ingat makan apalagi sekedar mengurus diri, dalam otaknya hanya terlintas kelebatan indah bersama Mayra jika tak bekerja keras, membuatnya begitu tersiksa. Kehilangan seseorang, apalagi wanita yang begitu dekat dengannya yang bahkan tidak pernah di lakukannya dalam tiga puluh satu tahun hidupnya ternyata begitu meninggalkan bekas yang tak terlupa.
Radit memandang Mayra sekilas, merasa kasihan. Seharusnya tuannya membuka mata bahwa telah ada gadis baik hati yang begitu tulus mencintainya seperti Mayra, namun malah di siakan dan masih saja memikirkan cinta pertama yang belum tentu tulus mencintainya.
Sungguh anda akan menyesal tuan. Batin Radit dengan pandangan beralih pada sang putri.
" Dia wanita baik Radit..." Mayra mengikuti arah pandangan Radit. " Hanya kadang mulutnya sedikit tak terkondisikan." dengan tersenyum kecil, " Tapi dia adalah seseorang yang tulus menyayangi, bahkan padaku yang hanya seorang sahabat." Lalu memandang Radit dengan penuh arti.
__ADS_1
Aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kalian. Batin Mayra lalu beranjak dan memanggil Aurora dan Tika. Karena hari sudah mulai menggelap kini.
Tika dan Aurora nampak mendekat, Mayra langsung meraih Aurora dalam gendongannya dan berjalan terlebih dahulu. Meninggalkan kedua orang yang begitu canggung untuk memulai kata, bahkan Tika yang biasa cerewet bisa terbawa suasana hening karena aura mencekam dari Radit.
" Terimakasih." Radit membuka suara.
Tika yang nampak terkejutpun reflek memandangi mata elang Radit. Mereka terdiam dalam hening dengan posisi saling pandang selama beberapa detik.
Astagaa bang ... Munduran dong, gantengnya kelewatann ... Batin Tika dengan debaran jantung yang sudah tak terkondisikan. Semu merah telah nampak menghiasi wajahnya kini, namun karena hari yang telah gelap membuat Radit tak melihatnya.
" Iiiya.. Aku seneng kok bisa main sama Aurora kaya gini." ucap Tika setelah menetralkan semua debaran yang bergelut dalam dadanya.
Radit nampak mengangguk, ia mulai berfikir juga kenapa gadis ini begitu baik kepada putrinya apalagi ucapan Mayra padanya yang penuh arti tadi. Namun ia segera menampik segala perasaan itu karena mungkin Tika memang orang yang setulus Mayra pikirnya.
Mereka berpisah setelah membersihkan Aurora dan mengganti bajunya. Sempat Radit menawarkan tumpangan namun karena Tika mengendarai motor sendiri jadi ia tak menerimanya.
" Yee.. Mana tau gue kalo Radit itu abang dugan elu." ucap Mayra dengan membuang muka.
" Apa ? jadi namanya Radit ? wahh ... Namanya aja keren pantesan orangnya juga kerenn hahha..." dengan binar bahagia, akhirnya ia bisa mengetahui nama calon suami masa depannya pikirnya.
" Dihh... Lo tau ga tuh siapa Radit ?"
" Emang siapa ?"
" A ssisten Pri ba di ZIO ..." ucap Mayra dengan penekanan pada nama Zio.
__ADS_1
" Whattt ?? sereously ?"
" Hmm.. "
" Astagaa... Beneran keknya dunia cuma selebar kolor."
Mayra menggeleng benar-benar mulut Tika ini, bagaimana ia bisa bersanding dengan Radit dengan mulut yang seperti itu pikirnya." Daun kelor Tika ! udahh ahh tu ambil motornya buruan udah malem nihh !!" ucapnya dengan mendorong tubuh Tika.
" Dihh.. Timbang beda e doang, pake treak lu May ...tck tck tckk.." lalu melenggang mengambil motor dalam barisan parkiran.
***
" Rin, mending kamu pikirin lagi deh buat resaign ... Tante udah ga sanggup urusin hotel sendirian. Mana banyak banget terjadi kebocoran dana. Haduhh ... Tolongin Tante dong Rin." Tante Farah nampak memohon pada Rindi. Kerena kondisi hotel semakin memburuk saja kini, membuat adik dari Mamanya itu merasa tak sanggup mengatasinya seorang diri.
" Tapi Tann... Rindi mau meningkatkan kompetensi dulu biar lebih siap lagi ngadepin para bahawan." Rindi masih tampak bimbang dengan langkah mana yang harus ia tuju.
" Udahlah Rin... Kemampuan kamu sekarang udah lebih dari cukup buat bantuin Tante di hotel." Tante Farah nampak beranjak dari meja kerjanya yang terdapat tumpukan dokumen yang di kerjakan bersama Rindi di weekend ini, melenggang menuju dapur untuk membuat secangkir kopi. Ia nampak begitu lelah dengan segala dokumen yang harus di kerjakan bahkan di hari libur ini.
" Tante kasih waktu sampe minggu depan." ucap Tante Farah dengan berjalan mengarah pada ruang makan apartemen minimalis nan elegan tempat ia dan Rindi tinggal tersebut. Tante Farah meletakkan kedua cangkir berisi kopi lalu terduduk dan perlahan menyesapnya.
" Tapi Tan..." Rindi nampak masih belum siap, dengan langkah gontai ia menghampiri sang Tante mengambil duduk di sebrangnya.
" Gak ada tapi lagi Rin. Kondisi hotel bener-bener parah, kamu harus segera memperkenalkan diri pada media dan mencari solusi terbaik untuk hotel kita Rin."
" Rindi bakal berusaha cari jalan terbaik buat hotel, tapi tante harus janji buat gak publish berita apapun tentang Rindi di media sampe Rindi siap." pandangannya nampak tajam dan penuh keyakinan, hal yang sama sekali tak di miliki sang Tante. Hingga para bawahan seperti meremehkannya.
__ADS_1
" Okeyy..." Tante Farah setuju, ia menyesap kembali kopinya hingga habis lalu kembali pada meja kerja dengan berbagai tumpukan dokumen yang begitu memusingkan kepala.
Rindi nampak menatap lurus dengan kedua tangan yang merasai hangatnya kopi dalam genggamannya. Pikirannya berkelana dengan berbagai hal yang begitu sulit untuk tertebak.