KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Melamar


__ADS_3

Opa nampak tersenyum dengan bangganya, setelah membaca dengan seksama semua data diri Mayra dalam tangannya kini.


" Persiapkan semuanya..."


" Tapi tuan, tidakkah mendengar pendapat tuan muda terlebih dahulu ?"


" Sudahlah.. Anak muda itu suka berbelit-belit. Mayra adalah jawaban dari kemungkinan 0,001 % dalam hidup Zio. Bahkan Zio sama sekali tak akan punya alasan untuk menolak."


" Baik Tuan." Pak To menunduk lalu beranjak, segera memenuhi titah sang Tuan yang terlihat begitu bahagianya kini.


Opa akan sesegera mungkin mendatangi rumah Mayra untuk melamarnya. Ia sama sekali tak ingin menyiakan waktu untuk memberi kejutan kebahagiaan yang akhirnya mendatangi sang cucu kini.


Pak To sangat sibuk mempersiapkan semua seserahan yang akan di bawa, ia turut bersuka cita akhirnya sang Tuan Muda telah menemukan tambatan hati.


***


Sebuah mobil alphard berwarna hitam mengkilat terparkir dengan indahnya di halaman rumah sang keluarga cemara kini. Suara bisik-bisik para tetangga yang begitu mengusik telinga mengiringi langkah sang Tuan Besar dan para pengawal yang membawa berbagai seserahan ketika akan memasuki Rumah Mayra.


Peraduan senja yang berganti gelapnya malam mengiringi langkah yang sedikit tergesa dari Bapak, ia nampak begitu terburu-buru dalam mengambil langkah setelah mendapat kabar dari Fahmi yang memberitahu bahwa mereka kedatangan seorang tamu penting di rumah kini.


Setelah sampai Bapak segera menuju kamar mandi untuk membersihkan semua lumpur bekas mencangkul di sawah tadi. Selain menjadi guru Bahasa Indonesia di sebuah SMP di daerah ini, Bapak juga bertani. Merawat sawah warisan turun-temurun dari orang tuanya.


Terdengar berbagai basa-basi dari Opa juga Ibu yang nampak berbincang dengan hangatnya. Hingga Khadija keluar membawakan secangkir teh untuk Opa, Pak To, Bapak dan Ibu. Ia segera kembali ke kamarnya setelah mengantar teh dan beberapa camilan seadanya tersebut.


" Silahkan di minum Pak ... Maaf ya suguhannya seadanya."


" Tidak apa Bu... Maaf saya jadi bertamu petang-petang seperti ini." Sebenarnya tadi Pak To sengaja menunjuk waktu pukul empat sore untuk berangkat, berjaga-jaga jika terjadi kemacetan di jalan. Namun ternyata jalanan lancar jaya, hingga mereka jadi tiba lebih awal di tempat tujuan.

__ADS_1


" Iyaa.. Pak." Ucap Ibu dengan tersenyum ramah. Mengingatkan Opa pada senyum tulus Mayra, sungguh keluarga yang harmonis pikirnya.


Bapak akhirnya keluar bersamaan dengan lantunan adzan maghrib yang menggema dalam sekitaran lingkup rumah Mayra.


" Mari Pak kita sholat maghrib terlebih dahulu." lalu menuntun Opa dan Pak To menuju Masjid yang berjarak tak begitu jauh dari rumah. Opa dan Pak To hanya menurut berjalan beriringan di belakang Bapak.


Mereka melaksanakan sholat berjama'ah dengan kusyu' di antara segelintir orang yang menunaikan sholat dalam masjid tersebut. Hingga dalam perjalanan pulangpun mereka nampak berbasa-basi membicarakan hal-hal yang sekiranya menyambung walaupun sebenarnya mereka tak saling mengenal.


Akhirnya ketiganya beriringan memasuki rumah, Opa nampak terduduk dengan tegapnya mencoba mencari posisi yang pas untuk memulai obrolan serius ini.


" Jadi..." Bapak nampak sedikit meragu melanjutkan kalimatnya, sebenarnya ia begitu gugup berhadapan dengan seseorang yang terlihat begitu gagah dan berwibawa meski telah memasuki usia senja tersebut.


" Santai saja Pak..." Opa nampak memahami.


" Iya.. Pak silahkan di minum tehnya..." seraya menyeruput teh yang telah hangat tersebut.


Bapak dan Ibu hanya saling pandang, begitu bingung dengan senyuman Opa yang tertuju pada foto keluarga mereka.


" Ehmm.." Pak To mengambil suara utuk menyadarkan sang Tuan. Seketika Opa terkesiap.


" Jadi, kedatangan saya kemari adalah untuk meminang anak Bapak, Almayra untuk Cucu saya."


Seketika Bapak tergugup, walaupun ini bukan lamaran yang pertama kalinya untuk Mayra namun orang di hadapannya ini terlihat bukan seperti orang sembarangan. Harus dengan alasan apa ia menolaknya pikirnya dengan wajah gamang.


Opa yang melihatnya akhirnya mengimbuhi, " Bapak tenang saja, mereka telah menjalin hubungan dekat akhir-akhir ini. Jadi dari pada membuat fitnah saya memutuskan untuk segera melamar nak Mayra."


" Apa ?" lolos juga ucapan itu dari mulut Ibu, ia begitu terkejut bahkan matanya terlihat membulat kini. Kenapa Mayra tak jujur padanya pikirnya dengan menundukkan wajah, merasa tak enak hati telah berlaku tak sopan dengan tamu di hadapannya kini.

__ADS_1


" Lho.. Nak Mayra belum cerita rupanya. Ya, anak muda memang suka seperti itu... Ha ha ha.." Opa mencoba mencairkan suasana.


" Jadi cucu Bapak sedang dekat dengan anak saya Mayra saat ini ?" Bapak mencoba memastikan dengan jantung yang kian berdegup dengan kencangnya. Berfikir kenapa sang putri tak berbicara dengannya jika sedang dekat dengan seorang laki-laki, bahkan kini sang Opa melamarnya.


" Iya.." Jawab Opa mantap.


" Tapi saya tidak bisa memutuskan Pak, mengingat ini adalah hidup putri saya jadi lebih baik saya tanyakan dulu pada dia." ucap Bapak pada akhirnya.


Opa merasa terpojok, bagaimana jika Mayra menolak nanti ? bagaimana kelangsungan hidup sang cucu kelak ? ia dengan segera memutar otak, mencari cara agar orangtua Mayra dapat menerima lamaran ini. Hingga sebuah ide terlintas dalam kepalanya.


" To ..." Pak To yang seakan tahu dengan titah sang Tuanpun segera mengambil sebuah foto dalam saku jasnya. Lalu memberikannya pada sang Tuan.


Bapak semakin memadang setiap gerak-gerik Opa dengan raut waspadanya, merasa begitu mengganjal dalam hati seperti suatu hal besar akan terjadi.


Opa telah menyodorkan potret Mayra dan Zio yang di dapatnya dari manajer hotel Wijaya beberapa saat lalu di meja tamu tersebut.


Dengan segera Bapak melihatnya, Di ikuti oleh Ibu yang nampak penasaran dengan potret tersebut.


Jderrrr


Seakan petir datang mnghantam kepala Bapak dan Ibu, mereka begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya kini, benarkah sang putri melakukan hal sekotor itu ? sungguh benak mereka di penuhi fikiran negative saat ini.


" Sebenarnya saya tidak ingin menunjukkan ini. Tapi.... Anak muda zaman sekarang sering melakukan hal ceroboh dan berbuat di luar nalar jika sedang di mabuk asmara. Jadi saya berinisiatif untuk segera menikahkan mereka berdua sebelum terjadi hal-hal yang tak di inginkan di belakang nanti." Pungkas Opa dengan menghembuskan nafas pelan.


Bapak semakin tersulut saja mendengar tuturan Opa, rautnya sudah terlihat merah padam bahkan matanya sudah memerah dengan airmata menggenang, ia berusaha sekuat tenaga untuk tak melampiaskan amarahnya pada sang tamu dengan menggenggam erat gagang kursi pada kedua tangannya. Banaknya begitu di penuhi rasa sesal karena telah membebaskan sang putri kesayangannya hingga terjerumus pada hal menjijikkan seperti itu. Ia begitu merasa gagal menjadi seorang ayah yang baik bagi anak wanitanya, ia bahkan tak bisa menjaga putri kesayangannya tersebut dengan baik. Sungguh Bapak diliputi rasa sesal yang teramat dalam kini.


Ibu yang melihat perubahan raut Bapak dengan segera mengambil alih percakapan, dan beralasan akan menghubungi Opa kembali jika sudah berdiskusi dengan Mayra nanti. Sebenarnya Opa nampak enggan untuk pergi, ia ingin pulang dengan membawa kabar bahagia. Tapi mungkin saat ini memang belum waktunya pikirnya seraya memasukkan diri dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2