
Cih ! Dasar gadis sialan ! jika bukan karena amukan Opa aku tak akan pernah mau memberimu pekerjaan ini. Menyebalkan !
Namun anehnya, perasaan dan pikirannya berjalan sangat kontras. Debaran hati yang tak bisa di pungkiri akan kehadiran Mayra selalu sukses membuat Zio bertanya-tanya ada apakah dengan dirinya ? mungkinkah efek operasi pada kepala menjalar pada hati ?
" Orang cerdas bekerja dengan ini," Opa terlihat menunjuk pelipis, " Bukan ini !" menunjukkan bogem mentah di hadapan Zio. " Jangan berbicara sembarangan dan cari tahu sendiri siapa gadis itu sebenarnya. Dan jangan lupa untuk meminta maaf padanya setelahnya, mengerti ?"
Entah kenapa ucapan Opa selalu saja terngiang dalam sepersekian detik ingatannya, dan disinilah ia sekarang. Terduduk dengan raut gamang dalam kursi kebesarannya dengan membolak-balik data diri Mayra, entah kenapa ia seperti sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya. Seketika kepalanya terasa terhantam balok, ia mengerang dengan memegangi kepala.
Mayra yang mengetuk pintu dengan membawa kopi mendengar lalu langsung menghambur pada Zio, " Anda kenapa Pak ?" Raut paniknya sama sekali tak dapat tersembunyi kan.
Ia membuka tas kerja Zio, berharap ada obat pereda nyeri di sana. Dan ya ketemu, " Minum ini dulu Pak." Lalu memberikan Obat pada Zio, menegukkan segelas air putih setelahnya.
Zio tampak bersandar dalam kursi kerjanya dengan napas tersengal, entah karena reflek atau apa kini ia mengelus perlahan Kepala Zio, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang Zio rasakan.
Zio aku mohon jangan sakit , jangan terluka ...
Zio tampak terlelap, Mayra memandanginya nanar.
*Aku sungguh ingin menyerah Zio. Tapi rasanya hatiku selalu berontak dan tak terima bila harus kehilanganmu dengan cara ini. Bodohnya, aku masih saja berharap suatu hari nanti kamu akan mengingat segalanya dan kembali. Tapi, pada kenyataannya bahkan kamu akan melangsungkan pertunangan dengan Shanon.
Apakah selamanya aku hanyalah kepalsuan bagimu* ?
Setetes bulir bening meluncur bebas dalam pipi mulus Mayra kini. Ia segera berdiri tegak, menghapus air mata. Beranjak keluar ruangan.
Kuatkan hatimu Mayra ... Ini demi anak-anak.
Jika bukan karena ancaman alih fungsi bangunan yang di lontarkan Zio sebagai syarat, Mayra sama sekali tak akan mau bersinggungan kembali dengan Zio. Melupakannya perlahan, seiring berjalannya waktu begitulah pikirnya. Namun, sebuah fakta menampar segala angannya. Bahwa ternyata orang di balik tergapainya mimpi adalah seorang Ziovano. Ia bahkan masih belum bisa memaafkan Aldo yang malah pergi bertugas ke luar kota, entah mungkin sengaja untuk menghindari kemarahan Mayra.
Ia kembali menghembuskan napas kasar, entah ini sudah yang ke berapa, sesak dalam dadanya seakan enggan pergi. Bahkan ia sudah muak. Sangat muak menjadi tidak berdaya.
Radit tampak melintas, ingin masuk dalam ruangan Zio bahkan tanpa mengetuk. Mayra tampak menghentikannya, " Pak CEO sedang tertidur Pak Radit."
Radit tampak menatapnya aneh, mungkin amat asing dengan panggilan yang di sematkan pada ia juga Zio. Hingga ia tampak tersadar bahwa ini di kantor.
" Tumben sekali."
" Tadi sakit kepalanya kambuh, saya memberinya obat pereda nyeri di dalam tas."
" Oh ya ?"
Mayra tampak mengangguk.
__ADS_1
Beruntung sekali. Memiliki seorang sekertaris yang mencintaimu sepenuh hati. Ini bahkan jauh lebih bagus dari pada menjadikan Shanon istrimu sekalipun.
" Baiklah. Hubungi saya jika Tuan sudah terbangun." lalu melenggang.
Namun yang tak pernah disangka Mayra adalah kehadiran Papa Ardhi. Ia tampak awas menatap Mayra, tak terkira ia sudah lemah tak berdaya kini.
" Bisa kita bicara sebentar ?" Mayra menggangguk, lalu mengikuti langkah Papa Ardhi.
" Om ... Eh Maaf, Maksud saya Pak. Sebenarnya-"
" Sudahlah Mayra. Saya mengerti. Keputusan Zio adalah hal mutlak yang bahkan tidak bisa di ganggu gugat oleh saya atau Opanya sekalipun. Hanya saja ..." pandangannya tampak menerawang langit-langit ruangan khusus Direksi ini, " Jangan terlalu memaksakan ingatan Zio. Dia ... mungkin belum setangguh kelihatannya."
" Iya Pak, Saya mengerti."
" Baguslah." lalu beranjak pergi.
***
Mayra dan Zio tampak duduk bersandingan dalam mobil mewah yang akan mengantarkan pada apartemen Zio, jika bukan karena mempertimbangkan kondisi Zio Mayra juga tak akan mau. Ia hanya takut Zio akan kenapa-napa di jalan. Perasaan yang menyebalkan.
" Bagaimana ? sudah kamu pikirkan ?"
" Maaf ?"
Mayra memutar bola mata malas, " Sudah saya bilang itu tidak perlu."
" Itu dibutuhkan daripada kamu selalu saja terlambat."
Bahkan ini baru satu hari. Dimana letak selalunya ?
" Lagipula saya tidak bisa menyetir."
Zio menatapnya intens, " Bahkan kamu meminta supir ?"
Ia tampak beralih kemudian, " Aku heran. Sebenarnya aku merekrut sekertaris atau istri ?"
Mayra tersedak liur hingga tak berhenti terbatuk, bahkan wajahnya terlihat merah padam kini.
Zio yang melihatnya seakan terhipnotis, dengan segera meraih botol air membukanya dan memberikan pada Mayra. Bahkan ia sendiri tak percaya dengan tingkah sigapnya ini. Kenapa rasanya ia begitu mengkhawatirkannya. Semua terasa semakin aneh baginya.
" Kenapa ? kamu ingin menjadi istriku ?" ucapnya setelah Mayra kembali tenang, namun segera membulatkan bola mata menerima serangan pertanyaan skak mat dari Zio.
__ADS_1
" Tentu saja. Siapa yang akan menolaknya." Lalu tersenyum menyeringai dan menatap lurus dengan raut ala manekinnya.
Minta dijitak ni orang !
Mulut Mayra tak berhenti komat-kamit menyumpahi Zio. Tanpa disadari Zio menatapnya sekilas, seulas senyum terbit meski tertutupi oleh tangannya.
Hingga perjalanan panjang mereka akhirnya sampai, menyisakan Mayra yang terpulas bahkan bersandar pada bahu Zio. Zio tampak semakin tak bisa mengontrol ekspresi dan tersenyum sangat bahagia.
Kenapa rasanya sangat berbeda ?
Mayra semakin mendusel, turun pada bagian ketiak hingga berakhir menjatuhkan kepala pada paha. Ia terbangun seketika.
Ini dimana ? empuk, tapi agak keras. Ia tampak meraba dengan kondisi setengah sadar.
" Berhenti disana !" Zio memekik, hingga membuat Mayra terbangun dari posisinya, duduk tegap kemudian.
Gila !
" Maaf Pak. Maafkan saya ?" ucapnya dengan memejamkan mata, sama sekali tak ada nyali untuk menatap Zio. Ia bisa benar-benar berpikir sedang digoda.
" Pulang sana !" lalu keluar mobil, dan melenggang begitu saja.
Bahkan Mobil terlihat melaju setelahnya, " Loh Pak ... Pak ... Sebentar !"
" Ada yang ketinggalan Non ?"
" Hah ketinggalan ?"
Iya sih, hatiku yang ketinggalan.
Ia segera menggeleng cepat, " Bukan Pak kita mau kemana ?"
" Pulang Non."
" Loh kok ? ga pa pa Pak biar saya pulang sendiri."
" Jangan Non bahaya."
" Gak pa pa Pak. Saya juga udah biasa kok." bergegas membuka pintu yang ternyata masih terkunci.
" Bahaya Nona Kalo sampe Tuan Muda marah. Hii ... Ngeri !" sang Sopir tampak bergidik, lalu melaju semakin kencang.
__ADS_1
Emang ngeri, tapi seksi. Astaga Mayra ! mikir apa kamu ha !?
Ia tampak membenturkan kepala pada jendela mobil, berusaha mengenyahkan kelebatan kemarahan Zio yang berujung penuh gelora beberapa saat lalu.