KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Fakta Mengejutkan


__ADS_3

Papa Ardhi kembali, " Ada apa Mas ?" Tanya Mama Rena.


" Zio hilang ingatan."


Mama Rena tertegun, " Dia lupa Mayra ?" Dengan hati-hati ia bertanya. Papa Ardhi terlihat mengangguk.


Kalista terlihat menarik ujung bibir, tujuannya memisahkan Zio dan Mayra akhirnya tercapai. Ia bisa memastikan, betapa menderitanya Mayra saat ini.


Haa ... Kasihan sekali.


" Kalista ..."


" Ya, Uncle ..." Kalista terkesiap seketika.


" Tolong panggilkan Shanon."


What ? Oh, i see... Yeahh. I am winner !


" Tentu ..." Jawabnya dengan seulas senyum penuh kemenangan.


***


Aldo telah bersiap untuk melihat keadaan Zio, meski Mama Linda selalu melarang namun tekadnya untuk bertanggung jawab terasa kian membelenggu setiap harinya. Hingga kini memutuskan untuk meminta maaf secara langsung, mengakui bahwa ia sungguhlah tak sengaja. Bersedia menerima apapun konsekuensinya. Kerena ini adalah kesalahannya. Sangat salah meski si korban adalah musuh bebuyutan juga rival baginya sekalipun.


Ia telah sampai dengan Mama Linda yang mengiringi di belakang, tak lupa para anak buah untuk memastikan agar keadaan sang tuan sentiasa kondusif.


" Mau apa Anda ?"


" Melihat keadaan Zio ..." Aldo menatap nanar kaca persegi pada pintu, sekelebat terlihat Zio yang masih terbaring tak berdaya.


" Tidak bisa."


" Saya hanya ingin meminta maaf ..." Tatapannya terlihat mengiba pada penjaga.


" Maaf. Tetap tidak bisa."


" Al ... Nanti saja kalo keadaannya sudah membaik kita kemari lagi ya Nak ?" Bujuk Mama Linda.


Aldo masih terlihat keukeuh pada pendiriannya, tak berpindah atau bergeser sedikitpun. Diam tak bergeming oleh bujukan Mama Linda.


Papa Ardhi tiba setelah melaksanakan sholat isya' bersama Mama Rena. Menatap heran pada pemuda yang berdiri berhadapan dengan penjaga di depan pintu ruang rawat Zio. Dengan segera ia mendekat.

__ADS_1


" Ada apa ini ?"


Suara bariton tersebut sontak membuat Mama Linda dan Aldo menoleh, dan betapa terkejut Mama Linda menyadari siapa sosok pria paruh baya di hadapannya ini. Sama sekali tak berubah garis wajahnya, suaranya, bahkan wangi maskulin dalam dirinya. Seketika bulir bening membasahi pipi, menutup mulut tak percaya dengan apa yang ia lihat kini.


Astaga ... Dia Mas Ardhi ...


" Mama Kenapa ?" Aldo segera menghampiri sang Mama yang terlihat terhuyung setelah melihat Papa Ardhi.


Papa Ardhi tertegun sesaat, matanya membola seketika. Sangat tidak menyangka akan dipertemukan kembali dengan wanita yang setengah mati ia kubur dalam diam, karena merasa amat bersalah pada sang istri.


" Mas kenal ?" Tanya Mama Rena dengan suara serendah mungkin, melihat gelagat aneh yang tak biasanya ditunjukkan sang Kakak.


" Ng.. Nggak.. Nggaklah Ren." Papa Ardhi tampak melengos. Membuat kedua alis Mama Rena kian bertaut.


Pasti ada sesuatu.


" Ma ... Mama Kenapa Ma ? Mama sakit ?" Aldo membimbing Mama agar duduk dalam bangku ruang tunggu pasien.


" Aldo ... Ada apa kamu kesini ? Dan itu tangan kamu kenapa ?" Tanya Mama Rena setelah menghampiri Aldo.


" Maaf Tan ... Sebenernya Aldo kesini buat ..." Ia tampak ragu untuk mengakui kesalahan di hadapan mantan calon mertuanya tersebut. Lalu kembali menengok pada sang Mama yang terdiam menundukkan kepala, " Ma ... Aldo tinggal sebentar gak pa pa ?" Mama Linda terlihat mengangguk.


" Tan ... Sebenernya ... Sebenernya ... Aldo yang ..."


" Kamu yang putusin Kalista ?" Mama Rena sembari berjalan mengikuti langkah Aldo yang mendekat pada Papa Ardhi.


" Bukan Tan... Tapi, Aldo yang nggak sengaja menabrak Zio." Ucap Aldo dengan suara lemah juga wajah menunduk.


Pllaaakkkk


" KURANG AJAR ! BERANINYA KAMU !!!" Mama Rena segera menghentikan tangan Papa Ardhi, " Udah Mas. Ini Rumah Sakit. Sabar ..." Ujarnya menenangkan.


" Dasar begajulan kurang ajar ! Tidak dididik dengan benar ! Kamu tau karena kecerobohan kamu ! Anak saya hampir saja-"


" CUKUP !!!" pekik Mama Linda yang tak kuasa mendengar cacian untuk sang Putra. Ia tampak berjalan mendekat, " Bisa kita berbicara sebentar Bapak Ardhi Wijaya yang terhormat ?!" Lalu segera berbalik mengambil langkah dengan gumpalan kemarahan yang kian membakar relung hati.


Papa Ardhi segera mengikuti setelah mendapat isyarat mata dari Mama Rena.


" Jadi ... Kamu tidak sengaja mengebut di jalan umum sehingga menabrak Zio lalu kemari ingin meminta maaf begitu ?" Mama Rena kembali berbicara pada Aldo.


" I.. Iya.. Tan ..."

__ADS_1


" Hmm.. Tapi Zio masih belum sadarkan diri. Kamu boleh kembali nanti. Biar Zio yang putuskan kamu bersalah atau tidak." Sungguh Mama Rena hanya berusaha menengahi masalah pelik ini. Aldo terdiam dengan tatapan yang amat sulit untuk di artikan.


***


Plaakkk


" Tega kamu Mas !"


Plakkk


" Ini untuk kepergian kamu !!!"


Plakkk


" Ini untuk penghinaan pada anak kandung kamu sendiri !!!"


" Tega kamu Mas !!! Kejam !" Mama Linda semakin tersedu.


Papa Ardhi tertegun sesaat.


Apa ? Anak kandung ? Anakku ?


" Apa maksudmu ? jangan mengada-ada Mel !"


" Mengada-ada ?! silahkan lakukan tes DNA kalau Mas gak percaya !"


Papa Ardhi terlihat menonjok tembok tak berdosa, frustasi dengan segala hal yang ia kubur dalam malah mengambang pada seluruh permukaan.


" Kenapa ? apa yang ada di pikiran Mas adalah Ziovano seorang ?! sampai-sampai Mas melupakan anak kandung kita ?!" Mama Linda memekik tak percaya.


Papa Ardhi menghela napas, mengambil suara serendah mungkin untuk menghadapi wanita di hadapannya, " Bukan ... Bukan itu maksudku Mel. Kata Papamu Anak kita sudah tiada. Tapi sekarang kamu bilang dia anak kita ? aku gak percaya ..."


" Asal Mas tau ! Papa memang memerintahkan Mang Oji untuk membunuh Aldo. Karena membenci kamu yang tidak bertanggung jawab meninggalkan aku dan dan Aldo seorang diri." Mama Linda menghela napas sejenak, " Tapi untunglah Mang Oji membawa Aldo pergi, jauh dari Papa dan menitipkannya pada panti asuhan di Ibu Kota. Hingga dia, dengan tekadnya bisa menemukan aku ibu kandungnya."


Papa Ardhi bagai diserbu Guntur demi guntur yang tiada henti mengoyak hatinya, rahasia yang ia kira terkubur sangat dalam. Ternyata kini, muncul dengan tanpa meng-aba. Kacau. Ia sangat kacau.


Belum lagi kenyataan tentang Aldolah si penabrak sang Putra tercintanya, dan itu berarti mereka saudara yang saling menyakiti. Lalu bagaimana ? siapakah yang harus ia bela kini ? Putra tercinta atau Putra yang tak ia ketahui keberadaannya ?


Kenapa ... Kenapa semua menjadi serumit ini...


" Aku tau Mas, dia anak tercinta kamu. Sampai kamu lebih memilih meninggalkanku untuk bersama mereka. Tapi kamu pikir apa itu adil untuk Aldo ?! dia juga anak kamu ! dia darah daging kamu ! dia juga berhak atas kamu bukan hanya Ziovano ! aku tidak menuntut pengakuan kamu Mas ! tapi cukup jangan tangkap Aldo. Berikan aku waktu untuk menyayanginya. Membalas 23 tahun yang ia lewati dengan merana. Dia juga tidak sengaja melakukanya Mas. Tolong sekali ini pahami dia. Sekali saja dalam seumur hidupmu, Tolong ... Aku mohon ... Berikan anakmu kebebasan." Papa Ardhi termenung, memikirkan setiap kata yang Mama Linda ucapkan.

__ADS_1


Naasnya, semua pembicaraan mereka terdengar oleh Aldo, yang terburu mengejar sang Mama ketika selesai berbicara dengan Mama Rena. Ia menggusar rambut asal di balik tembok dengan terduduk meringkuk, sangat shock mengetahui fakta mengejutkan yang sama sekali tak pernah ia duga selama ini.


__ADS_2