
Zio terpaku menatap kaca persegi yang memperlihatkan Mayra dengan raut pucat pasinya di dalam ruang ICU tersebut, setelah ia berlari mengikuti para iringan perawat yang memindahkan Mayra dari ruang Operasi.
Ia terlihat mengulurkan tangan, ingin rasanya mencabut berbagai alat yang memenuhi seluruh tubuh Mayra. Menatapnya nanar, merasa sangat menyesal karena tak bisa berusaha lebih kuat lagi untuk mempertahankan Mayra. Hingga berakhir dengan hal yang begitu buruk ini.
Bagaimana Mayra ... Bagaimana caraku bertanggung jawab atas semua lukamu ? beritahu padaku bagaimana ? bangunlah dan minta segalanya padaku. Aku tidak masalah mendapat ribuan cacian sekalipun darimu, aku tak akan mempermasalahkan segala tingkah konyolmu, aku tak akan pernah membiarkanmu menangis lagi. Aku janji Mayra. Bangunlah ... Ku mohon bangunlah ... Kita masih punya begitu banyak janji. Kamu masih punya begitu banyak mimpi.
Aku memang bodoh ! seharusnya aku tak pernah ragu memilihmu. Jika aku tahu kehilanganmu akan sesakit ini. Mayra ... Aku mencintaimu. Lebih dari diriku sendiri. Bangunlah dan aku akan ungkapkan segalanya.
Bukan Shanon, tapi kamu. Kamulah yang dipilih hatiku Mayra. Bangunlah ...
Cukup dengan kepergian Mama. Karena aku mungkin tak akan sanggup lagi jika harus kehilangan seseorang seberharga itu lagi. Tak bisa Mayra ... Kumohon ... Demi apapun yang menjadi impianmu ... Bangunlah Mayra ... Dengarkan aku kali ini saja ...
Air mata terlihat menitik setetes demi tetes, seiring dengan tertunduknya wajah Zio. Sungguh hatinya terasa sesak, amat sesak sampai sulit sekali untuk mengambil napas.
Jangan pergi Mayra. Jangan tinggalkan aku sendiri lagi. Jangan ... Kumohon ...
Zio terlihat semakin menunduk, mengepalkan tangan meninju tembok bahkan menghantamkan kepala pada tembok berulang. Sungguh ia merasa menjadi laki-laki terbodoh di Dunia. Tak berani memutuskan langkah. Hingga berakhir penyesalan yang sungguh tiada berujung.
Radit tiba dan segera menarik sang Tuan, " Apa yang anda lakukan Tuan ?"
Zio menatap kosong pada ubin demi ubin yang berderet rapi, " Bodoh ! Aku tidak bisa menjaganya Radit ! aku gagal ! aku gagal menjadi ksatria untuknya ! aku ..." Ia berbalik, menghempaskan punggung pada tembok hingga berakhir merosot dengan tangis menggebu, sungguh Zio terlihat seperti seorang yang sangat bodoh di mata Radit ketika terpukul seperti ini.
Radit menghela napas, menepuk pundaknya pelan, " Nona akan baik-baik saja. Anda harus terlihat baik juga untuk menyambutnya bukan ? mari saya antar menemui Dokter untuk mengobati anda."
Zio masih saja menatap kosong dengan mata memerahnya, meski telah bergerak oleh tarikan tangan Radit sekalipun.
" Aku ingin bersama Mayra Radit."
" Iyaa... Tapi luka anda. Hmm... Sangat tidak keren."
Zio tersenyum kecut, " Dia tak akan peduli." air mata terlihat kembali menetes.
__ADS_1
Sungguh sebenarnya Radit telah kehilangan kata-kata. Hingga sebuah ide melintas, " Nona masih harus di rawat intensif pasca operasi. Luka anda harus diobati agar tak menyebabkan kabar miring."
Kumohon...
" Heh ... Lagi-lagi aku selalu berakhir dengan sikap yang sangat egois." Lalu mulai melangkah mengiringi Radit.
***
Ibu dan Rindi tiba dari mushola setelah kepergian Zio, sementara Bapak mulai terlihat mendekat dengan tatapan sendunya. Meski sudah menguatkan tekad ternyata memang tak semudah itu, tapi ia adalah tiang yang tak boleh rubuh agar anggota keluarga juga tak tumbang. Ia harus tegar dan berfikir dengan rasional.
" Apa kata Dokter Pak ?"
Bapak sempat terdiam beberapa saat, " Kita hanya bisa mendo'akan yang terbaik Bu ..."
" Maksudnya Pak ? Mayra gak akan kenapa-napakan ?"
Bapak menghela napas, " Nggak ... Nggak apa-apa Bu."
Hati Bapak sudah seperti terbelah oleh Guntur yang kesekian kali menyapa. Bagaimana jika istrinya semakin stres saat mendengar kondisi Mayra. Melihat kondisi Ibu yang terlihat lemah bahkan tak mau makan sedikitpun. Tapi, bagaimanapun Ibu memang berhak tau.
" Kondisi Mayra melemah. Ada kemungkinan dia ... Koma." Ucap Bapak dengan menunduk. Sungguh hatinya kembali mencelos, berdetak tak menentu. Diliputi berbagai kecemasan.
" Ya Allah Mayra ..." Ibu kembali tersedu, begitupun Rindi yang merasa begitu tertampar. Ia berada di sana seharusnya ia bisa menyelamatkan Mayra.
Prangg
Hingga suara pecahan barang terdengar terjatuh, seketika membuat ketiganya menengok pada arah suara.
Apa ? May ? bilang sama gue kalo semua ini becanda !
Namun seketika raut cerianya berubah pias, menatap ketiga pasang mata nanar di hadapannya.
__ADS_1
" Mayra ? koma ?" bertanya dengan mimik sendunya, air mata akan terjun bebas dalam beberapa detik kemudian.
Ibu semakin tersedu, Bapak segera menuntunnya untuk duduk. Tika menghampiri kaca, melihat keadaan Mayra. Sangat memprihatinkan, gadis yang begitu ceria, menebar senyum secerah mentari untuk menyinari para anak kurang beruntung, gadis baik hati dengan segala ketulusan yang melekat erat terbaring tak berdaya dengan berbagai alat di tubuhnya.
May .. Bangun ... Gue kangen ... Mending elo teriak maki gue daripada kaya gini May ... Bangun ...
Rindi berjalan mendekat, menepuknya pelan. Tika membalas dengan pelukan, hingga keduanya tersedu bersama.
***
Mayra terbangun pada sebuah tempat rimbun dengan berbagai pohon yang tinggi menjulang, ia berjalan mengikuti kupu-kupu yang beterbangan begitu indahnya tertawa bahagia seolah tak merasakan sakit apapun.
Hingga para kupu membawanya pada Kakek Nenek yang dulu begitu menyayanginya, tengah melambai bersama ke arahnya. Dengan senyum ceria ia ingin menghampiri. Namun tangannya tertahan, oleh genggaman seseorang yang sedang bersimpuh di belakangnya.
Kumohon Mayra... Jangan pergi. Aku mencintaimu sangat mencintaimu. Izinkan aku berusaha dengan sangat keras untuk mendapat maafmu. Jangan pergi Mayra ... Bangunlah
" Ziio ..." Ia menatap nanar pada Zio yang tengah bersimpuh di hadapannya, tak terasa air mata meleleh dengan sendirinya.
Hingga melihat Ibu, Bapak, Khadija, Fahmi, bahkan Rindi dan Tika menatapnya penuh harap, berdiri di belakang Zio.
Air mata Mayra menitik perlahan, membuat Zio terkesiap. Hingga dengan segera memanggil suster dari sebuah alat di atas nakas.
" Sus dia menangis. Apa ini artinya ia akan segera siuman ?" tanya Zio bersemangat ketika suster tiba.
Suster terlihat mengecek berbagai alat yang terpasang, " Kondisi pasien semakin membaik. Mungkin sebentar lagi akan siuman." ucap sang suster dengan senyum ramahnya.
" Benarkah Sus ?"
Suster mengangguk, " Berkat cinta kasih dari para keluarga juga orang terdekat, pasien bisa merasakan dan mampu bangkit dari keterpurukan." ucap sang Suster menutup kalimat lalu melenggang dari ruangan ICU tersebut.
" May ... Aku yakin kamu bisa ... Bangunlah ... Aku akan menunggumu ... Aku mencintaimu Mayra ... Tolong beri aku kesempatan agar tak mengulang kebodohan yang akan aku sesali seumur hidup. Bangunlah ..." ucap Zio dengan raut bahagia, di balik tangis haru meski hanya mendapat sedikit kabar kemajuan dari kondisi Mayra. Setidaknya ia masih memiliki harapan, agar Mayra bisa selamat dan hidup bahagia bersama dengannya selamanya.
__ADS_1