
"Anak-anakmu masih sangat jujur, Hestia."
Hestia mendengkus, tidak dapat membantah karena memang benar. Tapi Hestia tidak menganggap anak-anaknya membuat kesalahan atau sejenisnya.
Walau ia agak menyayangkan Yuveria memukul orang, tapi pada kenyataannya, dia memberi efek jera pada seseorang.
"Sulit untuk menghentikan bullying verbal, apalagi mengenai kekurangan fisik orang lain."
Al mengajaknya duduk di sofa khusus petinggi sekolah, menyaksikan upacara penerimaan mulai berlangsung.
Seluruh murid, dari strata SMA sampai SD berkumpul, membuat gymnasium sesak oleh murid-murid dan bangku penonton diiisi oleh para orang tua murid.
Hestia tersenyum tipis melihat kedua anaknya berdiri berdampingan, dan Sahna berada di dekat mereka. Yuveria menguap bosan oleh pidato sambutan, berbeda dari Sahna yang serius mendengarkan.
"Eros tidak datang?"
"Berhenti pura-pura tidak tahu situasiku."
Al terkekeh kecil. "Aku menyuruh Mandala melapor bukan untuk ikut campur, percayalah."
Tentu saja. Hestia mempercayakan keamanan anaknya di tangan Al bukan tanpa alasan.
"Aku tahu ada sesuatu yang Eros ucapkan sampai kamu menjauhinya. Apa? Kurasa bukan permintaan punya anak lagi."
Bibir Hestia saling menekan samar. Belakangan ini perasaannya sangat sensitif sampai tiap kali mengingat Eros, Hestia jadi sesak bukan main.
"Aku sempat terpikat padanya," gumam Hestia dalam bahasa Jepang. Ada beberapa orang di dekat mereka, dan Hestia tak mau mereka menguping. "Aku secara tidak sengaja percaya padanya."
"Apa? Karena dia berbuat baik?"
"Yujerian percaya padanya." Hestia menatap putranya di sana. "Aku tahu orang yang paling tidak mau percaya pada Eros adalah Yujerian. Dia menanggung beban Eros bertahun-tahun. Dia membencinya. Dia merindukannya tapi dia membencinya karena membuat dia terjebak."
Yujerian yang itu perlahan membuka diri pada Eros.
__ADS_1
Kemarin.
"Aku merasa seperti aku tidak akan sesak lagi bersama Eros. Tapi ternyata salah. Itu hanya harapan." Hestia menoleh pada Al. "Dia tidak mengerti apa pun."
"Dengan kata lain, kamu berharap dia mengerti? Di telingaku seperti kamu menjadikan dia tumpuan."
"Secara tidak sengaja."
"Lalu kecewa?" tebak Al, tepat sasaran. "Kurasa aku bisa mengerti situasinya. Lalu, aku ingin bertanya, Hestia."
"Mengenai?"
Ketika Yuveria yang sudah sangat bosan menoleh ke sekitaran seolah mencari Hestia, langsung saja ia tersenyum. Melambaikan tangan hingga anaknya langsung menyengir lebar.
"Bagaimana jika memang tidak ada yang dapat mengerti?"
Hestia membeku. Telinganya berdengung hanya karena sebaris pertanyaan itu, yang sebenarnya langsung bisa ia beri jawaban.
Tidak pernah kecuali Melia.
"Aku jelas tidak sedang menyuruhmu menerima Eros. Sama sekali tidak. Aku tidak ikut campur, sudah kubilang. Aku, yah ... bisa dibilang memberimu sudut pandang lain. Agar kamu dapat menilai sendiri semuanya."
Al tersenyum kecil.
"Aku hidup lebih dari tiga puluh tahun sebagai Narendra. Kamu mengenalku. Dan aku akan mengatakannya, tidak ada satupun orang yang benar-benar memahamiku. Hanya diriku sendiri."
Hestia meremas tangannya satu sama lain.
"Tapi aku menemukan seseorang yang mau mendengarku, istri-istriku, dan itu sudah cukup. Menurutmu tidak?"
Meski sempat diam, Hestia menggeleng.
Sayangnya, ia bukan mau didengar saja. Karena, karena justru Eros tidak mengerti, dia mengatakan hal semacam itu.
__ADS_1
"Itu membuatku khawatir, Hestia."
"Apanya?"
"Kamu." Al menoleh saat terdengar suara tepuk tangan meriah.
Mereka berdua tidak mengikuti satu kata pun yang dikatakan, tapi bergegas ikut tepuk tangan seolah menyimak.
"Aku?" tanya Hestia setelah tepuk tangan selesai. "Apa yang mengkhawatirkan?"
"Dari yang terlihat di mataku, kekecewaanmu pada Eros membuatmu menolak emosi. Sesuatu seperti ... kamu tidak akan berharap mencintai lagi atau bekerja sama dengan siapa pun lagi karena mereka tidak mengerti."
"Aku memang terbiasa melakukan segalanya sendiri. Itu sudah terjadi sejak dulu."
"Tentu saja. Aku pun sendirian di Jepang sejak usiaku lima tahun." Al tersenyum manis. "Dan aku menangis dalam diriku sendiri karena kesendirian itu."
Hah. Al kadang-kadang memang suka melakukan ini.
Hestia jadi tak bisa membantah, hanya diam meremas tangannya satu sama lain.
"Hestia, satu-satunya luka yang dapat seseorang mengerti adalah luka mereka sendiri. Kamu melihatnya baru saja, kan? Anakmu memukul seseorang karena mereka mengejek seorang gadis bisu."
"..."
"Anak-anak yang mengejek itu, mereka tidak tahu penderitaan apa yang dirasakan gadis bisu itu. Anakmu pun tidak tahu. Yang berbeda hanya, anakmu menyukainya dan mau membantunya. Mereka bukan paham lalu membantu lalu melindungi. Mereka punya mulut dan bisa bicara. Apa yang mereka pahami?"
Pada akhirnya Al benar.
Hestia mungkin juga tak tahu apa masalah yang ditanggung oleh Eros. Yang ia pedulikan hanya perkataan Eros menyakitinya dan ia tak mau lagi.
Baik Eros dan dirinya sama-sama egois
*
__ADS_1