
Yujerian tidak menyangkal. Ada banyak alasan dalam jiwanya untuk membenci Eros sekarang. Sangat banyak.
"Bocah, egomu mungkin bisa menjaga ibu dan adikmu. Tapi itu juga bisa membuatmu mengacaukan apa yang sebenarnya bisa damai," ujar Shin tegas.
Yujerian bersandar lemah pada tempat tidur. Murung memikirkan apa yang mungkin tak sanggup sebenarnya dipikirkan oleh kepala kecilnya.
"Aku ingin ibuku bahagia," bisik Yujerian parau. "Aku ingin adikku berhenti menangis."
Itu adalah keinginan terbesarnya. Jauh melampui yang lain. Tapi ....
Tubuh Yujerian bergetar.
"Tapi aku juga membenci Eros Prajapati sampai ke sumsum tulangku." Yujerian membencinya. Sangat. Luas biasa membencinya.
Sampai jika sebuah kebencian bisa meledakkan gunung, maka seluruh gunung di dunia ini meledak pun, kebencian Yujerian masih sangat besar.
Shin diam, hanya mendengarkan.
"Aniki, do sereba ii?" [Kak, aku harus bagaimana?]
Anak itu merintih.
"Maafkan ayahmu."
"Aku tidak bisa."
"Bukan tidak bisa. Kamu tidak mau." Shin menghela napas. "Nah, Yuuki. Aku tidak akan memanjakanmu dengan kalimat manis. Jika kamu memaafkan ayahmu, kamu tidak akan merasa puas. Tidak akan. Kamu harus terus melawan dirimu, harus terus melawan egomu, harus terus membencinya diam-diam."
"...."
"Tapi dengan begitu, Bibi Hestia dan Yuui akan bahagia seperti keinginanmu. Jadi pilihlah. Dirimu atau orang yang berharga bagimu."
Bukankah itu pilihan yang kejam? Jelas saja Yujerian hanya bisa memilih Yuveria dan Hestia.
Akan selalu seperti itu.
Yujerian merasa sudah cukup, meski kepalanya justru semakin pening. Paling tidak ia mendengar nasihat dari orang yang ia anggap sebagai kakaknya.
Hingga pagi menjelang, Yujerian hanya terjaga. Baru bergerak dari posisinya sewaktu pintu kamar terbuka.
"Tuan Muda, Nona Muda."
Mandala masuk, membangunkan Yuveria. Begitu anak itu terduduk mengusap-usap matanya, Mandala pun mengambilkan air putih.
"Nii."
Yujerian menerima pelukan adiknya. "Warui yume mitai no?" [Kamu mimpi buruk?]
__ADS_1
"Hm."
Mandala menyisir rambut Yuveria untuk dijepit tinggi agar memudahkannya mandi.
"Tuan Muda, Nona Muda."
"Ya?"
"Saya harus pergi ke tempat lain beberapa waktu. Anda berdua tidak keberatan bergegas? Saya akan mengantar Anda berdua ke sekolah, lalu pergi."
Keduanya berpandangan. Mau ke mana Mandala tiba-tiba?
...*...
Eros tidak menyangka ketika ia berhenti di depan pagar rumah Hestia, Mandala sudah menunggunya lengkap bersama pakaian khas Narendra.
Para Narendra itu ibarat bangsawan atau keluarga kerajaan. Pengawal mereka, seperti Mandala ini, memakai pakaian khusus dengan sulaman mawar emas di seragam mereka yang merupakan lambang para Narendra.
Jika seseorang dari Narendra, apalagi pengawalnya memakai seragam itu, berarti mereka sedang bertugas sebagai kaki tangan Narendra.
Mandala datang mewakili Al, kemungkinan besar.
"Ada apa? Bagaimana dengan anak-anak?"
"Putra-putri Anda sudah berada di sekolah dan aman dalam pengawasan sekolah."
"Baiklah." Eros juga menyuruh sejumlah orang mengawasi jadi kedua anaknya pasti aman. "Apa pesan Al?"
Mandala membuka pintu mobil yang dia gunakan, lalu mengeluarkan tas untuk Eros.
"Tuan Muda berkata: 'di dalam tas ini ada bukti-bukti rekaman kekerasan yang Darius lakukan, bukti-bukti pemeriksaan kesehatan Melia dan Hestia, termasuk rekaman percakapan Hestia dan Melia tentang Darius. Kamu membutuhkan ini untuk membuat argumentasi'. Itu pesan beliau."
Eros tidak menyangka. Ia punya bukti, tapi bukan sesuatu semacam rekaman kekerasan Darius atau hal sesensitif itu.
Jika tersebar, keluarga Hestia bisa seketika hancur.
"Juga, ada pesan lain. Beliau berkata, 'aku bersumpah atas nama ibuku tidak akan menyebarkan apa pun mengenai ini. Semuanya kulakukan sebagai tanda pertemanan denganmu dan Hestia, juga karena Hestia membayarku untuk menjaga putra-putrinya. Kamu menggunakannya atau tidak, itu pilihanmu'."
Eros mengangguk paham. "Hanya itu saja?"
"Hanya satu kalimat. 'Lalukan dengan damai', kata beliau." Mandala mengangguk sopan. "Kalau begitu, saya permisi."
Setelah Mandala pergi, Eros membuka tas itu. Menemukan sebuah laptop, berisikan seluruh hal yang Al titipkan padanya.
Mau tak mau Eros berterima kasih. Mungkin dengan ini, ia bisa melakukan apa yang ia harap juga berjalan damai.
Langsung saja Eros meminta izin masuk. Bersyukur karena ini masih pagi, maka Darius belum berangkat ke mana-mana.
__ADS_1
"Eros, kemarilah." Darius memanggilnya akrab. "Saya tidak melihat kamu kemarin. Kamu dan Hestia bertengkar?"
"Sedikit." Eros duduk, berbasa-basi terlebih dahulu. Namun, Eros pun tak mau menyia-nyiakan waktu. Setelah dilihat suasana hati Darius membaik, Eros segera meminta waktu berdua. "Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."
Darius menyanggupi hal itu, membawa Eros pindah ke ruang kerjanya agar bisa berbicara berdua.
Tanpa basa-basi, Eros membuka laptop pemberian Al. Mencari sebuah video di mana Melia memukuli Hestia tanpa ampun.
Video kekerasan Darius itu sensitif. Jika Eros mengeluarkan dengan ceroboh, dia akan berpikir Eros memerasnya. Jadi pertama, dia harus melihat dampak itu terlebih dahulu.
"Apa ini?" Sesuai dugaan Eros, Darius tercengang. "Eros! Apa ini?!"
"Ayah." Eros akan berbicara sebelum dia berpikir macam-macam. "Apa Anda ingat apa yang terjadi beberapa tahun sebelum Hestia pergi? Apa Anda berpikir kenapa Hestia pergi?"
"Apa maksud kamu? Bicara yang jelas!"
"Yujerian dan Yuveria anak kandung Hestia. Anak kami berdua." Eros mengangguk penuh keyakinan saat Darius tercengang. "Dan Hestia kabur untuk satu alasan."
"...."
"Dia takut Anda memukulinya."
Eros tidak salah lihat. Darius memang sudah berubah.
Begitu Eros berkata 'memukulinya', wajah Darius langsung pucat, dan itu bukan wajah egois pria tua sialan.
Itu wajah seorang ayah yang tidak tahu dia berbuat salah karena berpikir dia melakukan yang terbaik untuk anaknya.
"Saya tahu Anda memukuli Hestia dan Melia agar mereka sempurna. Agar mereka tangguh. Atau mungkin dulu Anda melakukannya karena Anda menyukainya. Saya tidak tahu."
Eros membuka video kedua, hal yang sejujurnya juga mengejutkan bagi Eros. Itu berisi rekaman suluruh sudut tubuh Hestia dan Melia yang lebam.
Bukan perbuatan Darius, namun perbuatan diri mereka sendiri.
"Mereka sekarang tidak waras," ucapnya dipenuhi kemuraman. "Putri Anda, dua-duanya, sangat menyukai sensasi kepala mereka dibenturkan ke tembok. Mereka menikmatinya."
Eros akhirnya memutar video kekerasan Darius, di mana sekali lagi ia terkejut. Video itu jelas menunjukkan Hestia dan Melia dipukuli habis-habisan dan mereka diam saja seperti patung.
"Saya tidak meminta apa pun dari Anda, Ayah." Urat-urat tangan Eros menonjol. Nyaris saja ketenangannya hilang justru karena melihat video itu.
Tapi Eros mengendalikan diri.
Ia mau kedamaian. Kedamaian untuk anaknya dan Hestia.
"Minta maaf." Eros mengetatkan rahangnya. "Minta maaf pada mereka. Agar mereka waras kembali. Tolong."
*
__ADS_1