KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Rumah Baru


__ADS_3

" Kamu ternyata ..." Mayra tampak menghampiri pemilik wajah yang sekilas terlihat begitu mirip dengan seseorang yang ingin sekali ia remat menjadi remahan.


" Kenapa lama sekali mengingatku saja. Apa wajahku sepasaran itu ?"


" Nggak. Bukan gitu, agak aneh aja kan waktu itu rambutnya coklat."


" Ah, ini ?" Ia tampak menggelengkan kepala," Hanya ingin ganti suasana."


Mayra tersenyum, " Klise sekali. Padahal suasana hatimu kamu sendiri yang tentukan. Bukan masalah warna rambut."


" Manis sekali."


Mayra memcebik, " Yakin berani ?"


" Kenapa tidak ? Dia kan tidak mengingatmu sekarang." Fabio mengulas senyum penuh kemenangan.


" Kalian sama-sama menyebalkan !" Mayra mendesis sebal.


" Siapa ?"


" Tidak, bukan siapa-siapa." Lalu melambaikan tangan ketika sebuah taksi terlihat melintas.


" Hey, mau kemana ? Biar kuantar."


" Nggak, makasih." Lalu segera bergegas menghampiri taksi.


Namun, kalah cepat dengan langkah Fabio yang meminta supir taksi kembali melaju.


" Dasar ! Tidak sopan."


" Ayolah ! Setidaknya beri aku kesempatan untuk menjaga calon istri sahabatku yang dilupakan." Lalu tergelak dengan amat kencang kemudian.


Dasar beo jelek !


Mayra tampak mengambil langkah mendekati mobil, Fabio dengan gerakan kilat membukakan pintu.


" Silahkan Tuan Putri ..." Tersenyum manis kemudian.


Hi !


Mayra buru-buru menjejalkan diri dalam mobil berlambang kuda elite tersebut.


Hari telah larut dan suasana semakin terlihat sepi membuat Mayra memutuskan menerima tawaran Fabio. Jika ia macam-macam tentu Zio sekalipun tak akan tinggal diam.


Mobil berjalan normal pada awalnya, hingga akhirnya entah karena apa Fabio semakin kencang melajukan mobil membuat Mayra yang sudah setengah terbuai membelalakkan mata.


" Ada apa sih beo ! Pelan aja ! Kita gak lagi di arena balap."


" Tapi, ada yang ingin mengajak balapan, tuh ?" Menunjuk spion dalam yang memperlihatkan sorot lampu terang dengan mobil serupa namun berwarna hitam.


Seakan kembali mengulang tragedi, seketika Mayra terdiam tak bersuara. Ia amat gugup, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.


" Hey .. Ada apa ? Calm down." Fabio tampak begitu asyik meliuk-liukkan mobil ke kanan jiga kiri, tak mengizinkan yang di belakang menyalip.


" Beo. Kita bisa berhenti aja gak ?" Ucap Mayra dengan raut pucat pasi.

__ADS_1


" Hah ?" Fabio tampak menengok, lalu langsung menginjak rem.


" Kamu kenapa ?" Ia tampak menyisipkan anak rambut yang menutupi wajah Mayra.


" Aku ... Aku ..." Mayra tampak menahan gejolak ketakutan sekuat tenaga.


" Ga pa pa. Kita udah berhenti. Udah ya ? Sttt ..." Lalu membawa Mayra dalam dekapan.


Dugh !


" Buka !"


Hingga suara yang begitu keras, membuat Fabio terlonjak dan melepaskan dekapan. Lalu bergegas membuka kunci pintu.


" KELUAR !" Teriaknya setelah pintu terbuka dengan gerakan kasarnya.


Hah ? Zio ? Ko bisa ?


Dengan segera Mayra turun, lalu Fabio turut menyusul.


" Bagus sekali." Sorotnya tajam, seakan siap menusuk.


Mayra menghela napas, " Maaf Pak ..."


" Kenapa kamu meminta maaf ?" Fabio menyerobot. Tak peduli meski mendapatkan tatapan khas pemangsa dari Zio. " Inikan di luar jam kantor. Dia bukan atasan saat di luar jam kerja." Ia bicara sangat santai seolah tanpa beban.


Dasar beo cerewet ! Jangan bangunin macan jinak ini ! Kita bisa di telen mentah-mentah !!


Mayra hanya membalas senyum canggung.


" Jangan mengajarinya kebodohan yang dapat menenggelamkan dirinya sendiri FA BI O !"


" Aku hanya berbicara fakta. Oh, ya. Kemampuanmu bisa melambat juga ternyata, haha ... I'am winner bro !" Wajah sumringahnya seolah mengalir tanpa beban di antara kobaran dalam pandangan Zio pada Mayra.


Apa ? Kenapa ? Kamu bahkan berpelukan dengan wanita lain di depanku siang tadi !


Ah, dasar ! Bahkan aku yang wanita lain karena dialah calon istrimu sekarang ! Cih !


Zio menarik tangan Mayra, menyeretnya pada mobil miliknya yang berhenti tepat di belakang Fabio.


" Hei ! Dia ingin pergi denganku tau !" Pekik Fabio garang, namun nyalinya segera menciut kala Zio membunyikan klakson nan membahana. Dengan secepat kilat ia menggeser letak mobil agar Zio bisa melintas.


Dasar ! Katanya hilang ingatan. Tapi, apa semua keposesivan ini ! Labil !


Fabio yang telah kehilangan mangsa se-empuk Mayra kembali pada tujuan awal yaitu menuju sebuah Clvb ternama. Ia tampak berjoget ria dengan para kawan. Kemudian beristirahat dengan meminum blr dengan kadar alko hol tinggi. Namun ya, tak begitu mempengaruhinya karena saking terbiasa.


Hingga sepasang mata elangnya memindai seluruh pemandangan dalam Clvb. Hingga pandangannya tertuju pada seorang gadis berstelan hitam tengah terduduk diam di hadapan para lelaki hidung belang. Ia yang selalu memiliki nurani yang begitu tinggi jika di hadapkan dengan wanita pun segera menghampiri.


" Ayolah, minum saja sedikit. Ini sangat enak." Bujuk Om Sam yang sudah terlena, namun tangannya tak berhenti bertingkah usil pada kedua gadis di samping kanan kirinya.


Sial !


Namun tanpa di sangka, Fabio tampak meraih gelas dan menenggaknya hingga tak tersisa.


Rindi tampak menoleh, sedikit takjub dengan yang di lakukan Fabio untuknya.

__ADS_1


Ya ... Aku suka ekspresi itu.


" Hei ! Pak Tua ! Jangan menodai gadis suci ! Dasar gila !" Ia tampak sempoyongan, hingga jatuh pada pangkuan Rindi.


Astaga !


Rindi tampak menatap Om Sam, " Urus sendiri. Dia seperti itu karena mu." Lalu kembali bermain dengan para gadis di sampingnya.


Hah ?! Seberapa keras kadarnya sampai membuat seorang lelaki pingsan ?! Astaga !


Rindi tampak membopongnya meski sangat kepayahan, hingga berakhir meminta bantuan satpam.


***


Zio dan Mayra hanya berdiam diri. Menikmati senyap, tanpa sedikitpun suara.


" Seperti inikah dirimu ?"


" Tentang ?"


" Sudahlah, lupakan !"


" Baik."


" Kamu tidak harus bersikap formal saat di luar jam kerja." Kenapa ia jadi membenarkan ucapan Fabio, sialan !


" Saya sudah terlalu terbiasa." Lebih baik seperti ini Zio, agar aku tak lupa daratan dan dengan egois mengungkapkan segala kerinduan ini.


" Turunlah. Kita sudah sampai."


" Apa ?"


Mayra terbengong-bengong menatap bangunan mewah nan elegan yang terpampang di hadapannya.


" Kenapa ? Masuklah inikan rumahmu."


" Rumahku ?"


" Apa kamu lupa ingatan ?"


Kamu yang lupa ingatan ! Dasar !


Mayra segera mengikuti langkah Zio memasuki rumah. Melewati pintu yang menjulang dengan cat seputih susu. Bahkan mulutnya tak berhenti menganga kala menyapu sekeliling ruangan yang kesemuanya sangat sesuai dengan segala permintaannya dahulu.


Hingga kini raut takjubnya berubah penuh haru, air mata kembali akan menetes kemudian.


" Selamat datang Tuan, Nona ..." Salah seorang pelayan senior tampak menghampiri.


" Ya ... Tolong siapkan satu hidangan. Aku sedikit lapar."


" Saya. Saya bisa buatkan Pak." Seketika Mayra terkesiap.


" Kamukan Tuan Rumah. Sana bersihkan diri. Hidungku sampai tersumbat semobil denganmu."


Apa ?!

__ADS_1


" Mari saya antar Nona."


Loh ? Loh ?


__ADS_2