
Matanya mengerjap cepat ketika menemukan wajah yang sangat amat ia kenali ikut mengerjap kaget akan kehadirannya.
"Al?"
"Hestia!" Pria itu berlari kecil menghampiri mereka. "Uwwah, maji ka yo? Hestia? Hestia na no? Ano Hestia?!" [Serius? Kamu Hestia? Hestia yang itu?]
Mulut Hestia nyaris terbuka lebar saking cengonya. Belakangan ia banyak berpikir siapa sebenarnya orang yang membuang-buang uang sebanyak ini dan ternyata dia?
Baiklah, Hestia beritahu. Al Areza Narendra adalah temannya—atau bisa dibilang begitu, dalam dunia bisnis dan saham.
Dia pewaris utama keluarga Narendra dan berusia sedikit di atas Hestia. Beberapa kali mereka berbincang santai, karena hubungan keluarga mereka juga tidak dibilang buruk, walau tidak dibilang baik.
Hestia tahu Al pernah tinggal sepuluh tahun di Jepang. Sampai-sampai dia sering keceplosan mengumpat dalam bahasa Jepang atau saat berbuat jail.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Pria itu tertawa segar. Membuat wajah tampannya terlihat bersinar. Sebelum menjawab, dia memberi isyarat agar beberapa wanita di belakangnya mendekat.
"Keluargaku berlibur di pulau ini. Adik bungsuku, Lissa, tiba-tiba ingin ke Jepang. Berhubung adikku Killua juga baru menikah, jadi sekalian saja aku memboyong mereka."
"Jadi seluruh keluargamu di sini?" Hestia agak cemas.
"Ya. Kaisar juga datang. Semuanya datang. Hanya istri pertamaku, ibuku, dan dua istri Kaisar. Mereka tetap di kastil."
Hestia mengamati teman yang Al bawa. Ia mengenali gadis satunya sebagai adik perempuan Al, Moirae, dan istri Al. Walau ada wajah asing.
"Al, rahasiakan—"
"Aku tahu." Dia tersenyum kecil. "Aku juga tahu kamu kabur dari Darius. Tentu saja tidak akan kuberitahu. Aku tidak suka berbuat jahat, mengerti?"
__ADS_1
Hestia bernapas lega, lalu menoleh pada Satou yang bingung karena mereka memakai bahasa Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Al dan dirinya teman, meski berbohong soal di mana mereka bertemu.
Ketika itu, Al mengamati Hestia dalam diam.
Sekarang Al mengerti kenapa Eros tiba-tiba meminta bantuannya.
Kebetulan Al memang berlibur di pulau ini, tiba-tiba pria itu berkata akan membiayai festival asal dibuat semeriah mungkin dan seluruh warga ikut.
Al sama sekali tidak tahu Hestia di sini. Padahal ia memeriksa semua identitas penghuni pulau demi keamanan keluarganya. Hestia mungkin mengubah sedikit namanya di kartu pengenal.
Ayo lebih baik pura-pura tidak tahu sekarang. Toh, mereka punya cara menyelesaikan urusan mereka sendiri.
...*...
Eros punya anak.
Dirinya punya anak.
Dari kemarin rasanya Eros cuma terbengong-bengong memikirkan fakta itu.
Ia masih tidak tahu bagaimana caranya untuk percaya dua bocah itu adalah darah dagingnya, tapi bagaimana di saat terakhir anak laki-laki itu berbisik seakan tahu dipantau, Eros cuma bisa berpikir mereka memang anaknya.
Hestia berada di sana. Jadi kalau begitu pesan morse itu ....
Aku dan Ibu ada di sini.
Aku dan Ibu.
Aku dan Ibu berarti ... anaknya yang mengirim itu?
__ADS_1
Eros menelan ludah. Tiba-tiba saja merasa ragu untuk pergi, justru ketika pesawat telah mendarat di bandara pulau.
Baik Al atau Norman tidak menghubunginya. Lupakan soal Norman, harusnya Al mengecek satu per satu penduduk pulau karena seluruh keluarganya datang.
Kenapa dia tidak memberitahu Eros? Atau hanya salah paham? Ia hanya salah lihat?
"Tuan."
Eros menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi pesawat, belum siap turun.
"Yuje dan Yuve. Itu bukan nama Jepang." Eros meletakkan jemari di mulutnya dan berpikir keras. "Itu anakku atau anak Hestia dengan pria lain?"
Tapi kalau anak pria lain, mengapa mirip dengan Eros? Tidak. Itu anaknya. Pasti anaknya.
Akan ia pastikan sekarang. Wanita itu lari karena hamil anaknya.
Sambil berusaha sabar selama mobil berjalan menuju tempat itu, Eros berulang kali mengetuk-ngetuk jari gelisah.
Ia langsung keluar dari mobil, memakai mantel bersama masker. Bergabung dengan keramaian festival, mencari di mana posisi Hestia dan anak-anaknya berada.
"Wohoooo, sugoi na ano gaki wa. Nante namaena nda ke?" [Hebat sekali bocah itu. Namanya siapa tadi?]
Eros menatap kerumunan di mana banyak pria dewasa berkumpul. Hal itu menarik perhatiannya, membuat ia berjalan mendekat, berusaha membaur dengan banyak orang lainnya.
"Yuuki-niichan, ganbatte!" [Kakak Yuuki, semangat!]
"Yuuki, yacchimae!" [Yuuki, habisi dia.]
Yuuki?
__ADS_1
...*...