KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Pilihan


__ADS_3

Mayra terhenyak beberapa saat, hingga ia mulai tersadar dan mengedip-ngedipkan mata tak percaya.


" Anda sudah keterlaluan Nona." ucap pengawal dengan menarik lengan Kalista menjauhi Mayra.


" Diam ! lepasin !!"


" Tidak."


" Kal, udah." Shanon mulai tersadar dari lamunan dan segera menenangkan Kalista, sungguh tak menyangka Kalista berani melakukan hal senekat itu di depan umum.


Rindi dan Tika sudah sangat bersungut, akan beranjak memberi pelajaran pada Kalista namun segera tertahan dengan genggaman erat tangan Mayra. Ia nampak mengangguk memandangi sahabatnya bergantian. Mengambil nafas panjang, lalu berdiri.


" Terserah dengan semua ucapanmu. Kamu pikir aku sebahagia itu bisa menarik perhatian keduanya. Enggak ! bicara sendiri dengan mereka. Karena mereka yang mendekat, bukan aku yang menggoda."


" Gak usah besar kepala ya Lo !" Kalista nampak kembali naik pitam, namun segera mendapat sebuah ide cemerlang ketika terpikir tentang Shanon. "Hehh ..." Kalista nampak menyeringai memandang Shanon lalu Mayra dengan tatapan mengejek, " Lo tau siapa dia ? dia adalah wanita yang selalu mendapat 'hadiah' dari Kak Zio setiap tahunnya, tepat di hari spesialnya. Cuma butuh sedikit waktu, buat dia mengambil alih semuanya dari Putri butut kaya elo !"


Mayra terhenyak, nafasnya terasa tercekat tak mampu lolos dari tenggorokan. Ia bagai terdorong pada ruang hampa dengan timpaan batu yang begitu menyesakkan dada. Ya. Dia wanita yang Zio cintai, semua itu wajar saja dilakukan. Batinnya sekuat tenaga menguatkan hati.


Dengan menelan segala kekecewaan ia berusaha tetap menegakkan kepala lalu menjawab Kalista, " Silahkan. Silahkan ambil Zio dariku jika bisa." Entah keberanian darimana, mungkin dari fakta yang diucap Kalista. Ia nampak sangat geram di permalukan seperti ini, bahkan banyak kasak-kusuk yang begitu mengusik telinga yang pasti membicarakan ia dan Kalista kini.


" Sombong sekali. Kita lihat saja, sampai Opa membuka mata dan Kak Zio menyadari kecantikan juga pesona Shanon. Lo bakalan dibuang ! kaya sampah gak berguna ! iuwhh !" dengan menggerakkan semua jari dalam tangan, seolah membuang debu.


Hati Mayra terasa mencelos mendengar hinaan Kalista pada dirinya, yang mungkin memang akan terjadi akhirnya. Namun dengan segera ia menatap Kalista " Kubilang silahkan !" pandangannya menantang, " Mungkin kamu tidak tahu ! bahwa yang cantik, akan selalu kalah dari yang menarik !" mengakhiri kalimat dengan sorot tajam menatap Kalista lalu Shanon, yang langsung mengalihkan pandangan bahkan menunduk.


Ia nampak berjalan beberapa langkah, lalu kembali menengok pada Kalista. " Oh, ya... Bereskan itu !" menunjuk pada uang yang bercecer di lantai, " Atau kamu akan habis oleh Kakak Sepupumu sendiri." ucapnya dengan nada penuh ancaman, lalu beralih pada kedua sahabat yang menonton perdebatan tersebut dengan terbengong. " Come on girls !" ajaknya kemudian.


Kalista nampak menajamkan mata, hingga mendecih kesal melihat kepergian Mayra dan para sahabatnya juga kedua pengawal yang mengiringinya. Kurrrang ajar !!


...----------------...


" Wahh.. May .. ga nyangka gue dapet darimana bahasa gituan ? Lo liat ga tadi mukanya kocak banget...Ahahhhah..."


Mayra hanya terdiam, sama sekali tak menggubris segala ucapan melantur Tika yang entah sudah sampai mana. Rindi nampak tak nyaman sendiri, pasalnya sedari tadi ponselnya terus saja berbunyi, namun di acuhkan karena melihat perdebatan sang sahabat.


" Bentar ya gue angkat telfon dulu." ucapnya pada akhirnya. Mayra nampak mengangguk mengerti.

__ADS_1


' Kamu dimana sih Rin ?'


" Makan siang sebentar, ada apa ?"


' Mama sudah sampai bandara, jemput Mama ya sayang ?'


" Whatt ? kenapa mendadak pulang ? ada apa ?" ia nampak menggaruk pelipis, merasa sangat janggal dengan kepulangan mendadak sang Mama. " Rindi ga bisa, nanti dijemput sopir aja."


' Heii, ini Mama loh Rin ? kamu saja Mama akan menunggu.'


Rindi tampak mendesah kesal, " Okeyy !" Mama benar-benar keras kepala.


Rindi segera kembali dan berpamitan pada Mayra juga Tika, sebenarnya ingin menemani Mayra ditengah kehancuran hatinya. Namun, keadaan sungguh tak mendukungnya. " So sorry, May.." ucapnya sebelum pergi.


" It's okey Rin. i'am fine."


But not. Really not ! batin Mayra menjerit.


Tikapun harus pulang ke Butik, hingga tinggallah Mayra sendiri. Di dalam mobil ia nampak terdiam tak bergeming. Sekalipun mengetahui jika Zio memang mencintai Shanon. Namun fakta tentang perhatian Zio pada Shanon sungguh mengusik hatinya, terasa panas ingin marah, kesal. Sungguh perasaan cemburu yang sia-sia. Karena pada akhirnya, ia akan terbuang seperti sampah menjijikkan seperti ucapan Kalista. Seketika lelehan airmata tak dapat ia bendung, mengalir perlahan hingga menderas mengingat segala kelebatan kenangan indahnya dengan Zio, hinaan Kalista, bayangan Shanon. Penghianatan Aldo. Semua berkumpul sampai membuat hatinya terasa penuh sesak. Menyedihkan ! Menyedihkan sekali kamu Mayra ! Batinnya dengan memegangi dada dengan lelehan airmata yang mengucur dengan derasnya.


...----------------...


" Radit, bagaimana menurutmu ?" tanyanya kemudian setelah menguasai diri, lalu terduduk di sebelah Radit dengan menenggak jus jeruk di samping Laptop hingga separuh.


" Tentang ?"


" Siapa lagi," ia tampak jengah hingga membuang muka.


" Anda yang merasakan Tuan, jadi andalah yang paling tahu jawabannya."


" Kalau tahu, aku tidak akan bertanya padamu ! Bodoh !"


Radit nampak menelan Saliva perlahan, bisa gawat jika tuannya berada pada zona mood down ! semuanya bisa kacau. Sekarang saja pekerjaannya sudah terbengkalai karena di kantor Zio selalu marah tak jelas sama sekali bukan sosok Zio yang dikenalnya. Hingga memutuskan untuk lebih baik pulang dan mendinginkan kepala.


" Sebenarnya bagaimana perasaan anda Tuan ?" ia nampak mulai mengulik perasaan sang Tuan.

__ADS_1


" Entah."


" Begini Tuan, jika menurut pandangan saya. Nona Mayra tidak mau menikah dengan Anda karena terganggu oleh perasaan anda untuk Nona Shanon. Hal yang wajar, karena tidak ada wanita yang rela suaminya mencintai wanita lain."


" Kau tahu sendiri hubunganku dan Shanon seperti apa. Bahkan menyentuhnyapun tak bisa kulakukan."


" Maka dari itu.Perasaan tuanlah yang menjadi jawabannya disini."


" Perasaanku ?" ia nampak menaikkan sebilah alis, menatap Radit dengan penuh tanya.


" Bagaimana jika kehilangan Nona Mayra ?"


" Kau gila ! siapa yang berani menghilangkan Mayra dari hidupku ! akan kuhajar dia sekarang juga !"


Radit memandang Zio malas, " Jawab saja Tuan. Filosofi kehilangan adalah pilihan tepat untuk anda."


" Maksudmu ?"


" Hah.. Sudahlah anda benar-benar mendapat nilai O besar perihal perasaan."


" Heii !" Zio nampak sebal sendiri, lalu terlihat merenung mengingat bagaimana perasaannya saat menjauhi Mayra dulu, " Aku merasa hampa, kosong. Sangat kesal ! dan bayangannya selalu saja menghampiriku tanpa kenal waktu. Sangat menyikasa."


" Hmm... Lalu jika Nona Shanon ?"


" Kau itu sedang apa sebenarnya ? kenapa pertanyaan yang sama untuk dua gadis berbeda !"


Radit menghela napas, mencoba bersabar menghadapi singa kutub Utara yang tengah dilanda asmara tapi tak menyadarinya tersebut. " Jawab saja Tuan. Bagaimana jika kehilangan Nona Shanon."


" Ya, pasti aku... " ia nampak mulai menyadari sesuatu, Ia sama sekali tak merasa kehilangan karena memang sama sekali tak ada kebersamaan yang bisa dikenang dengan Shanon. " Akan terluka." ucapnya kemudian.


" Oke. Jadi kesimpulannya, menurut saya perasaan untuk Nona Mayra adalah Rindu dan Nona Shanon adalah mendamba."


" Ibarat jika anda bersama Nona Mayra seperti bersama dengan seekor kelinci yang manis hingga bisa bermain sesuka hati tanpa takut terluka karena memang tak berbahaya. Dan Nona Shanon adalah merak yang cantik namun hanya bisa dipandang karena jika menyentuh akan terluka."


" Semua pilihan ada di tangan Anda. Jika memang Nona Mayra, Anda harus bisa meyakinkannya dengan menghapus semua perasaan untuk Nona Shanon." ucap Radit dengan panjang lebarnya. Ucapan yang amat melegakan baginya sebenarnya, karena akhirnya bisa tersampaikan pada sang Tuan kini.

__ADS_1


__ADS_2