
M ...Maa....Mayra !?
Ko... kok bisa ? si kucrut nikah ? what the **** here !
Rindi masih terbengong dengan segala pikiran yang berkecamuk bebas dalam kepala. Memikirkan segala kemungkinan tentang kemunculan Aldo, pernikahan ini, dan tadi apa katanya anak dari kakak Om Sam yang akan menikah ? dan itu artinya Aldo ? bagaimana bisa ? bukankah dia anak dari panti asuhan. Ia benar-benar tak habis pikir dengan semua kejadian ini.
Namun Rindi yang segera berpikir panjang. Berusaha terlihat setenang mungkin, mengirim lokasi pada Tika.
Please Tik, be smart ! please !
Ia masih berusaha melihat Mayra yang selalu saja menunduk, tak diragukan lagi dia Mayra. Astaga May.
Ia berusaha mencari celah, ingin menghubungi Zio atau Radit agar segera kemari. Namun tangan Om Sam segera menahannya, " Mau kemana ? sebentar lagi akan dimulai." ucapnya dengan tangan yang masih menahan Rindi yang telah berdiri. Sontak saja membuat Aldo bisa melihatnya, ia tampak membulatkan bola mata, begitu terkejut dengan kehadiran Rindi disini.
" Aku mau ke kamar mandi sebentar." kilah Rindi lalu melepaskan tangan Om Sam.
Aldo menatap kepergian Rindi dengan sorot nan tajamnya, lalu membisik seorang pengawal di belakangnya agar menangkap Rindi dan memberitahu Om Sam bahwa Rindi adalah sahabat Mayra. Karena penculikan ini juga termasuk dalam rencana Aldo yang di ketahui Om Sam.
Pengawal lalu menghampiri Om Sam membisikan informasi dari Aldo, Ia nampak menatap Aldo sekilas dan dijawab anggukan kepala dari Aldo. Hingga Om Sam menghela napas panjang lalu berdiri mencari keberadaan Rindi dengan rombongan pengawal. Mama nampak melihatnya sekilas, namun bisa mengerti karena adiknya adalah seorang yang sibuk mungkin ada urusan mendesak pikirnya tenang, lalu kembali menatap kedua mempelai dengan perasaan haru.
***
Rindi menengok ke kanan kiri bergantian, memastikan bahwa kini telah aman tak ada penjaga di sekitar dengan segera ia mengusap layar dengan nomor Radit di sana.
Tuttt ...Tuuut ..Tuut...
' Halo ....'
" Radit ..." Rindi terperangah saat ponselnya melayang di udara dan terpecah belah tak bersisa di lantai.
" Heii !!" dengan segera ia menoleh, memekik pada si pelaku perusak ponselnya.
__ADS_1
Prok... Prookkk ..Prookk
" Gadis yang sangat berani." ucap Om Sam dengan nada sarkastik yang cukup mampu membuat bulukuduk Rindi meremang seketika. Ia tahu siapa Om Sam, dia memang bukan orang sembarangan. Terlibat suatu kesalahan dengannya sama dengan mengantarkan nyawa, tapi ini demi sahabatnya. Masa depan sahabat yang memberinya harapan bahagia di antara berbagai luka yang ia terima sebelum bertemu Mayra.
" Anda tahu ini perbuatan kriminal ! lepaskan Mayra !" Rindi berjalan mundur perlahan Dangan Om Sam yang semakin maju untuk menangkapnya.
" Mereka saling mencintai. Mempersatukan orang yang saling mencintai bukanlah perbuatan kriminal."
" Sekarang tidak lagi. Mungkin Anda tidak tahu seberapa brengsek kelakuan keponakan Anda itu. Dia tidak pantas untu Mayra !" terpojok, Rindi telah terantuk tembok di sebelah gazebo yang berada tepat di belakang rumah megah tersebut.
" Lebih baik kamu menurut. Daripada terluka." Om Sam telah meraih tangannya dan menuntunnya untuk menuju ruang penyekapan.
" Lepaskan ! saya bisa berjalan sendiri." dengan segera ia menampik tangan Om Sam, " Gadis pintar." Bukan marah Om Sam malah menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Rindi dengan senyum penuh arti. Rindi semakin bergidik, sama sekali tak tahu hal apa yang akan ia alami setelah ini. Ia berjalan di belakang Om Sam dengan iringan pengawal yang mengelilinginya.
Kumohon ... Radit ... Zio ... Tika ... Siapapun selamatkan Mayra. Kumohon ....
***
Bapak ... Ibu ... Maafin Mayra ... Maafin Mayra karena gak bisa menjalani hidup dengan baik. Maafin Mayra karena Mayra belum jadi anak yang baik untuk Bapak sama Ibu. Maafin Mayra karena kalian gak bisa hadir dalam pernikahan yang ....
Air mata kembali menderas namun dengan segera ia usap dengan tisu di tangan kanannya. Tamu yang hadir memang tak begitu banyak, hanya beberapa kerabat jauh Mama dan Om Sam juga wali nikah yang merupakan adik dari Ibu Mayra. Karena masalah kesulitan ekonomi, mereka sekeluarga terbujuk untuk menjadi wali bagi Mayra. Cukup mengejutkan Mayra memang, tapi ucapan sang bibi juga cukup menohoknya.
" Mungkin dia adalah jodoh yang telah dipilihkan untukmu Mayra. Dari segi penampilan, kekayaan, juga perlakuan ia tak kalah dari calonmu itu. Apalagi kalian adalah sepasang kekasih sebelumnya. Terimalah dia dengan lapang dada Mayra ..." bisik Bibi yang membuat Mayra semakin menunduk tak berani menatap sekitar.
Hingga suara Pak Penghulu menyadarkannya, " Maaf Nona, bisa saya bertanya sebentar ?" Mayra hanya mengangguk tanpa menatapnya.
" Apa anda bersedia menikah dengan Tuan Aldo ?"
Seketika hati Mayra mencelos, dia ingin berteriak dan berkata tidak. Tapi, bagaimana ? apakah ia akan mati setelahnya.
" Ya ..." ucapnya dengan mengangkat wajah setelah mendapat genggaman yang begitu erat dari tangan Aldo di tangan kirinya.
__ADS_1
Tidak, Aldo sudah berubah. Dia bisa melakukan apapun yang bahkan tak akan terbayang oleh Mayra. Tapi haruskah ia menikah dengan laki-laki seperti itu ? jika dia masih Aldo dan Mayra yang dulu pernikahan ini akan menjadi pernikahan terindahnya. Tapi semua sudah berubah, bahkan Aldolah yang merubah semua keadaan ini.
Mayra harus gimana Bu ? tolong Mayra Bapak ... Ibu ...
" Baik .. Anda tidak dalam keadaan terpaksa atau di paksa ?" ucap Pak Penghulu kemudian, sebuah pertanyaan yang cukup wajar dilontarkan pada pasangan yang akan menikah. Namun, terasa begitu menyinggung nurani Aldo juga Mayra. Mereka saling bersitatap beberapa saat, lalu Mayra menggeleng setelahnya.
Sebelum akad dimulai Pak Penghulu nampak melontarkan berbagai Hak dan kewajiban bagi sepasang suami istri. Juga kiat-kiat rumah tangga sakinah, mawadah warohmah.
Pikiran Mayra semakin berlarian entah kemana, bagaimana caranya agar bisa keluar dari situasi ini. Benarkah Aldo adalah jodoh untuknya. Tapi kenapa hatinya masih saja tertuju pada Zio bahkan di saat genting seperti ini.
Bodoh Mayra bodoh !!
***
" Pak, perasaan Ibu kok ga enak terus ya dari kemarin ?" Ucap Ibu sambil menyodorkan segelas teh jahe di meja, lalu terduduk di kursi sebelah meja di teras.
" Kenapa lagi ? istighfar yang banyak Bu." lalu meminum teh jahe yang di bawakan Ibu.
" Gak tau rasanya gak enak aja, mana Bapak juga sakit gini. Rasanya kaya ngeganjel bawaannya pengen nangis Pak..."
Bapak terlihat menghela napas, ternyata bukan ia saja yang merasa tak enak hati bahkan hingga menjalar ke tubuh, tapi istrinya juga. Ia tampak termenung, hingga kelebatan angin datang menghamburkan debu di halaman Rumah.
Praanggg
Terdengar suara pecahan dari dalam Rumah, " Astaghfirullah Pak, apa itu ?" Ibu segera berlari ke dalam rumah dan mendapati pigura yang berisi foto Mayra terpecah belah berserak di lantai ruang tamu.
" Apa Bu ?" Bapak tergopoh mengejar Ibu, dan terperanjat kala ibu memegang pundaknya dengan tangan kanan menutup mulut. Lalu melihat pada pigura yang telah hancur tak berjejak.
" Pak ... Mayra ..."
" Sudah Bu, gak pa pa ... Cuma foto." Hibur Bapak, lalu mengusap pelan punggung Ibu. Meski tak dapat di pungkiri perasaannya juga sangat tak menentu saat ini.
__ADS_1