
"Yuje-nii."
"Hm?" Yujerian berhenti bermain rubik, mengulurkan pada adiknya. "Ingin coba?"
Pikir Yujerian, Yuveria sedang bosan.
Saat ini mereka berada di pesawat, dalam perjalanan menuju Jepang. Karena masih awal-awal penerbangan, kesadaran Yuveria masih ada. Terlebih, ada Sahna di dekat mereka hingga ketiganya bisa mengobrol.
Dari tadi Yuveria menceritakan rumah mereka pada Sahna, lalu dia diam, makanya Yujerian pikir dia sudah mulai bosan.
Ternyata bukan.
"Mada okotteru no?" [Kakak masih marah?]
"Nina ga?" [Soal apa?]
"Chichi-ue." Yuveria mengambil rubik itu. Bermain sambil mulai berguman rendah. "Yuve wa ne, mo yurushite—" [Kalau Yuve, mungkin sebaiknya memaafkan—]
"Wasureru no?!" Tanpa sadar, Yujerian meninggikan suaranya. "Aitsu ni shita koto, wasureru no?!" [Kamu sudah lupa?! Apa yang orang itu lakukan, kamu lupa?!]
Suara Yujerian sangat tinggi. Tidak hanya membuat Yuveria terpaku dan Sahna menegang, tapi Hestia juga menoleh bersama para orang tua yang hadir.
Mereka anak-anak duduk di kursi panjang bersama, sementara yang lain menyebar membentuk kelompok.
"Yujerian." Hestia langsung berdiri. Tidak terbiasa mendengar anaknya berteriak sekeras itu.
Tapi Yujerian gelap mata. Sebenarnya bukan dia marah pada Yuveria, tapi dia marah pada kenyataan Yuveria memaafkan Eros.
Dada Yujerian masih sakit. Kenapa adiknya memaafkan orang itu padahal Yujerian bahkan tidak bsia berhenti membencinya?
__ADS_1
Yang dia lakukan pada Hestia, yang terjadi pada Hestia karena dia tidak berguna, yang mereka berdua alami karena Eros tidak ada; bagaimana caranya lupa?!
Tiap malam Yujerian mau menangis. Badannya menggigil takut karena Hestia harus berjalan sambil tidur, kepalanya sakit mendengar Yuveria terisak iri pada Hinatsuru, lalu sekarang tiba-tiba dia dimaafkan?
"Nii, Yuve hanya—"
"Yuve wa itsumo wagamama." Yujerian kehilangan kontrol dirinya. "Zembu Yuve no koto bakkari." [Yuve selalu saja egois. Semuanya hanya tentang Yuve saja.]
Hestia berjalan terburu-buru mendekati mereka. "Yujerian, ada apa? Kenapa bertengkar?"
Tapi Yujerian fokus pada Yuveria. Adiknya yang diberi kalimat semacam itu mulai menangis. Menatap mata Yuveria dengan penuh rasa teeluka.
"Yuve hanya mau Nii berhenti terluka!"
"Do yatte?!" teriak Yujerian lebih keras dan kasar. [Bagaimana caranya?!]
Omongan Hestia tak dapat menghentikan itu.
"Yuve tidak ingin aku terluka tapi segala yang Yuve pikirkan hanya diri Yuve!"
Yujerian pasti akan menyesali perkataannya. Namun, apa yang bisa dilakukan saat anak kecil marah?
Tidak ada selain membiarkan perasaannya mengalir.
"Yuve tahu apa yang aku tanggung?! Yuve mengerti apa?!"
"Yuve juga lelah!" balas Yuveria berteriak.
Kini semua orang menatap mereka, dan Sahna menyingkir secara terpaksa.
__ADS_1
"Yuve juga tidak ingin Haha-ue sakit lagi, tapi jika Chichi-ue tidak ada, Haha-ue akan terluka juga. Kenapa Nii tidak mengerti?!"
"Ja do sereba i no sa?!" Yujerian mengamuk. [Lalu apa yang harus aku lakukan?!]
"Jika Yuve sangat ingin bersama orang sialan itu, pergi saja bersama dia! Aku lelah harus mengurus Yuve setiap saat!"
Yuveria mematung. Kini secara terpaksa Hestia menggendong Yujerian, dan Eros meraih Yuveria.
Butuh usaha ekstra keras agar Hestia tak menangis. Sebab siapa pun yang memahami mereka juga akan tahu, alasan pertengkaran itu adalah karena Hestia dan Eros.
Yujerian tak bisa memaafkan ayahnya yang menghilang di masa kecil mereka, sedangkan Yuveria justru sudah lelah harus berjuang bersama Yujerian.
Semua karena Hestia dan Eros.
...*...
Hestia menepi bersama putranya untuk duduk diam. Sementara waktu mungkin lebih baik diam, mengusap-usap punggung Yujerian yang pelan-pelan mungkin menyesali perkataan mulutnya sendiri.
Sebagai manusia, apalagi anak kecil, wajar dia lelah. Bahkan kalau dia mengeluh capek mengurus adiknya, itu benar-benar wajar dan tidak mengurangi rasa sayang di hatinya pada Yuveria.
Tidak mungkin Hestia menyalahkan dia.
Mereka diam, terus diam sampai pesawat mendarat di tempat tujuan.
"Yuuki-san, ayo turun. Semua orang menunggu."
Ternyata, Yujerian tidak mau. Meski satu per satu penumpang turun, anak itu menggeleng, menenggelamkan wajahnya di bahu Hestia.
*
__ADS_1