KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Terungkap


__ADS_3

" Selamat pagi Ibu Kepala ?"


" Apa sih Do," Mayra masih tampak sibuk membereskan beberapa alat musik dalam yayasan yang telah usai di bangun, dan di tata sedemikian rupa untuk menyambut para murid menjemput mimpi mereka.


Ia tampak berbahagia, hingga terdengar senandung kecil kala sedang kembali menata suasana kelas agar menjadi nyaman.


" Lihat aku bawa apa ?" Lalu mengacungkan tangan yang berisi sebuah map biru gelap.


Mayra terlihat sumringah seketika, " Ice cream ?" Lalu menengok pada Aldo.


" O..oo Bukan tuh," dengan senyum jahilnya.


" Yahh ... Itu berkas apa ?"


Aldo menyodorkan berkas di tangannya, Mayra meraihnya lalu membukanya perlahan.


" Aaaaa !!!" Ia tampak berjingkrak saking bahagianya.


Betapa tidak, surat persetujuan ia menjadi pendiri juga pembukaan yayasan sudah di tanda tangani. Bahkan saking bahagianya ia tak membaca sampai akhir, bahwa tanda tangan Ziovano lah yang tertera di sana.


Aldo sudah siap menerima segala ocehannya ketika kembali memasukkan Zio dalam kehidupannya, namun sama sekali tak ada. Mayra hanya terlihat bahagia sembari memeluk berkas tersebut.


Dasar ! Sifat cerobohnya sama sekali tak berubah ternyata.


***


Acara pesta telah di gelar dalam sebuah gedung yang lumayan megah meski tak sekelas Hotel Wijaya. Itupun karena acara ini di hadiri para petinggi yang telah berinvestasi dalam yayasan tersebut. Jika tidak, ia akan menggelar acara sederhana dalam aula dengan hiburan para anak didik saja.


Didapuk sebagai penanggung jawab pendiri 'Yayasan Rumah Pelita' membuatnya sangatlah sibuk. Mengemban tugas berat untuk tetap bisa mengayomi para anak agar tetap tersejahterakan adalah visi yang selalu ia genggam.


Tamu undangan terlihat berdatangan. Mayra menyambut dengan senyum secerah mentari. Banyak dari para tamu undangan memandanginya tak percaya. Tampilan gadis ramah nan ceria, ternyata adalah sosok yang Sekokoh itu sampai bisa menjadi seorang penanggung jawab sebuah yayasan yang terbilang besar dengan aliran dana dari seorang Ziovano di belakangnya. Terlihat kontras, namun ternyata begitu pantas. Tutur kata penuh semangatnya juga gadis dengan berjuta energi yang seolah memberi daya pada setiap lawan bicara. Luar biasa.


Namun, tak berselang kemudian sosok demi sosok yang berdatangan membuat degup Mayra kembali menggema. Semakin dahsyat kala sosok terakhir yang selalu memenuhi kepala hadir bergandengan mesra dengan pasangannya.


Bahkan ini terasa lebih menyesakkan kala memergoki perselingkuhan Aldo dahulu. Dengan segera ia berbalik. Dengan langkah terburu mencari keberadaan Aldo.


Kenapa Al ?! Kenapa bisa ada mereka semua disini ? Aku pikir bisa hidup lebih baik, meski hanya dengan menyimpan cinta untuknya selamanya. Tapi apa semua ini Al ?!


Ia semakin melangkah, menjauh dari kerumunan para tamu undangan yang mendekat pada keluarga WIJAYA.


Kenapa aku sampai lupa siapa sebenarnya mereka ? Mayra bodoh !


Napasnya tampak tersengal, dengan pandangan berkeliling mencari Aldo di antara banyaknya tamu undangan.


" Baik ... Acara selanjutnya adalah penanda tanganan pembukaan Yayasan Rumah Pelita. Silahkan untuk para investor, pendiri, penanggungjawab, dan kepala Yayasan di persilahkan naik ke podium." Suara tenang MC sama sekali tak bisa membuat degup Mayra kembali normal, ia semakin gugup tak terkira.


Bagaimana ini ?


Hingga sebuah tangan meraihnya, menuntunnya ke atas podium. Berjajar dengan Om Sam, Pak Beni, Opa, Aldo yang tadi membawanya sampai ke atas podium, bahkan Zio yang berada tepat di sampingnya.

__ADS_1


Ia tampak menoleh pada Zio, apa kamu masih tidak mengingatku ? Lalu beralih pada Aldo yang hanya di sambut senyuman kilat darinya.


Hey jantung ... Untuk apa kamu berdebar ? dia sama sekali tak mengingatmu tahu ! rutuk Mayra dalam hati lalu bergegas bertanda tangan dan memasang senyum secerah mentari kala kilat putih menimpa wajahnya dengan silih berganti.


Mayra terlihat berada pada tempat duduk paling sudut, merenung dengan semua kejadian ini. Daftar kekesalan pada Aldo semakin bertambah saja kini.


Dasar kucrut !


" Selamat Malam ..."


Mayra tersentak, lalu menoleh " Radit ?"


" Boleh saya duduk ?"


" Duduklah. Apalagi sekarang ? Aku sama sekali tidak mengetahui jika ini adalah hasil investasi Zio, aku-"


" Tidak apa Nona."


" Lalu apa ? kamu ingin menertawakan ku ?" ucap Mayra dengan raut polosnya.


" Tidak Nona."


" Tapi, sungguh Radit aku tidak tahu apapun. Aldo bilang investornya adalah salah satu kerabatnya. Jadi aku percaya saja, dan tidak menanyainya lebih lanjut."


" Itu tidak salah Nona."


" Apa ?!" Mayra menatapnya dengan raut tak percaya.


Apa katanya Aldo ? Zio ? saudara ?


Hingga Radit menceritakan semua kejadian kala kepergian Mayra. Meski sangat terasa mustahil bagi Mayra, tapi ini sungguhlah nyata. Ia sampai tak bisa berkata-kata.


" Lalu ?"


Lalu sebenarnya untuk apa kamu kemari, ha ? ingin mengejekku ? atau memberi pelajaran karena aku pernah semena-mena padamu ? tidak kan Radit ?


Mayra memandanginya dengan perasaan gamang, gurat ketakutan melintas seketika. Ia tahu seberapa kekuasaan itu berada di atas segalanya. Bisa saja Yayasan yang baru terbangun ini terhancurkan oleh hal sesepele mood buruk mereka. Bahaya !


Radit memandang sang Tuan yang tengah bercengkerama dengan beberapa kolega sejenak. " Apa anda baik-baik saja selama ini ?"


Telat ! Dasar lamban !


" Seperti yang kamu lihat."


" Tuan juga baik-baik saja selama ini Nona." Hati Mayra mencelos sesaat.


Aku tahu Radit ! Tidak usah diperjelas. Bahkan dia terlihat sangat bahagia bisa bersanding dengan wanita yang dicintainya. Ah sudahlah Mayra ! Apa yang kamu harapkan !? Seharusnya kamu sama sekali tak menyimpan rasa untuknya sedari awal !


Mayra terlihat melengos dengan tak acuh.

__ADS_1


" Apa anda tahu ?"


" Tidak."


Tahu apalagi coba ?


" Bahwa ... Sebenarnya pelaku dibalik penembakan anda adalah ..."


Yang menembak ku ? oh, iya seharusnya ada ya ? tapi siapa ?


Kamu gak berniat membuatku mati penasaran kan Radit ?


" Siapa ?"


" Nona Kalista."


" Apa ? tapi kenapa ?"


Tentang Aldokah ? astaga Kalista !


" Tidak sampai situ, Nona Kalista jugalah otak di balik scandal yang terjadi di kantor anda. Hingga menyebabkan anda di keluarkan."


Tega sekali.


" Tapi Anda bisa lega, karena Nona Kalista telah diberi pelajaran yang setimpal."


Sangat setimpal karena baginya lebih mengerikan dibanding sebuah hotel prodeo.


Radit terdengar menghela napas panjang, " Tuan Besar ingin bertemu anda Nona." pungkasnya kemudian, mengabaikan rentetan pertanyaan Mayra tentang apa yang ia maksud dengan pelajaran setimpal.


***


" Maafkan Opa Mayra ..." Pandangan Opa nampak nanar menatap Mayra.


" Mayra tak apa Opa." Lalu menerbitkan senyum tulusnya.


" Opa tahu kamu sangat tidak baik-baik saja."


" Opa ... Mayra mengerti, semua ini demi kebaikan."


Opa terlihat menyodorkan sebuah map hitam, " Ini adalah hakmu Mayra ..."


" Tapi Opa-"


" Sudah cukup dengan kamu kehilangan Zio. Setidaknya terima ini sebagai rasa bersalah karena Opa tidak bisa mempertahankan hubungan kalian berdua."


" Opa ... Opa pasti tau kalau Mayra sama sekali gak berfikir seperti itu ..." Mayra menggenggam punggung tangan Opa yang berada di atas map hitam, " Mayra dan Zio sudah tidak memiliki hubungan apapun, Opa tidak perlu merasa bersalah atas semua kejadian ini. Mayra ikhlas." Meski tak dapat di pungkiri bulir bening meluncur seketika setelah mengucapnya, dengan segara ia menghapusnya.


Cklekk

__ADS_1


" OPA !?" mata Zio membola dengan pandangan tertuju pada tangan Opa dan Mayra.


Apa-apaan semua ini !


__ADS_2