KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Perselisihan


__ADS_3

" Hatciww !"


Mayra kembali mengusap hidung dengan tisu.


" Haattciw !!"


Ia kembali bersin untuk kesekian kalinya. Hingga Zio dan Radit tiba. Melihat keadaan Mayra yang telah pucat dengan ingus bertebaran.


" Kenapa dia ?" Zio menghentikan langkah tepat di depan meja kerja Mayra.


Radit menengoknya sekilas, " Masuk angin biasa Pak ..." Jawab Mayra dengan masih mengusapkan tisu pada hidungnya.


Zio tampak melenggang tanpa mengubah raut sedikitpun.


Dasar ! Gara-gara siapa coba ?! Manekin ngeselin !


Terang saja Mayra merasa amat dongkol, karena semalam Pak sopir tidak mengantarnya sampai kost. Melainkan entah tempat apa dan dimana. Bahkan ia harus berjalan berkilo-kilo untuk menemukan jalan raya dan menumpangi taksi setelahnya.


Nyebelin ! Tau gitu gak usah di anterin !! Hobi kok Ngerjain orang !


Hingga bunyi panggilan dari Zio menggema memenuhi ruangan senyap ini, " Baik Pak ..." Jawab Mayra lalu mengambil langkah menuju ruangan Zio.


Dengan sekuat tenaga Mayra menahan agar tidak bersin di hadapan Zio. Menarik napas panjang melepasnya kemudian berulang hingga ketiga kalinya.


" Kenapa lagi sekarang ?"


" Ti ... Tidak Pak ..."


" Mau cari alasan libur supaya bisa digaji tanpa bekerja ?"


Mayra membulatkan bola mata seketika.


Fix dia manekin terngeselin sepanjang sejarah !


" Tidak Pak !" Jawaban penuh pertahanan agar emosi tak runtuh seketika.


" Sopan sekali bicaramu." Dengan menatap Mayra dengan sorot tajam khas elang mengintai mangsa.


" Saya tidak mungkin berani melakukan itu Pak." Namun sama sekali tak mempan pada Mayra karena sudah terlalu terbiasa.

__ADS_1


Cih ! Dasar !


Zio semakin menatapnya namun, habis sudah pertahanan Mayra karena pada detik selanjutnya matanya semakin berkunang hingga pandangan menggelap dalam seketika ia terkulai pada dinginnya marmer pada ruangan kebesaran sang CEO.


" Mayra ! Jagan bercanda !" Zio sampai menepuk-nepuk pipi Mayra namun sama sekali tak ada respon bahkan keningnya terasa panas di atas rata-rata suhu normal.


" Astaga ! Dia sungguh sakit rupanya."


***


Mayra mengerjapkan mata perlahan, menyesuaikan pandangan buram yang semakin terlihat jelas. Dekorasi kamar elegan dengan paduan warna hitam putih yang amat ia kenal. Bahkan ia segera mencubit tangan untuk memastikan bahwa ini bukanlah dunia mimpi. Tapi ... Kenapa ia bisa sampai sini jika memang ini bukan mimpi ? Kepalanya semakin berdenyut nyeri.


Hingga kehadiran Zio dengan nampan yang di penuhi dengan makanan semakin mendekat ke arahnya.


" Ada apa ? Kamu lupa siapa saya ?! Dasar sekertaris merepotkan !"


Dasar ! Sebenarnya siapa di sini yang sedang di lupakan ?!


" Habiskan !" Dengan menyodorkan nampan pada Mayra yang telah bangkit dan duduk di tepi ranjang.


Mayra menelan saliva hingga terdengar oleh Zio, yang benar saja bahkan nampannya di isi dengan berbagai varian makanan yang sudah di pastikan tak akan muat masuk dalam perut mungilnya.


" Jangan mempermalukan ku dengan datang bekerja dalam keadaan kelaparan ! Dasar !"


Emang sakit woy ! Jadi gak ***** makan, gimana sih ?!


" Baik Pak." Lalu mengambil buah pisang dan menyuap dengan perlahan.


Apa dia gak ada niat pergi ya ? Jangan-jangan mau makan barengan ?


Mayra kembali melirik Zio, namun tatapannya tetap sama khas pemangsa.


" Maafkan saya Pak. Saya tidak akan mengulanginya lain kali."


" Cih ! Kemarin juga kamu mengatakan itu ! Tapi ?"


" Itukan contoh kasus berbeda Pak." Lalu semakin bersemangat memakan bubur ayam yang rasanya lumayan, sudah bisa di pastikan ini pasti hasil kerja keras Radit.


" Lalu kamu akan kembali mengulangnya saat melakukan kesalahan lainnya, begitu ?" Zio berbalik, " Tidak kreatif ! Monoton sekali hidupmu !"

__ADS_1


Dih ! Hello ?? Hidup siapa yang paling monoton disini, ha ? Hidupmu tau ?! Dasar !


***


Hingga hari-hari penuh kesibukan dengan aktifitas baru di jalani Mayra dengan penuh suka cita. Keadaannya semakin membaik setelah hari itu Zio memberikan perawatan penuh padanya. Meski melewati perdebatan yang kian sengit dengan Zio tapi Mayra menikmatinya. Setidaknya ia tidak setersiksa dulu. Memendam rindu dengan tanpa bertemu.


Meski rindu itu masih saja menggumpal karena Zio yang tak membalasnya, setidaknya ia bisa melihat sosok itu. Sosok yang selalu ia impikan menjadi sandaran meski tidak terwujud akibat ulah keadaan.


Namun perasaan tenangnya tak berjalan semulus itu, kobaran api cemburu kembali membakar hati Mayra hingga meleleh bak lava panas dari letusan gunung berapi. Kala Shanon datang berkunjung di perusahaan Zio. Bahkan langsung memeluknya erat dari belakang saat Mayra memberi salam atas kedatangan Zio dari sebuah agenda rapat.


" Sayang ?" Shanon tampak memeluk Zio erat dengan suara mendayu penuh kemesraan.


Sudah tak terkira kobaran dalam dada Mayra, bahkan ia hanya terdiam dengan pandangan menunduk. Sama sekali tak berani menatap kedua sejoli yang dalam pikirannya saling mencintai. Gemuruh hatinya kian menggema. Ia sampai menggenggam erat kedua tangan agar tak kalap dan memaki Shanon, bahwa yang sekarang yang sedang ia peluk dengan mesra adalah lelakinya. Ini sungguh menyesakkan.


Zio tampak melepas pelukan Shanon, " Jaga sikapmu."


" Kenapa ? Bukankah kita akan menikah sebentar lagi ? Mereka juga pasti memaklumi." Shanon beralih menatap Mayra, " Iya kan ? Nona sekertaris ?" Dengan senyum simpul, lebih mengarah mengejek.


Mayra menghembuskan napas kasar, lalu tersenyum secerah mentari kemudian, " Tentu saja Nona Tunangan Bapak CEO."


Dasar ! Memang apa susahnya menyebut namaku ?! Gadis sialan !


" Zio bagaimana dengan rencana pernikahan kita ?"


" Aku sibuk, urus saja sesuai keinginanmu." Lalu melenggang memasuki ruangan miliknya.


Selalu saja seperti itu. Raut kesalnya Bakan tak dapat tersembunyi kan.


Shanon menatap Mayra iba, " Bagaimana Mayra ? Sakit ? Menyedihkan."


" Biasa saja tuh."


" Jangan sombong ! Karena pasti kamu akan menangis darah saat pernikahanku dan Zio berlangsung nanti." Lalu menyeringai.


" Oh ya ? Saya harap pernikahan itu benar terjadi. Karena kalau tidak, pasti anda yang akan menangis darah."


Kurang ajar !


" Silahkan lain kali membuat janji terlebih dahulu Nona. Karena jadwal Bapak CEO sangat padat, jadi tidak ada waktu untuk bersantai dengan anda. Silahkan kembali lain waktu." Lalu tersenyum penuh profesionalitas kemudian.

__ADS_1


__ADS_2