KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Terganggu


__ADS_3

" Nona Shanon yang selalu saja memaksakan pernikahan ini. Kondisi bisnis keluarganya memang memburuk, mungkin ia berpikir untuk tidak menyiakan kesempatan." Jelas Radit dengan panjang dan lebarnya setelah duduk berhadapan dengan Mayra di ujung kantin kantor.


" Siapa yang peduli."


Tapi ekspresi anda terlihat sangat terganggu sekali.


" Baiklah," Radit berdiri, " Saya pikir mungkin anda akan memikirkan ini hingga tidak bisa terlelap dengan benar nantinya." Lalu melenggang kemudian.


Dasar ! Bahkan penjelasanmu sama sekali tak bisa membantu.


Mayra kembali menghela napas panjang, mengaduk nasi berlauk ayam kremes di atas piring sebagai menu makan siang kali ini. Pikirannya campur aduk tak berbentuk saat ini. Hatinya tak berhenti berdenyut nyeri mengingat semua tingkah mesra Shanon dan Zio yang membayangi kepalanya.


Kenapa denganmu Mayra ?! Sadarlah ! Kamu hanyalah kekasih palsu baginya !


Bulir bening meleleh seketika. Ia semakin terisak dengan wajah tertunduk.


Bagaimana sekarang ? Aku juga ingin kehilangan ingatan saja sepertimu ...


Klek


Sebuah gelas berukuran jumbo berisi minuman berwarna merah muda di letakkan tepat di hadapan Mayra. Membuat Mayra terhenyak, dan mengangkat wajah kemudian.


" Jangan menangis ... Nanti cantiknya luntur." Tutur seorang pemuda dengan mengulas senyum termanisnya.


Namun sayangnya tak bersambut suka cita, hingga berujung tatapan nan sengit dari Mayra.


" Hei ... Kenapa lagi ? Aku sudah disini kan. Sudah jangan cemas lagi oke ?" Dengan senyum mengejek dan alis naik turunnya.


Dengan gerakan kilat Mayra menyambar sebuah sendok dan memberi pukulan bertubi pada si pemuda.


" Dasar ya ! Bener-bener ya Al ! Semua ini gara-gara kamu tau gak ?!" Lalu menarik tangan, bersedekap di dada dengan raut cemberutnya.


Bukan merasa sakit, Aldo malah terkekeh sambil mengusap bekas pukulan sendok dari Mayra, " Sorry Mayra cantik ... Nanti pulang traktir es krim di Pome (sebuah nama toko yang menyediakan berbagai varian rasa es krim) mau ?


Mayra masih menatapnya penuh selidik, enak saja mengganti struktur pekerjaan orang lain hanya dengan es krim.


" Ada menu baru yang langsung di import dari Ausi loh May ! Bisa bayangin kan lembutnya ... Uuhh parah May ..."

__ADS_1


Benar-benar anti gagal Aldo jika dihadapkan masalah bujuk-membujuk Mayra. Terbukti dengan binar indah Mayra yang terpancar menggantikan raut sendunya. Aldo tampak bersorak dalam hati. Karena telah berhasil mengalihkan kemarahan Mayra. Ternyata kelemahannya masih sama, es krim. Haha


" Awas aja bohong !"


" Mana pernah sih Aldo berbohong ?" Dengan menarik sebelah kerah dan menaikkan alis bersamaan.


" Gak usah sok cakep ! Udah mati rasa ini hati !"


" Namanya juga usaha."


" Mending buat yang lain sana. Jamin klepek-klepek !" Lalu meminum jus jambu yang di bawakan Aldo untuknya.


Tapi aku inginnya kamu Mayra. Hah ... Sudahlah. Berhenti serakah Aldo. Bisa melihatnya sehat di hadapanmu saja sudah menjadi sesuatu yang sangat berharga.


Tanpa disadari kedekatan keduanya membuat salah satu hati yang dipenuhi tumpukan salju dipenuhi gelora penuh kilatan amarah. Entah marah pada siapa dan kenapa si pemilik hati sendiripun tak mengerti.


***


Keduanya berjalan beriringan dengan tanpa gelak tawa seperti saat-saat indah sebelumnya, Aldo cukup tahu diri hingga berjalan lurus dengan Mayra yang mengiringi dengan langkah perlahannya. Keduanya tengah menuju Poem sesuai rencana di kantin tadi siang.


Binar bahagia terpancar indah dari raut Mayra, melihat seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisikan ice cream berwarna pink dengan hiasan cantik dalam sebuah gelas jumbo berbentuk setengah lingkaran.


Aldo melihat Mayra tak percaya, " Itu nggak di foto dulu ?"


" Hm ? Emang kenapa ?"


Kenapa katanya ? Secantik itu dan semahal itu sampai menguras gajiku sebagai kepala Yayasan sementara, dan dia masih bertanya kenapa ? Apa kamu tahu betapa susahnya aku mendapatkan reservasi di tempat yang super populer ini ?


Mayra tampak tak mengerti dengan arti raut masam Aldo, hingga kembali menikmati es krim dengan binar bahagia.


Hah ! sudahlah ... Setidaknya dia sungguh bahagia.


" Kamu gak pesan ?"


" Tidak, untukmu saja."


" Kenapa ? Dulu kamu juga sering makan es krim bersamaku ?" Setau Mayra Aldo bukan orang penyuka hal tidak manis seperti seseorang.

__ADS_1


Karena kamu bukan lagi milikku Mayra.


Mayra mengibaskan tangan, " Al ?" Mencoba menyadarkan Aldo dari lamunan.


" Jangan bilang kamu masih mikirin kenapa gak di foto dulu ?" Tuduh Mayra penuh curiga.


" Salah satunya."


Ini termasuk hal yang membuat Mayra heran dengan Aldo, ia yang sekarang terlihat sangat irit bicara dan kadang terlalu lama merenung. Seperti ada begitu banyak hal yang memenuhi kepalanya, namun tak dapat sama sekali Mayra terbas.


Meski memang terasa begitu aneh, berjalan berdua bersama Aldo dengan suasana yang bisa di bilang canggung. Tidak sebebas dan sesantai dulu. Namun ini mungkin memang jalan terbaiknya. Bahkan ia juga tak menyangka, Aldo bisa benar-benar berubah menjadi Aldo yang dulu ia kenal. Ia juga sedikit bingung, tapi tak begitu memikirkannya lebih jauh.


" Makanan itukan untuk dinikmati, bukan dijadikan sebagai pajangan." Ia tampak kembali menyuap sendok demi sendok es krim. Aldo memandanginya dengan sorot penuh arti. Sebuah bentuk penyesalan. Bahwa telah menyiakan gadis sebaik Mayra hingga ia bahkan mencintai saudaranya dengan sangat dalam jauh dibanding dengannya.


Ini kesempatan terakhirmu Mayra. Jika Zio sungguh akan menikahi Shanon. Aku berjanji untuk selalu ada di sampingmu meski selamanya tak berbalas sekalipun.


Hingga bunyi ponsel membuyarkan segala lamunan Aldo.


" Iya Pak. Baik... baik saya akan segera ke sana sekarang."


Mayra mendongak, menatap Aldo yang telah berdiri, " Kenapa ?"


" Ada kesalahan dalam laporanku. Kamu Gak apa pulang sendiri ?"


Mayra mengangguk, " Iya, ga pa pa kok ..." Hingga Aldo melenggang meninggalkan ia dengan es krim yang masih separuh. Dengan cepat ia tampak melahapnya, dan berpikir untuk pulang secepatnya karena hari sudah mulai larut kini.


Mayra yang telah selesai, terlihat menunggu kedatangan ojek online yang telah ia pesan di tepi jalan raya. Namun yang tak di sangka, sebuah mobil sport berwarna merah cerah menghampirinya. Membunyikan klakson nyaringnya lalu membuka jendela mobil kemudian, " Hai ?" dengan mengulas senyum mematikan, yang cukup melemahkan jika itu bukan Mayra.


Siapa ya ?


" Wah ! jahat sekali tidak ingat denganku." ia tampak melepas seat belt lalu kemudian turun dari mobil.


Mayra hanya membalas dengan senyuman kikuk, " Masih tidak ingat juga ?" Ia tampak berjalan menghampiri Mayra.


Mayra amat bingung dengan lelaki bercelana jeans panjang dengan kaos polo di hadapannya ini, kenapa rasanya tidak asing. Tapi siapa ?


Ahh ya ...

__ADS_1


" Sudah ingat sekarang ?" lelaki tersebut tampak membuka tangan lebar seperti gaya pesulap mempersembahkan diri.


__ADS_2