
Mayra berjalan dengan gontai, menyusuri lorong demi lorong Rumah Sakit dengan perasaan campur aduk. Sedih, miris, takut, bahkan benci.
Mendengar cerita Opa tentang semua kisah pilu yang di lalui Zio hanya seorang diri. Tak ada emosi yang di keluarkan Zio setelah kepergian sang Mama. Dan yang lebih parahnya si penembak mengaku hanya untuk memberi pelajaran untuk keluarga Wijaya, sangat miris. Mayra sampai tergeloyor hingga harus berpegangan pada tembok agar tak terjatuh.
Permohonan Opa untuk mendampingi Zio dan memberi cahaya dalam kehidupan kelam Zio masih terngiang-ngiang di kepalanya. Ia mengerti bahwa Zio terluka dan butuh sandaran yang bisa menguatkan dan Opa meyakini bahwa hanya Mayra yang bisa melakukannya, tapi bagaimana dengan hatinya ? siapa yang akan peduli dengan semua rasa sakitnya ? haruskah ia berkorban bahkan untuk orang yang bukan siapa-siapa baginya ?
Satu hal yang diketahui Mayra dengan pasti kini. Alasan Zio ingin menjadikannya kekasih. Karena hanya Mayralah wanita yang tak menimbulkan trauma bagi Zio. Sakit ? pasti. Siapa yang tak sakit hati jika mengetahui dirinya hanya di manfaatkan ? benci, sungguh ia benci dengan semua ketidak berdayaan dari rasa sukanya untuk Zio. Yang sedikitpun tak berkurang meski tahu telah dimanfaatkan.
Namun, hati bak seputih salju Mayra lebih memilih jalan terbaik dalam situasi ini. Memilih menjadi sandaran bagi hati yang telah begitu banyaknya dirundung luka. Memilih menjadi cahaya seterang mungkin agar Zio bahkan tak memerlukan dirinya untuk memilih jalan selanjutnya. Ya, dia memilih mendampingi Zio hingga membuat semua luka Zio berganti bahagia. Meski ia tahu, telah menceburkan diri dalam kubangan yang entah berakhir terselamatkan atau malah menjadi petaka untuk dirinya sendiri.
Ia segera meraih ponsel dalam tas mungilnya, diusapnya kontak Radit disana.
' Iya Nona.'
" Aku ingin bertemu Zio, jemput aku di Rumah Sakit." Sudah tiga hari Opa di rawat namun tak ada batang hidung Zio muncul untuk menjenguk, membuat Mayra ingin memastikan sesibuk apa sebenarnya ia.
Hening, tak ada jawaban. Nampaknya Radit sedang menimbang keputusan yang tepat, melihat kondisi sang Tuan yang amat kacau kini.
" Kenapa ? apa aku tidak boleh menemuinya ?"
' Maaf Nona, tapi Tuan ...'
" Sibuk ? tak apa, aku hanya ingin bertemu. Haruskah kubilang rindu ?"
Radit terkejut dengan ucapan Mayra di seberang telfon tersebut. Salah makan apa Nona ini pikirnya.
' Baik akan saya jemput.' sekalian melihat kondisi sang Tuan pikirnya.
" Jangan lupa bawakan es krim yang banyak ... dengan berbagai farian rasa." pura-pura sekuat baja harus menggunakan energi ekstra, dan es krimlah salah satu sumbernya bagi Mayra.
Tutt... Tuttt... Tuttt
Kening Radit nampak berkerut sambil memandangi ponsel di tangan kanannya, ada angin apa sampai Mayra berubah seagresif itu pikirnya.
__ADS_1
***
Mayra segera turun setelah mengelap bibir setelah memakan semua es krim yang di belikan Radit, bahkan Radit sampai menggeleng dia tidak akan keracunankan pikirnya.
Ternyata Zio berada di apartemennya, membuat Mayra berdecak heran Opa sedang kritis malah santai-santai di apartemen.
Radit tak menggubris, membukakan pintu hingga memperlihatkan pemandangan apartemen Zio yang sudah seperti kapal pecah. Bahkan ada berbagai jenis minuman keras di meja tamu.
" Apa yang terjadi Radit ? kok, aku merinding."
" Tuan jadi sangat frustasi karena ulah seorang wanita yang memberinya berbagai cacian beberapa waktu lalu."
Deggh
Maksudnya aku ?
Hingga sampailah keduanya di kamar, terdapat Zio yang meringkuk disudut kamar tersebut. Mayra menggerakkan mimik wajah seolah bertanya Zio kenapa, namun Radit tak menjawab dan malah menyalakan lampu. Seketika terlihat semua kehancuran kamar dengan berbagai botol minuman keras yang berserakan.
" PERGII !!!!" pekik Zio.
Cklekk
Dengan langkah perlahan Mayra mendekati Zio, bahkan airmata sudah berlinang kini. Mengingat semua cerita Opa tentang kelamnya kehidupan sendiri yang dijalani Zio.
Ia bersimpuh lalu memegang pundak Zio, Zio nampak menoleh. Bolamatanya terlihat bergetar dan membulat, " Mayra ..." Mayra mengangguk dengan derasnya airmata yang mengalir. Dengan segera Zio meraih tubuh Mayra, mendekapnya erat seolah telah menemukan kenyamanan yang selama ini sangat ia butuhkan. Zio menganggap ini semua hanya mimpi dan tak berniat untuk terbangun hingga kembali kehilangan kehangatan ini. Tangis Mayra semakin derasnya, namun tangannya tak berhenti mengusap kepala dengan rambut hitam nan lebat milik Zio.
Ziopun sama terlihat sesengukkan mungkin sedang menangis dalam dekapan dada Mayra. Meluapkan semua perasaan pilu yang selama ini hanya bisa di tahannya. Bukan Zio yang dingin dan garang, tapi Zio yang hampa juga jiwa porak poranda yang kini di lihat Mayra, sangat menyakitkan melihatnya menjadi jiwa tak berdaya seperti ini.
Hingga akhirnya Zio nampak tertidur dan Mayra meletakkan kepalanya dalam pangkuan, bau alkohol sangat menyengat tercium dari tubuh Zio. Entah sudah berapa botol di minumnya tanpa memikirkan akibat yang akan ia dapat.
Mayra mengelus lembut wajah Zio, alisnya yang tebal, hidung mancung, bibir tebal menggoda berpadu dalam garis wajah tegas, sangat tampan. Senyum tersungging dalam bibir mungil Mayra.
Cklekkk
__ADS_1
Seketika Mayra terperanjat, hingga membuang tangan asal. Merasa sangat malu dengan apa yang dipikirkannya barusan.
" Tuan tertidur ?"
" Iya.. Cepat pindahkan dia." ucap Mayra dengan memalingkan wajah, mengusir segala kecanggungan dalam dirinya sendiri.
Radit memindahkan Zio, dengan sedikit kepayahan mungkin karena proporsi tubuh yang sama bahkan Zio lebih berat karena sedang tertidur.
***
" Sebenarnya kenapa Zio sampai seperti ini Radit ?" tanya Mayra yang terduduk di sofa tamu. Ruangan apartemen nampak sudah lebih baik kini, mungkin di bereskan Radit.
" Tuan Besar dan Tuan terlibat keributan, dan inilah yang akan terjadi setelahnya."
" Maksudnya ini udah pernah terjadi ?"
" Dulu, hanya sekali. Tapi keduanya sama-sama tersakiti seperti sekarang. Hingga keadaan perlahan membaik."
" Karena alasan apa ?"
Radit menatapnya penuh selidik, " Kenapa ? aku calon istrinyakan ? jadi aku berhak tau." terpaksa, Mayra terpaksa mengucapnya.
Sorot Radit seketika berubah terkejut, kenapa Mayra berbicara seperti itu ? apa ia telah mengetahui semua pikirnya. Mungkinkah Tuan Besar telah menceritakan semua luka Zio pada Mayra ? ia terdiam beberapa saat dengan raut gamangnya.
" Aku tahu Radit, aku bahkan tahu Tuanmu ingin memanfaatkanku. Aku tak sebodoh itu, cihh..." seolah menjawab semua pertanyaan tak terucap Radit.
Radit berubah memandangi Mayra dengan sorot intensnya, menelisik ada niat apakah di balik semua ketegaran yang Mayra tampakkan.
" Kenapa ? kamu curiga ? Cihh... Aku tidak sepicik kalian tahu !!"
Membuat Radit beralih dan menelan saliva dengan sangat susah payah, merasa tertohok dengan kebenaran yang di ucap Mayra.
》》》》》
__ADS_1
Tinggalkan jejakmu dooong...
Coba komen dong, author mo tau deh gimana perasaan kalian baca karya ini ... Maukan ?? hmm hmmm ?? 😉🤗