Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
1. Orang Tua Adalah Tuhan


__ADS_3

Apa ada sesuatu yang bisa menghancurkan wanita selain rasa cintanya pada pria tapi terkhianati?


Menurut Hestia ada.


Itu adalah kekerasan dari sosok cinta pertama nyaris seluruh wanita, yaitu ayahnya.


Ini adalah kali kesekian Hestia diam ketika tubuhnya dipenuhi memar. Lurus menatap ke arah meja kerja Darius yang baru saja mematahkan tongkat golf ke tubuhnya.


"Sekarang kamu paham?"


Bekas tongkat itu dibuang dan asistennya datang memungut tanpa sedikitpun mau ikut campur pada hal biasa yang terjadi itu.


"Papa sudah bilang setidaknya jaga mulut kamu di depan Ronal! Peduli setan kamu suka dengan dia atau tidak! Apa susahnya bicara baik-baik daripada melempar gelas minuman ke wajah dia!"


Padahal barusan memukul putrinya dengan tongkat.


Hestia hanya diam. Bukan tidak bisa melawan. Ia malas.


Di dunia ini, orang tua adalah Tuhan bagi anaknya. Itulah yang Hestia pahami.


Mereka bilang A, patuhi saja A. Mereka bilang B, patuhi saja B.


Mau suka mau tidak, itu bukan urusan anak. Karena orang tua sudah lebih dulu mencicipi garam jadi mereka paham pahit asam manis kehidupan.

__ADS_1


Lagipula kalau di sini ia bilang si Ronal entah siapa anak rekan bisnis Papa itu ternyata sedang teler oleh narkoba di pertemuan mereka, memangnya Papa mau apa?


Mau gantian memukul Ronal? Atau mau sekalian memukuli Hestia bersama Ronal?


"Maaf, Pa." Hestia mau cepat-cepat keluar. "Aku tidak sengaja."


"Kamu kira saya tolol? Bagaimana tangan kamu tergelincir sampai gelas terlempar ke muka orang?!"


Ya tentu saja karena itu cuma alasan.


"Sudah." Darius mengibaskan tangan setelah puas melampiaskan marah. "Masuk ke kamarmu dan kerjakan tugasmu. Saya tidak mau dengar ada masalah lagi."


Hestia berkata baik, lalu keluar.


Bukan untuk ke kamar, melainkan untuk ke garasi.


Ia cuma mencengkram kuat setir mobilnya, melaju kencang tak tentu arah sampai sebuah panggilan masuk dari teman-tidak-dekatnya.


"Hai, Beb. Kamu sudah selesai dengan sesi 'Papa-Sangat-Marah'mu?"


Hestia tersenyum kecut. Saking biasanya, itu jadi candaan untuk mereka yang tahu.


Tidak ada gunanya memang bersedih. Hestia pernah menangis terisak-isak empat hari karena otaknya mulai tak tahan menerima kekerasan, namun tidak ada yang menolong, tidak ada yang berkata jangan pada Darius.

__ADS_1


Harus terima. Karena Hestia adalah anak dari bisnisman besar dan anak seorang pebisnis tidak boleh lembek.


"Kurasa sudah. Punggungku lebam parah sekarang. Ada apa? Kamu mau mengobatinya?"


"Aku punya sesuatu yang jauh lebih menyenangkan daripada ke dokter melaporkan lebam yang ada lagi sebelum yang kemarin sembuh. Datang ke tempatku sekarang."


"On my way."


Paling clubbing. Mabuk-mabukan dalam kondisi memar parah begini enak, loh. Hestia sudah coba berkali-kali, jadi segera ia memutar arah mobilnya, ke arah klub malam yang dimiliki oleh teman-bukan-temannya itu.


*


Sebenarnya, selain mabuk-mabukan, Hestia tidak terlalu suka klub malam. Karena musik di tempat ini berdentum sampai ke jantung dan tidak ada sudut di mana dirinya bisa menenangkan diri dari masalah 'dipukuli papa lantaran terlalu nakal'.


Iris yang memanggilnya langsung menyapa Hestia sambil terbahak menanyai bagaimana kronologis pemukulan itu, dan Hestia cuma tersenyum masa bodo meski badannya ngilu.


Sudah ia bilang, Iris itu teman-bukan-teman.


Teman-tidak-dekat.


Dia bukan jenis teman yang akan merangkul Hestia lalu menanyainya bagaimana perasaan Hestia setelah dikerasi, jadi Hestia pun tidak repot-repot mau berbagi.


*

__ADS_1


...selamat datang di karya Candradimuka. penulis selalu berharap pembaca betah dan suka sama cerita ini. dukungan kalian, dalam bentuk apa pun akan jadi faktor terbesar perkembangan karya dan penulisnya sendiri. ...


...terima kasih. 🙂✌...


__ADS_2