
Mayra mulai berhenti, perlahan ia mengusap air mata juga ingusnya. Ia terlihat menyadari hari yang telah malam gelap, hanya temaram lampu taman dan pasti dua pengawal itu yang menemaninya pikirnya. Lalu dengan segera mendongak, dan betapa terkejutnya ia melihat sosok Zio sedang terdiam memandanginya dengan senyuman mautnya. Ia terbelalak tak percaya bahkan sampai mencubit tangannya sendiri, " Aawww !" pekiknya saat merasa sakit sendiri, " Kenapa mencubit diri sendiri ? takut ini mimpi ? biasanya kamu meraba seperti ini," dengan mempraktekkan kedua tangannya meraba wajahnya sendiri, " Sampai membuatku bingung, kamu sedang memastikan atau menggoda." mengakhiri kalimat dengan senyum simpul.
" Dihh ! ngaco !" Mayra tampak mengerucutkan bibir, " Kamunya aja kepedean !" ia nampak tak setuju dengan dalih yang Zio lontarkan.
" Kenapa menangis begitu, tahu sendiri Kalista memang seperti itu. Radit akan memberinya pelajaran. Jangan bersedih lagi, oke ?" ucapnya dengan suara rendah yang begitu menggetarkan jiwa.
" Siapa yang nangisin Kalista. Enak aja ! ngapain uler Kek dia ditangisin. Kaya ga ada kerjaan aja." jawabnya jengah.
" Lalu ?"
Mayra nampak salah tingkah sendiri, tak mungkinkan ia jujur jika sedang menangisi Zio bisa terbang melayang tinggi di awan dia. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik. Zio pasti akan meledeknya seumur hidup, seperti waktu itu saat ia mengucap ' I love you' di depan tamu undangan. Memalukan !
" Ya pokoknya bukan aja ! ngapain sih kepo banget, udah kaya si bawal aja !"
" Siapa ?" tanyanya dengan mengerutkan dahi.
" Itu si Tika sahabat aku yang bantuin dandan di apartemen kamu loh ... Masa ga inget sih ?"
" Ahh.. Yaa. Aku tahu, bahkan semua tentangmu aku tahu." ucapnya dengan sorot penuh arti.
Mayra mencebik, " kenapa ?" tanyanya dengan menaikkan gaya suara.
" Ingin saja." jawab Zio asal. Tak mungkinkan ia mengaku jika selalu membaca data diri Mayra saat sedang merindukannya. Bisa turun harga dirinya sebagai lelaki pikirnya.
" Dasarr ! itu apa ?" dengan menunjuk sebuah bungkusan dalam tangan kanan Zio.
" Es krim. Tapi sudah mencair, menangismu terlalu lama."
" Gapapa, sini ... Aku mau."
Zio nampak menatapnya lalu menggerakkan es krim ke kanan juga kiri, " Nanti saja, di taruh freezer dulu."
__ADS_1
" Aaa... Mau sekarang aja ... Sini GPP aku doyan, yang penting es krim ..." rengeknya agar mendapatkan si es krim.
Zio nampak memberikan sebungkus es krim, luluh juga ia ternyata, " Satu saja. Ini sudah malam."
Dengan segera Mayra meraih es krim, lalu membuka bungkusnya, membuang stick di dalamnya dan meneguk tanpa jeda es krim yang telah mencair tersebut, tak peduli sebagian lelehan es krim tak lolos dalam mulutnya. Hingga mengaliri kedua belah pipi membentuk seperti vampir karena es krim yang berwarna merah.
Zio nampak memandangnya tak percaya, " Kamu itu jorok sekali." Lalu dengan segera mengusap sisa es krim di kedua pipi bahkan bibir Mayra dengan ujung switer lengan panjangnya, sebelum Mayra sempat mengusap sendiri dengan tangan yang masih melayang di udara.
Mayra nampak menatap Zio lekat. Inilah, inilah yang membuatnya selalu tak berdaya di hadapan Zio. Kehangatannya, sentuhan lembutnya, perhatiannya semua terasa begitu nyata sampai membuat Mayra lupa bahwa telah ada Shanon dalam hati Zio, wanita yang sebenarnya dicintai Zio. Mayra hanyalah sebuah alat. Alat agar menyembuhkan traumanya, agar bisa menggapai bahagia dengan Shanon. Air matanya mulai mengalir kembali, sungguh hatinya tak kuasa memikirkan harus kehilangan laki-laki di hadapannya ini. Laki-laki yang ternyata telah begitu dalamnya merongrong lubuk hatinya dengan segala pesona bahkan perlakuannya.
Kamu jahat Zio ! selalu membuatku semakin jatuh cinta. Namun dengan bersamaan harus terhempas karena rasaku tak berbalas. Jahat ! kamu jahat Zio ! Batinnya dengan air mata yang semakin menderas membuat Zio panik sendiri.
" Heii... Kamu kenapa ?" ia masih dengan telaten mengusap air mata Mayra, membuat Mayra makin tak kuasa hingga air matanya kembali menganak sungai.
" May ... Lihat aku. Lihat aku ! Semua akan baik-baik saja. Radit akan membereskan segalanya." ucapnya dengan menangkup wajah Mayra dengan kedua tangannya.
Aku Zio. Aku yang gak akan baik-baik aja jika harus kehilanganmu ! aku benci Zio ! aku benci rasa untukmu ini ! aku benci !!!
" *Everything Will be fine. Trust me, okey ?"
Mayra nampak mengangguk dengan masih mengalirkan air mata, lalu menghela napas dengan panjangnya, meraup oksigen agar mengganti sesak dalam dadanya.
...----------------...
" See ! dia akan bertunangan Al. Sudahlah lupakan saja dia. Masih banyak wanita lain di Dunia seluas ini."
" Banyak jika bukan Mayra untuk apa Om ? aku tidak akan menyerah, aku akan merebut Mayra dari tangan monster sialan itu !" ucapnya dengan mengeraskan rahang juga tangan mengepal.
" Hahh ! Lihat sendiri kemarin, anak buah Om babak belur semua. Dia bukanlah lawan yang mudah."
" Apa Om takut ?"
__ADS_1
" Bukan takut kalah. Om hanya takut kamu terluka Al. Mamamu sangat bahagia bisa kembali bertemu denganmu. Dan melawan seorang Ziovano, berarti kamu harus siap terluka."
" Om tidak mempercayaiku ?!" nadanya meninggi, emosi telah merasukinya kini.
" Tidak, bukan Om tidak percaya. Hanya Om ..."
" Sudahlah Om tenang saja, aku yang akan memikirkan caranya. Om hanya harus siap membantuku menyiapkan strategi yang lebih matang agar tak gagal seperti kemarin."
" Hahh... Kamu sangat keras kepala !"
Aldo nampak tersenyum simpul, ia begitu bahagia karena kini memiliki keluarga yang akan selalu melindungi bahkan memberi bantuan ketika ia melakukan sebuah kesalahan sekalipun. Memiliki seseorang di pihak kita, adalah kebahagiaan semu namun begitu membanggakan.
...----------------...
Zio dan Mayra telah sampai di depan pintu apartemen. Zio nampak melangkah lebih dulu, menyalakan lampu dalam apartemen gelap gulitanya. Berjalan menuju kulkas untuk meletakkan beberapa bungkus es krim yang di belinya tadi.
" Kamu tak apa sendiri ?" tanya Zio dengan terduduk di seberang sofa yang Mayra duduki.
" Hmm.." dengan mengangguk.
" Baiklah. Jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku." dengan bangkit, lalu berjalan menuju pintu.
" Zio... "
Zio menoleh, " Bicaralah."
Ingin rasanya Mayra segera menanyakan sebuah kepastian, tentang bagaimana perasaan Zio sebenarnya kepadanya. Namun, untuk kesekian kalinya. Lidahnya selalu terasa kelu jika ingin mengucapnya. Hingga berakhir diam. Lalu kembali menelan kekecewaan seorang diri.
" Bisakah ..."
Kamu mencintaiku saja, bukan Shanon ? bisakah bahumu menjadi tempatku bersandar selamanya ? bukan untuk Shanon atau wanita manapun itu ? Bisakah kita selamanya bersama ? bisakah cintaku mencukupkan kehidupan indah dan bahagia untuk keluarga kita kelak ? air matanya kembali menderas, membuat Zio berbalik lalu mendekapnya dalam pelukan.
__ADS_1
Sebenarnya ada apa denganmu Mayra ? pasti ini bukan tentang Kalista kan ? Batin Zio lalu mengusap lembut rambut halus nan lembut Mayra yang tergerai indah dengan tubuh dalam dekapan dadanya.
Mayra terdengar semakin sesenggukan dalam dekapan Zio, bagaimana ? bagaimana aku harus menjalani hidup tanpa dekapan ini Zio ? bagaimana ? semakin perih dirasanya kini, seharusnya dari awal dia tak boleh menyimpan pria ini dalam hatinya. Semua berawal dari empati bodoh dalam dirinya, yang menganggap Zio pangeran berkuda putih karena rela mengorbankan diri hanya untuk menyelamatkan dirinya. Dan semua itu membuatnya terjerumus. Terjerumus dalam kubangan berlumpur yang menyesakkan, bernama cinta.