Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
70. Tidak Ada Lalu Ada


__ADS_3

"Tapi jika dipikir dari sudut pandang lain, bukankah masih ada kesempatan?"


"Kesempatan apa?"


Norman mengangkat bahu. "Hestia membenci pria sampai ke sumsum tulang belakangnya."


Lalu Eros apa? Waria, begitu? "Lalu?"


"Tidak semudah itu dia patuh menikahi pria bahkan kalau Darius menyuruhnya. Kalau mereka memang sungguhan menikah, yah, mungkin tidak terlalu sulit jika meminta Oto membunuh Yohannes."


"Aku tidak ingin mendapatkan Hestia dengan cara brutal." Eros berdecak. "Aku tidak sudi dipandang sebagai pria yang sejenis dengan Darius. Hestia bermain dengan dunia kotor itu sejak lama. Jika kulakukan, ujung-ujungnya dia berpikir aku punya otak yang sama."


"Memangnya tidak?"


"Diamlah."


Eros beranjak dari kasurnya. Pergi ke kamar Yujerian dan Yuveria untuk melihat mereka ternyata masih terjaga.


Keduanya sedang menyusun lego membentuk istana, meski sempat saling memandang penuh kebingungan, mereka tidak menyuruh Eros pergi.


"Chichi." Yuveria memiringkan wajah. "Doushita no?" [Ada apa?]


Eros ikut duduk di karpet mereka. Menyilangkan kaki sebelum ia mengulurkan tangan, berharap Yuveria pindah ke pelukannya.


Anak itu masih mau berpura-pura baik pada Eros. Dia pindah, memeluknya hingga Eros bisa merasakan debaran jantung Yuveria.


"Ayah berharap waktu berputar." Eros membelai rambut panjang Yuveria. "Ayah berharap tahu lebih awal."

__ADS_1


Mata Yujerian melihatnya bingung. Tapi Eros memejam, meresapi kehangatan dari tubuh kecil putrinya yang terluka selama bertahun-tahun akibat ketidaktahuan Eros.


Yuveria menggeliat, melepaskan pelukan itu. Matanya juga memandangi Eros, ingin tahu kenapa ia tiba-tiba datang memeluknya.


Yang Eros lakukan hanya memandanginya. Mengusap kecil pipi menggemaskan itu, lagi-lagi ingat bahwa dia menangis membencinya lantaran terluka Eros tidak tahu tentang mereka.


"Kamu tahu?" Eros berbisik di wajahnya. "Saya tidak suka memiliki kelemahan yang menonjol."


"...."


"Saya didoktrin agar selalu sempurna. Sama seperti ibumu, dunia kami mengharuskan kami selalu sempurna melakukan sesuatu dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Kelemahan itu hal paling terlarang."


"...."


"Tapi ...." Ujung jemari Eros menyusuri wajah Yuveria. Tersenyum menyatukan kening mereka. "Kalian kelemahan saya."


"...."


Yujerian terpaku.


Lagi, denyutan sakit di dadanya datang lagi.


Denyutan yang ia yakin karena perasaan terluka oleh orang ini datang lagi.


Yujerian menelan ludah. Melihat adiknya terpaku kosong sebelum tiba-tiba dia menangis, memenuhi seisi kamar dengan tangisan kencangnya.


Mungkin dia juga merasakan itu. Rasa seperti sesuatu mengetuk luka mereka, bukan agar semakin terluka, tapi agar sembuh.

__ADS_1


Meski begitu, karena sejak dulu mereka berpikir tidak akan sembuh, justru sensasinya membuat mereka terganggu.


Napas Yujerian berembus kasar. Adiknya menangis tapi tidak melepaskan diri dari Eros. Justru dia mengubur diri di sana, hingga Yujerian sadar bahwa tubuh adiknya menggigil ketakutan.


Dia tidak ada, pikir Yujerian selalu.


Eros tidak pernah ada. Saat mereka berdua ketakutan melihat Hestia tidur berjalan, Eros tidak ada.


Saat mereka khawatir ibu mereka sakit, Eros tidak ada.


Saat mereka dihina tidak punya ayah oleh anak nakal, Eros tidak ada.


Saat mereka kesepian, Eros tidak pernah ada.


Dia tidak pernah sekalipun ada.


Ketika dia ada, dia diam saja. Tapi setelah tiba-tiba ada, dia memaksa mereka memaafkannya.


Kenapa harus dia? Dari semua pria, kenapa harus dia yang jadi ayah mereka?


Yujerian mencengkeram kuat lengan Eros sebelum ikut masuk ke pelukannya.


Perasaan aman dari pelukannya membuat Yujerian menangis. Ia benci ketika memikirkan dia ternyata punya hal ini tapi tidak pernah sekalipun datang menyelamatkan mereka.


Meski begitu ....


"Maaf." Eros berbisik di telinga mereka. "Ayah salah. Maaf."

__ADS_1


...*...


__ADS_2