Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
88. Malam Pertama Gagal Total


__ADS_3

"Ayo." Laura memberi isyarat untuk mereka naik, berperan sebagai anaknya Eros yang mau berfoto bersama ibu 'baru' mereka.


Tatapan Yujerian sejenak tersita oleh sosok pria yang berdiri tak jauh dari mereka, langsung bisa ia kenali sebagai ayahnya Hestia.


"Korosu." [Bunuh.]


Yujerian menoleh pada adiknya yang menatap penuh kebencian. Segera ia memegang kuat tangannya, berharap Yuveria tenang. "Jangan marah," bisiknya. "Haha-ue tidak suka."


Gadis kecil itu tampak mau menangis. Tapi sekali lagi, jika untuk Hestia, mereka rela melakukan apa pun.


...*...


Eros tidak terlalu peduli pada bagaimana pesta pernikahan berlangsung. Jika bukan karena formalitas, ia dan Hestia hanya akan pergi mendaftar pernikahan, diakui sepasang suami istri oleh negara, lalu pulang menikmati waktunya bersama anak-anak.


Jadi Eros pun tidak terlalu mempermasalahkan kalau Hestia hanya pura-pura tersenyum.


Malam hari ketika mereka masuk ke kamar pengantin di puncak hotel, baru Eros peduli.


Ia membiarkan Hestia mandi lebih dulu, kemudian masuk membersihkan diri.


Secepat kilat ia keluar, tentu saja merindukan malamnya bersama Hestia ... jika tidak menemukan dua bocah kini bermanja-manja di paha ibunya.


"Haha-ue lelah?" Yuveria menyuapkan potongan buah ke mulut Hestia. "Yuve dan Nii meminta Astria Baba menyiapkan buah. Jika Haha-ue lelah, Haha-ue harus makan banyak asam amino."


Yujerian sibuk mengeringkan rambut ibunya. "Haha-ue harus cepat tidur. Makanlah lalu beristirahat. Besok Haha-ue tidak bekerja jadi tidak boleh ada alasan bangun terlalu pagi."

__ADS_1


Wajah Eros langsung masam. Kedua anaknya ini kenapa usil luar biasa?


Tapi anak, mau bagaimana lagi. Jadi Eros ikut duduk di kasur, mengusap kepala Yuveria. "Kalian belum tidur?"


Keduanya kompak menggeleng. "Kami ingin tidur dengan Haha-ue."


Hestia cuma tertawa melihat kelakuan mereka. "Baiklah, baiklah. Mama sudah kenyang jadi hentikan. Ayo tidur bersama."


Malam pertama yang Eros nantikan gagal total.


...*...


Hestia jarang berinteraksi dengan laki-laki tapi bukannya Hestia tidak paham isi otak mereka.


Eros nampaknya berharap punya waktu berdua selayaknya pengantin baru, tapi kedua anaknya tidak mau memberi dia celah bahkan lima menit meninggalkan Hestia.


"Haha-ue, kami tidak boleh ikut bersama Haha-ue?"


Hari ini Hestia harus kembali ke kediaman Darius. Untuk sementara, Hestia masih belum bisa memastikan keadaan apakah aman bagi kedua anaknya ikut atau tidak.


Yujerian dan Yuveria pun cuma bisa cemberut, memegangi tangannya seolah tak mau Hestia pergi.


"Gomen ne, Yuuki, Yuuki. Mama akan membawa kalian kapan-kapan. Tetaplah di sini dulu."


Keduanya memang selalu paham apa pun yang Hestia katakan bahkan jika harus memaksakan diri.

__ADS_1


Matanya sempat bersinggungan dengan Eros, hanya memberi isyarat ringan sebelum pergi meninggalkan mereka.


Jelas saja Eros harus tetap bersama keduanya jika Hestia tak ada di sana.


Sepanjang perjalanan Hestia cuma ditemani suara senandungnya sendiri. Tiba di rumah pukul delapan malam, menemukan Darius ternyata duduk di sofa santai lantai satu.


"Saya pikir kamu datang bersama Eros."


Hestia tersenyum kecil. "Anak-anaknya masih canggung ikut denganku."


"Mereka menerimamu?"


"Tentu saja, Pa. Mereka anak yang cerdas." Hestia duduk, mengamati wajah Darius diam-diam. "Papa tidak keberatan dengan anak tiriku?"


Diluar dugaannya lagi, Darius hanya menyesap tehnya tenang. "Mengapa harus? Jika kamu menerima mereka, maka mereka layak diterima."


"...."


"Ada apa? Ada masalah dengan keluarga Panji?"


Hestia hanya tersenyum paksa. "Maaf, sudah merepotkan Papa."


Ketika Darius tersenyum kecil mengusap punggungnya, Hestia merasa mati rasa.


Apa sebenarnya ia yang salah di sini karena sangat berharap dia minta maaf untuk masa lalu?

__ADS_1


...*...


__ADS_2