KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Siuman


__ADS_3

Ibu tengah berdo'a seusai melaksanakan sholat tahajud. Ya dalam ruangan Mayra, tak boleh memang namun Ibu bersikeras. Ini demi kebaikan putrinya begitulah ia dengan pendiriannya. Hingga setiap malamnya selalu bersujud memohon kepada Yang Maha Kuasa agar memberi kesembuhan untuk sang putri. Tak jarang Ibu terlihat tertidur hingga keesokan pagi.


Setelah usai merapikan diri, Ibu kembali menjenguk Mayra. Sangat berharap sang putri membuka mata pagi ini. Dan ya, jawaban atas semua do'a Ibu terjawab.


Mayra terlihat mulai menggerakkan jari bergantian, Ibu terkesiap. Berharap-harap cemas menatap sang putri. Hingga melihat Mayra berkedip, lalu membuka mata dengan sempurna.


" Allah hu Akbar ... Alhamdulillah nak ..." Seketika Ibu meraih tubuh terbaring Mayra dalam dekapan. Terisak begitu dalam di sana.


Bapak yang melihat dari luarpun segera memanggil Dokter yang memang dipersiapkan Zio untuk menjaga perkembangan Mayra setiap menit tanpa terlewat.


Dokter segera tiba, meski Ibu tak dapat menghentikan tangis sedetikpun. Namun Dokter tetap memberi arahan agar Ibu menunggu di luar sementara para Dokter memeriksa.


Semua bagian tubuh Mayra diperiksa, lalu perlahan tangan profesional nan cekatan para perawat melepas beberapa alat yang terpasang pada tubuh Mayra. Lalu bertanya pada Mayra, " Ada keluhan Nona ?"


Mayra tak menjawab, ia sedang meraba situasi yang berada hadapannya.


" Halo Nona ? Anda dapat mendengar saya ?" Dokter terlihat mengibaskan tangan pada wajah Mayra. Membuatnya seketika terkesiap, " Ya. Dok ..." Suaranya terdengar serak dan lemah.


" Baik ... Ada yang di keluhkan Nona ?"


" Sa ... Kit." Mayra menunjuk pundak sebelah kiri yang memang terasa begitu nyeri.


" Baik ... Kami akan berikan obat pereda rasa sakit."


" Sa, ya ke, ke, napa Dok ?" Mayra tak mengingat begitu jelas kejadian itu, ia hanya samar mendengar suara yang begitu keras lalu tak sadarkan diri setelahnya.


Tak menjawab Dokter hanya tersenyum menatapnya, " Selamat sudah terbangun Nona ..." Lalu menepuk perlahan punggung tangan Mayra, lalu mengambil langkah keluar ruangan setelahnya.


" Pasien akan kami pindahkan kamar, stelah itu keluarga diperbolehkan menjenguk. Tapi maksimal hanya dua orang dahulu. Harap tetap menciptakan suasana tenang dan nyaman mengingat kondisi pasien belum terlalu kuat ya ..." Ucap Dokter pada Bapak juga Ibu yang masih saja tak berhenti menangis haru juga mengucap syukur dan berterimakasih kepadanya. Ia tampak tersenyum lalu melenggang kemudian.


Kondisi Mayra terlihat semakin membaik setiap harinya, bahkan suara nyaringnya sudah mulai terdengar meski tak sepadat biasanya.


" Bu ..."


" Iya May ? Ada apa ?"


" Aku kok gak lihat Zio ? Dia ..." Sebenarnya ia berulang kali mencoba untuk tak memikirkannya. Karena jika pada kenyataannya Zio memutuskan bersama Shanon, malah ia sendiri yang akan semakin terluka. Namun ia sudah tak kuasa berseteru dengan batin, dan memilih bertanya langsung pada Ibu.


Ibu seketika menghentikan aktifitas memotong buah pepaya untuk Mayra, " Eh ... Iya ! Ibu sampe lupa gak kasih kabar kamu udah siuman. Aduh gimana sih ini ..." Lalu berusaha mencari ponsel dalam tas coklat tua miliknya.

__ADS_1


Mayra hanya melongo melihat Ibu kalang kabut mencari ponsel, karena tak ketemu di dalam tas. Lalu seketika terkikik, " Itu lagi di charge Bu ..." Lalu menunjuk pada meja kecil di samping sofa.


" Jadi Zio gak tau kalo Mayra udah sadar Bu ?"


" Ya tau darimana kan dia lagi ke luar negeri. Ibu kelupaan ngabarinnya saking bahagia kamu sadar." Ucapnya sambil sibuk mengusap layar ponsel, mencari kontak Zio.


Tut ... Tut... Tutt


" Gak di angkat May ..." Suaranya terdengar cemas.


" Lagi sibuk kali Bu ... Nanti aja lah kasih kabarnya."


" Iya, ya ... diakan orang penting ..." Lalu meletakkan ponsel kembali.


Ibu terdengar menghela napas, " Kalo gak ada nak Zio gak tau deh apa yang bakalan terjadi Ama kamu May ... Ibu liat dia sabar banget nungguin kamu waktu itu. Sedihnya dia sampe berasa ke Ibu May. Kadang Ibu mikirnya bisa-bisanya sayang sama nene lampir."


" Ibuuu ..."


" Heyoo ... Jangan kenceng-kenceng suaranya ! Mentang-mentang udah sadar ! Di hemat itu tenaga biar gak KO lagi. Bikin takut sepaguyuban aja kamu tu !" Ucap Ibu sambil menunjuk Mayra lalu meletakkan sepiring buah pepaya, di samping meja tempat tidur.


" Paguyuban apa coba ! Dih ... Sss aww !"


Mayra melahap dengan raut cemberutnya. Dengan pikiran yang masih saja melayang pada Zio. Terasa janggal saja, semua orang terlihat begitu bahagia dengan kesadarannya. Namun tak mendapatkan respon apapun dari seseorang yang begitu ia harapkan. Hampa, ya terasa hambar seperti menu yang ia makan setiap harinya di Rumah Sakit ini.


Sebenarnya bukan Zio tak tahu akan kondisi Mayra yang telah siuman, namun ia yang tengah berada dalam kolam kesibukan sama sekali tak memiliki waktu seluang itu untuk hanya sekedar menelepon. Sungguh ia berada pada jadwal super padat yang bahkan tak jarang membuatnya tak tidur di malam hari. Ia hanya harus berpuas diri menerima setiap potret kegiatan Mayra di sela-sela meetingnya. Senyum cerah Mayra di balik raut pucatnya sedikit memberinya energi untuk segera menyelesaikan urusan di sini agar bisa segera bertemu Mayra. Senyum simpul terulas seketika bayangan bahagia tersebut hinggap di pikirannya. Hingga suara salah seorang karyawan menyadarkannya lalu kembali pada aktifitas super padatnya.


Tunggu aku May ...


Hari berlalu, Mayra yang sudah semakin membaik sudah tak betah berada di Rumah Sakit. Hingga selalu saja merengek ingin pulang, ia memanglah gadis berjiwa bebas yang tak akan betah terkurung Ibu sangat memahaminya. Namun apa mau di kata, Dokter masih belum memperbolehkan kepulangan Mayra.


" Luka kamu masih butuh penanganan khusus Dokter May ..." Meski lelah menjawab segala rengekan Mayra, Ibu terlihat bersikap sesabar mungkin menghadapi putrinya sulungnya tersebut.


" Aaa ... Ibu ... Kan bisa rawat jalan aja ..."


" Gak bisa May ... Lagian mau tinggal dimana ? Kalo musti bolak balik kerumah kesini jauh, kasian Kamunya malahan."


" Aa.. kan ada ap ... " Seketika Mayra tersadar hingga tak melanjutkan ucapannya.


" Apa ? Hayo apa ?"

__ADS_1


" Ish ! Kan bosen Bu tiap hari begini terus ih .. Udah seminggu ini. Mayra udah sehat nih." Lalu mengangkat tangan mengepalnya.


" Ya udah bilang aja sama Dokternya."


" Enggak ah. Dokternya serem." ia terlihat bergidik.


" Assalamu'alaikum ..." Suara berat seseorang datang menyapa.


" Wa'alikumsalam ..."


" Eehh ... Bapak ... Silahkan ... Silahkan Pak ..." Ibu terlihat menghampiri dan mempersilahkan Opa duduk.


" Opa ?"


" Mayra ... Akhirnya sadar. Gimana sudah baikan ?"


" Alhamdulillah Opa ... Opa gimana sehat ?"


" Hahaha ... Seperti yang kamu lihat. Kamu masih sama ternyata, begitu perduli pada orang lain."


" Ah, Opa bisa aja ..."


" Oh ... Iya Zio sedang sangat sibuk. Tapi sekarang sudah di jalan pulang. Sampai ngebut kerja supaya cepat pulang dan bertemu kamu May ..."


Mayra terlihat menutupi pipi yang tengah bersemu merah jambu, " Walah bisa malu-malu juga ternyata ... Hahaha ..." Suara tawa bahagia terdengar dari luar ruangan, Aldo tampak mengintip pada sebagian kaca di pintu. Lalu berbalik arah, mengurungkan niat untuk menjenguk Mayra lagi. Hah. Entahlah. Mungkin memang sudah tak ada kesempatan untuknya bertemu Mayra. Tak apa, asalkan Mayra bisa selalu memancarkan senyum ini setiap harinya.


Meski tak dapat di pungkiri. Hatinya terasa begitu nyeri dan perih. Bayangan yang ingin selalu ia dekap ada di depan mata namun tak dapat untuk dimiliki. Bahkan menemuinya secara langsungpun tak berani ia lakukan. Merasa begitu bodoh, sebab imbas perbuatannya lah luka Mayra saat ini. Rasa bersalah yang sama besarnya dengan cinta yang dimilikinya. Entah sampai kapan ia bisa terbebas dari keduanya. Rasanya sangat mustahil.


Opa dan Mayra tampak berbincang begitu asyiknya, menceritakan setiap daerah yang Opa kunjungi juga ikan tangkapan yang ia dapatkan. Mayra tampak begitu exited mendengar cerita Opa, membuat Ibu terheran sejak kapan putri pecicilannya tersebut menyukai ikan ? Sedang berakting kah ia ? Lalu menggeleng pelan setelahnya. Membuang segala prasangka buruk dalam benak.


Bunyi ponsel Opa mengagetkan ketiganya. " Sebentar ..." Opa terlihat mengangkat lima jarinya. Mayra mengangguk dengan senyum khas mentari miliknya.


Begitu bahagia, mendapat fakta dari Opa bahwa Zio memanglah begitu mengkhawatirkannya. Ia sangat senang, berbunga seperti taman kala musim semi tiba.


" APA ?!"


Hingga suara Opa mengagetkannya, membuatnya dan Ibu segera menoleh pada Opa.


" Apa maksud kalian ?! Ada apa dengan Zio ?!!"

__ADS_1


__ADS_2