KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Taman


__ADS_3

Mayra nampak berlari kecil mengitari taman setelah mengajar anak-anak. Walaupun sudah bersekolah tapi di hari libur Mayra selalu menyempatkan diri untuk menemui mereka entah hanya untuk bertegur sapa atau menjawab pertanyaan tentang pelajaran yang tak mereka ketahui.


Tanpa Mayra sadari Aldo telah berjalan mendekat ke arahnya, seketika ia meraih tangan Mayra. " Aku ingin bicara May..." ucapnya dengan raut penuh kesenduan.


Busyett ni laki turunan jalangkung kali yak, dateng ga di jemput pulang ga di anter. Udah jalangkung tukang selingkuh pula... Iiww. Batin Mayra dengan raut sengitnya.


" Nggak ! lepasin ato gue teriakk nih !"


" Please May... Kasih aku kesempatan sekali lagi ...." ucapnya dengan wajah penuh keputus asaan. Membuat semua hati akan melunak, namun sama sekali tak bereaksi apapun bagi Mayra. Hatinya sudah begitu muak dengan semua ambisi Aldo, yang menelan kabaikan dalam dirinya yang di kenal Mayra dulu.


" Tolooooonnggg !!!!" pekik Mayra. Namun karena keberadaan mereka yang di pertengahan taman membuat tak ada seorangpun yang melintas.


Siall ! Batin Mayra mendesis.


" Please May kita butuh bicara berdua dengan kepala dingin, aku tau kamu masih marah sama aku, tapi kamu juga ga bisa bohongin perasaan kamu yang masih sayang sama aku kan ?" dengan senyum manis, senyum yang di idamkan para wanita yang memandangnya penuh iri dengki, dulu.


" Sekarang udah enggak ! jadi lepasin !" dengan raut jengahnya, pandangannya menyapu sekeliling dengan harap ada seseorang yang melintas dan mau menolongnya.


" Itu gak mungkin, apa kamu mencintai Zio ? dia hanya akan menyakitimu jika hubungan kalian berlanjut Mayra." meskipun Aldo lebih muda dari Mayra namun fikirannya yang selalu mempertimbangkan masa depan adalah bentuk kebijakannya pada diri sendiri karena telah begitu banyak menelan pahitnya kehidupan.


Mayra membuang muka, terserah dah mo mikir apa. Mending cepetan pergi sono lu !


Hingga binar Mayra akhirnya terpancar melihat seorang kakek-kakek yang nampak berlari kecil mendekat pada arah ia dan Aldo. Iapun segera melancarkan aksinya.


" Tolooong .... COPETTT !!!" pekik Mayra dengan sekuat tenaga.


Opa Dharma nampak menengok pada arah keributan berasal dan melihat Aldo yang menggenggam erat tangan Mayra dan menyimpulkan bahwa Aldo lah si pencopet. Dengan segera Opa mematahkan ranting pohon kecil yang kebetulan berada di atasnya lalu menghampiri Aldo dan Mayra.


" Dasar maling kamu ya !!! punya badan segar bugar gitu harusnya kerjaaa !!" Maki Opa dengan melayangkan ranting pada tubuh Aldo yang nampak berlari memutari Mayra.


" May tolongin dong... Aku cuma mau ngomong sama kamu, bilang sama kakek ga jelas ini aku bukan maling !!" sambil tetap berlari menghindari hantaman ranting pada tubuhnya.


" Macem-macem kamu yaa !!! dasar anak muda pemalas !!! trima ini !!!" Maki Opa masih dengan kekuatan penuh mengayun ranting yang masih terdapat rerimbunan daun di ujungnya tersebut.

__ADS_1


Mayra tak menggubris, malah semakin gencar menyemangati si Kakek. Lucu sekali melihat pemandangan yang begitu menyegarkan mata ini pikirnya. Kapan lagi bisa memberi pelajaran berharga untuk mantan kekasih berondong sialan tersebut. Mayra masih saja nampak terkekeh melihat Opa dengan semangat empat lima mangayunkan ranting pada betis Aldo berulang kali, hingga berakhir dengan langkah seribu dari Aldo yang akhirnya menyerah juga.


" Dasar pemalas bisanya cari jalan pintas ! kamu gak apa nak ?" tanya Opa pada Mayra.


Mayra menggeleng pelan, " Aku gpp ko Kek... Makasih ya udah bantuin ngusir copet,hehee..." ucap Mayra dengan menampakkan deretan gigi ratanya.


Opa nampak menghembuskan nafas, merasa lega. Mereka berjalan menyisir taman dengan obrolan yang begitu seru tampaknya, bahkan sesekali tawa menggelagar Opa terdengar menggema di area taman tersebut.


Bercengkerama dengan Opa mengingatkan Mayra pada sang Kakek yang begitu ia sayangi, namun ternyata Allah lebih menyayangi Kakek hingga kini telah pergi meninggalkan Mayra dengan segala kerumitan masalah cintanya. Mengingatnya membuat Mayra menghela nafas dengan dalamnya.


Mayra nampak pamit untuk pulang, mengambil sepeda olahraga yang di pinjamnya dari Dewi teman kostnya. Ia mulai mengayuh dengan hati riang gembira benar-benar puas telah mengerjai Aldo.Haha


Namun kayuhannya terhenti ketika melihat Kakek yang menolongnya tadi nampak linglung melihat ke kanan dan kiri jalan, ia lalu menghampirinya.


Opa memang sedang tak tahu arah pulang kini, ia tadi keluar rumah karena begitu kecewa dengan kinerja pengawal pribadinya yang tak menemukan satu informasipun selama seminggu ini, tentang gadis yang dekat dengan Zio dalam potret ponselnya kemarin. Membuatnya geram, hingga memutuskan keluar rumah untuk mencari udara segar. Ia hanya terus melangkah dan melarang para pengawal mengikutinya, hingga terbawa arus orang lalu lalang yang mengarah pada taman tersebut.


" Kakek kenapa ?"


" Ini Kakek gak tahu jalan pulang, nak."


" Di gang Bugenvill."


Mayra nampak mencari Alamat yang di sebut Kakek menggunakan peta dalam ponselnya. Menit demi menit berlalu Mayra sampai memutar-mutar si ponsel namun sama sekali tak bisa mengerti dengan lokasi yang akan di tuju, membuatnya pening sendiri. Niat hati ingin membantu Kekek mencarikan alamat lewat ponsel dengan keren seperti di drama-drama, tapi malah berakhir kepeningan dalam kepalanya yang begitu sulit mencari tata letak dalam peta tersebut.


Akhirnya ia hanya tersenyum garing, lalu mengajak Kakek berjalan dan bertanya pada tukang ojek yang berada di pengkolan.


" Misi Pak.. Gang Bugenvill di sebelah mana ya ?"


" Yang di Perum Permata ya mbak ?"


" Iya " Jawab Opa.


" Ohh ...Itu di depan Mbak, muter aja jalan ini masuk gang yang kedua nah disitu Gang Bugenvill."

__ADS_1


" Makasih ya Pak..."


" Iya..."


Akhirnya Mayra dan Opa berjalan sesuai arahan tukang ojek di tengah terik panas yang menerpa, Kakek sempat menawarkan untuk beristirahat namun Mayra menolak karena ingin segera pulang dan merebahkan diri melepas penat yang melanda.


Sampai juga mereka pada Gang Bugenvill, Kakek nampak sudah mulai mengenali sudut rumahnya hingga berjalan dengan cepat agar segera sampai.


" Rumah Kakek yang mana ?"


" Itu yang pagar hitam." Mayra melongok pada pagar hitam yang di sebutkan Kakek, Pagar besi yang menjulang begitu tinggi namun tak dapat menutupi kemegahan rumah di dalamnya.


" Kakek yakin ?" Mayra menatap tak percaya.


" Iyaa ... Ayoo"


" Kakek nggak lupa kan ? ini beneran ? nanti yang punya Rumah marah lo kek kalo kita masuk sembarangan." Mayra nampak tak yakin karena Rumah yang terlihat begitu megahnya, membuat nyali Mayra menciut seketika.


" Nggak, saya nggak akan marah... Ayoo" Kakek mengambil langkah setelah gerbang terbuka, yang di sambut tundukkan badan dari para penjaga membuat Mayra yang sedang menuntun sepeda melongo tak percaya. Ternyata kakek yang menolongnya adalah konglomerat pikirnya.


Kok perasaan mulai ga enak yahh ? pergi aja deh...


" Ya udah Kek kalo gitu Mayra permisi ya,, Terimakasih bantuannya ..." Seraya memutar sepeda dan segera menaikinya.


Namun segera di cegah para pengawal, " Masuklah Nona."


Waduhh ... Dasar Mayra ceroboh !! ga bakalan kenapa-napa kan ya ? hahh... Entah. Batin Mayra merutuki dirinya sendiri.


Pak To nampak menghampiri dengan payung di tangan kanannya, menuntun Tuan Besar menuju Rumah Utama, membuat Mayra mau tak mau jadi mengikuti mereka.


Tanpa Mayra sadari ia benar-benar memasuki kandang singa, yang bahkan telah ia campakkan. Entah apa yang akan terjadi padanya nanti. Will see ...


》》》》》

__ADS_1


Senin seninnn kasih vote yang banyak buat ZIORA yakk 🥰🥰


__ADS_2