
Seperti biasa,di setiap weekend Zio dan Mayra akan melakukan ritual rutin mereka yaitu berolah raga pagi. Sembari memperkenalkan Zio dengan dunia luar agar bisa lebih membuka diri, tak takut berkomunikasi pada wanita. Ya, sebuah langkah awal agar perlahan ketakutan pada wanitanya bisa menipis.
Dengan telaten Mayra akan mengajak Zio mendengar berbagai cerita keluh kesah perjuangan para ibu mengais rupiah dengan berbagai cara. Ada yang berjualan air mineral di lampu merah, berjualan kopi bahkan tisu keliling, ada juga yang menjual bubur ayam bersama dengan suaminya. Dan hari Sabtu ini giliran ibu penyapu jalanan yang mereka datangi.
" Hai ... Ibu ?"
" Ehh... Iya neng ? ngapa ya ?"
" Enggak, ini kita ada makanan buat Ibu. Sini Bu kita ngobrol dulu..." ucapnya sambil menepuk tanah berumput di bawah pohon rindang.
" Wahh... Makasih Neng. Kebetulan Ibu belon nyarap. Ehehe .."
Mayra nampak mengulas senyum terindahnya, mendengar jawaban polos si Ibu.
" Bentar neng, kelarin ini dulu.." ucapnya dengan bersemangat mengayun sapu ke Kakan dan kiri tubuhnya dengan langkah maju.
" Ssstt..." Mayra nampak memelototi Zio agar segera membantu si Ibu, Zio menurut saja. Hah .. Benar-benar sudah seperti boneka Mayra. Rutuknya dalam hati.
" Biar saya bantu Bu, " Zio nampak mengacungkan tangan untuk meraih sapu si Ibu."
" Cakep amat lu tong,makan apa dah. Hahaha ..." si Ibu nampak tertawa renyah, yang tentu saja menular pada Mayra bahkan Zio yang tampak sedikit menarik ujung bibirnya.
" Ga pa pa.. Lagi tugas negara loh ini." Ibu itu nampak kembali tergelak melihat wajah cengo Zio.
Menyapu jalan, tugas Negara ? really ?
" Kan kalau lingkungan bersih, Negara indah bersahaja ..." jelas Mayra yang kini telah berada di antara Zio dan si Ibu. " Yakk.. Betul ! pinter nengnya. Hahaha ..." timpal si Ibu yang makin bersemangat menyapu. Hingga Mayra meraih tangannya, " Udah Bu, biar dia aja nih.Nganggur . Makan dulu kita." ajak Mayra dengan memberikan sapu pada Zio lalu menuntun Ibu menuju tempatnya terduduk tadi.
Yahh .. Lumayanlah paling tidak sekarang Zio tidak setakut itu pada wanita. Perlahan tapi pasti, jika keadaan terus membaik seperti ini. Zio pasti akan sembuh dari traumanya. Batin Mayra berseloroh sembari melihat Zio yang menyapu jalanan, juga si Ibu yang sedang makan dengan lahapnya bergantian.
__ADS_1
Keduanya akhirnya selesai. Mereka bertiga nampak terduduk, mendengar berbagai cerita si Ibu tentang keluarganya.
" Ibumah Uda lama neng jadi tukang sapu. Dari anak masi orok, Ibu tinggalin buat beli susu. Sekarang udah gede, sekolah kelas dua SMA. Bangga Ibu neng. Yah.. walaupun musti jadi tukang sapu gini. GPP yang penting anak Ibu bisa sekolah pinter."
" Utang Ibu banyak Neng, segunung kali. Saban hari nyapu gini juga kaga ada kurangnya, hah..."
" Ko bisa Bu ?"
" Dulu anak Ibu lairnya prematur, musti nginep rumah sakit berminggu-minggu. Mana ga pake BPJS kaya jaman sekarang. Akhirnya suami Ibu nyari pinjaman Ama rentenir. Jadi beranak Pinak neng, kaga kurang malah nambah terus tu utang."
" Yang sabar ya Bu ... Trus suami Ibu dimana ? jadi tukang sapu juga ?"
" Kaga Neng, suami Ibu ngambilin sampah rumah tangga. Mayan bakal jajan si Ojak."
" Ojak anak Ibu ?"
" Iya Neng. Anak atu-atunya tuh lima taon baru dapet. Makanya Ibu berusaha sekuat tenaga buat nyenengin dia,pulang nanti Ibu masi nyuciin baju orang ma nyetrika. Tapi yaaah ..." Mata si Ibu nampak mulai berembun, hingga berjatuhan tanpa bisa di bendung pada akhirnya.
" Iyahh... Ibu sehat-sehat yah biar bisa liat dia sukses nanti. Oke ?"
" Iyaa...Neng. Makasih udah mau dengerin cerita Ibu. Biasa tetangga aja ga mau deket Ibu. Katanya Ibu gak becus, suami anak ga di urus, mentingin diri sendiri terus banyak dah neng pokoknya. Ya tapi Ibu bisa apa, ngandelin duit si Bapak juga kaga bakalan cukup. Ya mending gini, kerja dapet duit. Hehe ..." ia mengakhiri kalimat dengan senyuman khasnya.
Mayra tersenyum, Di sinilah cinta seorang Ibu itu terasa begitu nyata. Melibas segala rumput liar, tetap tumbuh subur meski terkadang sama sekali tak terawat. Menakjubkan.
Mayra nampak menghembuskan napas pelan. Lalu mulai beranjak. Biasanya ia akan memberikan barang berapa lembar uang, Namun ada sebuah tangan yang lebih dulu terulur. Ya, tangan Zio mengulurkan beberapa lembar uang dari dalam saku jaketnya. Meraih tangan si Ibu lalu memberikan uangnya.
Mayra nampak terbelalak tak percaya, Whatt the ?????
" ... Makasih tong, makasih banyak ..." ucap Ibu itu bersyukur dengan kucuran air mata yang begitu derasnya menggenggam berlembar uang berwarna merah dalam tangannya.
__ADS_1
Mayra masih membulatkan bola mata, bahkan sesekali terlihat menguceknya. Sungguhankah yang di lihatnya Ini ? Zio bisa bersentuhan dengan Ibu itu. Ohh My .... Batinnya dengan menutup mulut yang menganga.
Ia masih tak sadar, bahkan setelah si Ibu melenggang meninggalkan mereka dengan semburat bahagia yang tak terelakkan.
Zio sampai harus menyadarkannya dengan mengibaskan tangan di depan wajahnya." Heii...May ... Are you okey ?"
Ia nampak tersadar kembali dari keterkejutannya, " Ga pa pa. Kamu gimana ? ga pusing ? keringet dingin ? atau..apa gitu ?" paniknya dengan meraba badan, lengan bahkan wajah Zio. Mencoba memastikan jika reaksi traumanya benar-benar tak muncul.
" Heii.. Kamu sedang menggodaku ya ?"
Mayra nampak tersadar, astaga May ! How stupid you are !
" Gak lah ! apaan sih ?" sangkalnya dengan raut cemberut.
" Tapi... Kamu beneran gak ngerasain apapun ?"
" Ada."
Yang bergerak di bawah sana ! dasar gadis bodoh !
" Heiii... Ditanya malah melengos sih ?!"
" Tadi kamu beneran pegangan sama Ibu itu ? udah gak takut lagi ? udah sembuh dong traumanya ?" tanya Mayra dengan antusiasnya.
Zio nampak tersadar, ia juga. Tadi ia hanya merasa terbawa oleh perasaan si Ibu lalu segera mengambil semua uang dalam sakunya dengan harap bisa meringankan beban si Ibu. Sama sekali tak ada ketakutan pada si Ibu. Bahkan sekarang tubuhnya baik-baik saja tak menunjukkan trauma.
" Yeahhh !!" pekiknya riang gembira bersama dengan Mayra. Keduanya terlihat berjingkrak bersama bahkan Zio sampai menggendong Mayra dengan memutar saking bahagianya. Tawa riang gembira begitu jelas terdengar. Finally ...
Dan begitulah kehidupan. Bersama dengan tumbuhnya empati dalam hati Zio, traumanya ikut terbawa hingga tak akan muncul ke permukaan. Balasan dari luka hati, yang harus disembuhkan dengan ketulusan hati. Dan sekarang ia telah menemukan jawabannya karena seorang Mayra.
__ADS_1
You're my amazing lady ... M A Y R A
Dan disinilah rasa sayang yang terselip dalam hatinya bertumbuh perlahan oleh pupuk nan ampuh yang hanya dimiliki Mayra, hingga tumbuh subur menjadi cinta tanpa sepengetahuan si pemilik hati sendiri.