KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Otak di Balik Scandal


__ADS_3

Suasana mencekam begitu di rasa seorang gadis yang di dudukkan pada kursi panas di sebuah ruangan yang tampak sangat menguji adrenalin tersebut, hanya terdapat lampu pijar yang terletak di atas meja tepat di hadapan si gadis kini.


Tak... Takk... Takk


Suara langkah kaki Radit yang terasa seperti kedatangan malaikat penjabut nyawa dalam hidupnya, keringat dingin telah mengucur deras, badannya begitu gemetaran hebat melihat pemilik langkah kaki semakin mendekat saja kini.


" Siapa yang menyuruhmu ?"


Tak ada jawaban, si gadis hanya menunduk begitu bingung harus menjawab apa. Bahkan Kalista yang berkata siap untuk melindunginya tak bisa di hubungi. Apa yang harus dia lakukan ? haruskah membuang diri pada kandang singa ? tapi jika selamat akan langsung di lahap buaya. Sungguh ia merutuki semua kebodohan sesaatnya. Akibat rasa iri pada Mayra yang selalu di kelilingi laki-laki di kantor namun dengan sombongnya semua di tolak oleh Mayra, membuatnya begitu geram dan ingin memberi pelajaran lalu mengiyakan semua perintah Kalista yang malah menjadi petaka untuknya kini.


" TUAN BERTANYA SIAPA YANG MENYURUHMU ?!!" pekik pengawal dengan suara garangnya.


Membuat si gadis semakin di landa ketakutan yang teramat sangat. Ia lalu bersimpuh dengan masih menundukkan kepala, " Ampunn Tuaan, ampuni semua kesalahan saya... Ampun ... Saya mohon Tuaan... Saya hanya ingin hidup..." mencoba memohon pengampunan dengan deraian airmata yang entah sungguhan atau tidak.


Radit nampak tak peduli, sorot mata elangnya seperti akan memangsa kini. Ia mengulangi pertanyaannya bahkan dengan penekanan di setiap katanya." SIAPA YANG MENYURUHMU ?! cepat beritahu atau kau akan habis malam ini !"


" Ti... Tidakk ada Tuaan. Saya hanya merasa sedikit tak adil dengan Mayra. Su...Sungguh ..." Bahkan kini ia berani menatap mata elang Radit, walaupun segera beralih karena merasa begitu mengerikan. Ia masih takut oleh ancaman Kalista yang akan langsung menghabisinya jika membongkar ialah otak di balik semua ini.


" Kau fikir aku percaya ?" Masih dengan berdiri bersedekap, menatap tajam gadis yang bersimpuh di seberang meja.


Si gadis nampak menelan saliva dengan kesusahan, kenapa ia harus berurusan dengan iblis macam mereka semua pikirnya. Ia merasa sangat menyesal, namun rasa sesal itu sudah tak berguna kini.

__ADS_1


" Cepat katakan ! jangan membuang waktu berhargaku."


" T... Tii..."


Seorang Pengawal nampak menghampiri, lalu menjambak asal rambutnya hingga menampakkan wajahnya kini, ia terdengar memekik dengan nyaringnya membuat Radit menutup telinga.


" CEPAT KATAKAN !!!" Lalu terlihat salah seorang pengawal mendekat dengan membawa benda pusaka di tangan kanannya, sebuah pecut legendaris dari masa Tuan Besar untuk menghukum semua musuhnya dahulu. Ia mulai mengambil ancang-ancang untuk memberi pecutan pada si gadis, namun dengan segera teriakan si gadis menghentikannya.


" Stopp !! Kalista ! Kalista yang menyuruh saya !!" serunya dengan memejamkan mata. Masa bodoh dengan urusan nanti, yang penting sekarang ia harus berusaha menyelamatkan diri pikirnya.


Pengawal terhenti dengan kibasan tangan Radit, ia begitu tak habis pikir, ternyata Kalistalah otak di balik scandal yang di menimpa Mayra. Benaknya di penuhi berbagai tanya mengapa Kalista melakukan kebodohan macam ini, kebodohan yang bahkan bisa mengancam perusahaan milik Papanya sendiri. Apakah karena tak menyetujui hubungan Zio dan Mayra ? ia tampak segera menggeleng, mana berani Kalista berurusan dengan Zio, ini tak mungkin pikirnya.


Namun dengan secepat kilat IQ di atas rata-ratanya mulai bisa menarik benang merah yang mengikat antara Kalista dan Mayra. Aldo ya Aldolah masalah terbesar di antara kedua wanita tersebut. Membuatnya semakin menggeleng tak percaya, bisa-bisanya seorang gadis bangsawan berbuat kebodohan hanya demi seorang lelaki berondong ingusan ? sedikit banyak membuat benaknya merasakan penasaran tentang siapa sesungguhnya Aldo itu.


" Segera bereskan dia !" titah Radit pada para pengawal lalu melenggang.


Si gadis yang tak merasakan perihnya badan karena terpaan si cambuk segera membuka mata, ia menghembuskan nafas kasar merasa lega karena selamat dari cambukkan tersebut. Namun beberapa detik kemudian pengawal menggiringnya untuk segera menaiki mobil yang akan mengantarnya pada dinginnya lantai di balik jeruji besi. Ia nampak meronta untuk melepaskan diri namun kalah oleh kedua pengawal yang bersiaga di kanan dan kirinya kini.


***


Radit nampak menelfon sang Tuan, untuk memberitahu semua informasi yang di dapatnya. Namun sama sekali tak ada jawaban dari seberang telepon, ia menengok pada arlogi coklat yang melingkar dalam tangan kirinya dilihatnya jarum jam yang menunjuk pada angka dua belas, mungkin Tuan sudah tertidur pikirnya. Hingga ia memutuskan untuk melaporkan semua ini esok pagi saja. Ia segera menginjak gas mobil dalam, mobilnya telah melaju secepat kilat menembus lengangnya jalanan malam hari ini, agar segera sampai di rumah dan bertemu putri kecilnya yang mungkin telah terpulas kini.

__ADS_1


***


Dinginnya kamar apartemen Zio membuat dua insan yang seperti magnet dengan sisi yang sama tersebut menjadi menyatu, merasa saling membutuhkan kehangatan satu sama lain dalam alam bawah sadar mereka kini. Keduanya tertidur dengan pulasnya menggapai mimpi indah dengan posisi saling berpelukan. Melewati dinginnya malam dengan dekapan hangat dari satu sama lain.


Hingga suara cuitan burung yang menyapa telinga di pagi yang indah inipun tak mereka hiraukan, malah membuat keduanya semakin mengeratkan pelukan masing-masing di bawah hangatnya sang selimut yang menutupi tubuh keduanya. Begitu tak ingin beranjak dari rasa nyaman dan hangat yang mereka rasa kini.


Hingga akhirnya Mayra mulai membuka mata, merasa begitu aneh dengan guling yang begitu memberikan kenyamanan dalam tidurnya ini. Ia mulai meraba hingga pada wajah Zio, membuat Zio mengerjabkan mata terkaget dengan sentuhan Mayra.


Mereka berdua segera terduduk, " Aaaakkkhhhhh........." jerit Mayra dengan menarik selimut sampai lehernya.


Radit yang telah sampai sedari tadi dan menunggu di ruang tamupun segera bergegas takut terjadi sesuatu pada sang Tuan. Namun pemandangan yang dilihatnya adalah Zio dan Mayra yang terbalut di bawah selimut yang sama. Ketiganya tampak membelalakkan mata bersamaan, begitu terkejut dengan pemandangan pagi yang amat memberatkan kinerja mata tersebut.


Radit yang amat pekapun segera menundukkan diri, " Maafkan saya Tuan, silahkan lanjutkan saya tidak melihat apapun." lalu menutup pintu dan melenggang dari apartemen tersebut menuju kantor.


Dalam perjalanannya Radit tampak merutuki kebodohannya ini, karena dengan beraninya mengganggu kehidupan pribadi sang tuan, namun sebuah pertanyaan begitu mengusik hati dan pikirannya dalam perjalanan ke kantornya kini. Benarkah hubungan Tuan dan Nona telah terjalin sejauh itu ? sungguh sebuah tanya yang tak akan pernah ia ketahui jawabannya.


》》》


Haiii... Haiii readers yang aku sayangi..... ceilehhh


Makasih buat jempol yang selalu nemenin Author sampe episode 55 ini yaa 💖💖 lope-lope dah pokonamah ...

__ADS_1


Semoga kita semua selalu di beri kesehatan, kemudahan rezeki, dan kebaikan kehidupan selalu aminn... amiinnn...


💚💚💚


__ADS_2