
Eros menurutinya, menurunkan Yuveria agar mereka berdua bisa mendekat.
Laura dan Astria langsung senang memeluk mereka, sementara saudara laki-laki Eros dan ayahnya hanya menatap.
"Mereka hanya bisa berbahasa Jepang?" Ayahnya Eros tahu bahasa Jepang. "Kenapa anakmu bisa tinggal di Jepang?"
Sejenak, Eros melirik ibu dan adiknya yang bersenang-senang mengajak Yuveria dan Yujerian bicara.
Mereka berdua masih malu-malu hingga tak bersuara, tapi tampaknya tidak akan terlalu lama juga. Lagipula, mereka berdua bukan pemalu.
"Jitsua, Jiji—" enak juga memanggil ayahnya dengan sebutan jiji, serasa ada kepuasan pribadi bercampur dendam masa lalu, "—are ... Hestia no ko." [Sebenarnya, Pak Tua, itu ... anaknya Hestia.]
"Hah?"
Rion, adiknya juga tahu bahasa Jepang. "Kenapa kamu mengatakannya dalam bahasa tidak jelas itu?"
Eros mengedik ke adik perempuan dan ibunya. "Mendokusai dakara ni kimatteru daro." [Bukankah sudah jelas karena akan merepotkan.]
"Who's the mother?" Ayahnya memastikan.
Eros melirik lagi, dan menjawab kecil. "Hestia."
"And which one?"
"Darius."
Panji menyemburkan kopinya begitu saja. "Hah?"
"Ssshhhh." Eros tidak mau dulu ibu dan adiknya ribut. "Enam tahun lalu, aku dan Hestia menghabiskan waktu singkat bersama. Sekitar satu dua bulan sebelum dia menghilang."
"Hei, tunggu." Rion menopang dagu. Mereka masih berkomunikasi dengan bahasa Jepang. "Kenapa aku mendengar bahwa Hestia yang itu berkeliling dunia dan merahasiakannya?"
"Apa dia harus memberitahu semua orang bahwa dia hamil anakku jadi dia kabur ke Jepang?"
"Benar juga."
Panji memijat keningnya, pusing mendadak. "Lalu? Apa yang ingin kamu katakan?"
"Aku ingin menikahi Hestia."
Hening.
"Kudengar punya anak membuat pria menjadi tol*l." Rion mengangkat gelasnya dan bersulang dengan udara. "Ma ganbatte shika ienai." [Yah, aku hanya bisa berkata 'berjuanglah'.]
__ADS_1
"Jiji." Eros memutuskan akan mulai memanggil ayahnya Jiji saja. "Tanomu kure." [Tolonglah.]
"Aku tahu permusuhan antara keluarga kita dan keluarga Darius. Tapi aku berjanji aku tidak akan membuat masalah."
"Bukankah menyukai dia sudah merupakan masalah?" balas Rion, yang ia abaikan daripada nanti Eros skak.
"Katakan saja langsung."
"Aku ingin menyanggupi permintaan Darius sebagai kompensasinya jika aku melamar Hestia."
"Dasar anak gila." Panji sepertinya mau melempar gelas ke wajah Eros.
Tapi sempat dia melihat Yujerian dan Yuveria yang menyimak pembicaraan mereka, jelas paham apa yang sedang dibicarakan.
"Bukankah lebih aman jika kalian berpisah saja? Lagipula Ayah dengar Hestia menerima lamaran Yohannes Gouw. Melihat dari pembicaraan mereka, sepertinya paling lama hanya lima bulan lagi. Relakan saja Hestia, menikah dengan wanita lain. Publik hanya tahu mereka anakmu, bukan anak Hestia."
Sudah Eros duga.
Keluarganya juga keluarga yang memikirkan segala jenis keuntungan dan kerugian. Mereka jelas kalah dan rugi jika harus memberikan permintaan Darius hanya agar Hestia bisa masuk ke keluarga mereka, sementara dari dulu keluarga mereka bermusuhan.
Normalnya memang pikiran itu ada.
"Orewa!" [Aku!]
Mereka tersentak ketika Yujerian tiba-tiba berteriak.
Eros hanya diam.
"Jika Haha-ue tidak menerima Chichi-ue, kami juga tidak akan mau menerimanya!" Yuveria menimpali, masih dengan bahasa Jepang-nya. "Jika Haha-ue tidak ada, kami juga tidak ada!"
Laura dan Astria terbengong-bengong. Tapi setidaknya mereka tahu untuk marah pada siapa.
"Yuve, Yuje, tenanglah. Apa Baba pukuli mereka untuk kalian? Haruskah Baba tampar mereka satu-satu?" Astria siap membuka sandalnya. "Mulai dari mana? Dari Chichi? Baiklah, dari Chichi dulu."
Yujerian mendongak pada Laura. "Haha-ue berjuang sendirian saat Chichi-ue meninggalkan kami," katanya dengan bahasa Indonesia. "Haha-ue terluka sendirian karena Chichi-ue tidak ada. Yuve selalu mencari Chichi-ue. Yuve bertengkar dengan temannya karena Chichi-ue tidak ada. Jika Haha-ue tidak bisa diterima di sini, kami juga tidak mau diterima di sini!"
Wajah neneknya langsung pucat. "AKU TIDAK MAU TAHU TAPI BAWA HAHA-UE MEREKA KE SINI! SECEPATNYA!"
Untuk pertama kali Eros merasa bangga pada anaknya yang manipulatif.
...*...
Ibu berkata begitu, tapi waktu mendengar nama Hestia, ekspresinya jadi pahit.
__ADS_1
Sadar akan ada penolakan lagi, Yujerian segera berkata, "Apa Oba membenci Haha-ue?"
Laura adalah wanita tegas yang lemah terhadap cucu pertamanya. Jadi meski Eros dapat melihat ibunya menari-nari di tangan kedua bocah itu, Laura tetap memaksanya diri.
"Tentu saja tidak, Cucuku. Haha-ue-mu akan sangat-sangat-sangaaaaaat diterima di sini. Tenang saja. Sebentar lagi orang tua kalian akan bersatu dan kalian akan bahagia."
Tapi kami tidak ingin, pikir mereka berdua.
Memang kemarin Eros mengetuk pintu hati mereka dan nampaknya itu terbuka. Meski begitu, Hestia tidak pernah sedikitpun berkata akan menikahi Eros atas keinginannya.
Kebahagiaan tidak ditentukan dari orang lain melainkan diri sendiri. Keduanya cuma mau menghentikan pernikahan Hestia dengan pria bernama Gouw itu.
"Itu akan sangat mencoreng nama baik dan harga diri kita jika mengalah pada Darius." Laura menatap Panji pasrah. "Meski begitu, mereka berdua adalah anak Eros. Mereka darah daging kita. Berikan saja apa yang mau Darius minta sebagai bentuk perdamaian. Bahkan kalau kita jatuh miskin, itu hanya tentang uang."
"Ibu."
"Lagipula, untuk apa aku mendidik dua anak laki-laki jika mereka saja tidak bisa mencari uang? Lebih baik mereka kubuang!"
"Hm-hm." Astria mengangguk-angguk bahagia karena dia sedang menyuapi Yuveria es krim rasa alpukat. "Jika ayahmu tidak berguna, maka buang saja."
Yuveria tertawa gembira. "Baba sangat pandai."
Sekarang aku tidak bertanya mengapa mereka berdua seperti itu. Eros membatin miris. Ibuku begini, adikku begitu, ibu mereka bagaimana. Jelas aneh kalau mereka anak penurut.
"Permisi." Rion menopang dagu saat semua orang melihatnya. "Memang sangat mudah menyerahkan kekayaan pada Darius. Pertanyaannya, sebelum mau menyerahkan, memang Darius mau berdamai?"
Hening.
"Aku pernah punya hubungan dengan teman adiknya Hestia, Melia. Gadis itu berkata bahwa Darius itu suka memukuli putrinya jika berbuat salah. Entah benar atau tidak, tapi kalau benar, itu berarti dia sangat tegas, kan? Sebenarnya aku juga lebih suka menelan kotoran telinga daripada berdamai dengan musuhku."
Semua mata menatap Eros, dan ia cuma bisa menghela napas.
Apa sebenarnya ia dan Hestia tidak berjodoh?
...*...
Orang bodoh itu!
Hestia berlari tergesa-gesa meski tubuhnya nyaris terhuyung oleh demam.
Bagaimana ia tidak berlari? Pagi-pagi buta dirinya mendengar kabar bahwa keluarga Eros, mulai dari Laura, Panji, Rion dan jelas juga Eros hari ini datang membawa bertumpuk-tumpuk hadiah.
Meski semua orang bertanya-tanya ada apa musuh keluarga Alejandra datang membawa hadiah, Hestia jelas sudah tahu apa niat mereka.
__ADS_1
Dia serius mau membuat masalah!
...*...