Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
83. Aku Membenci Semuanya


__ADS_3

Hestia tidak jadi menemui Darius.


Tengah malam setelah ia mengobati luka di beberapa sudut tubuhnya karena Melia, Hestia langsung pergi menemui Yohannes.


Mungkin Hestia justru bertambah gila. Karena bukannya merasa frustrasi, ia justru merasa sangat tenang setelah mendapat pukulan setelah sekian lama.


Adiknya benar. Ini bukan soal berubah lalu berhenti memukul.


Ini soal luka yang Darius torehkan dan tidak akan pernah sembuh bahkan jika dia berhenti memukul.


Hestia tiba di apartemen Yohannes tepat pukul dua belas malam. Tentu saja ketika dia melihat wajah Hestia yang diperban, Yohannes terkejut luar biasa.


"Hestia!"


"Aku baik-baik saja." Hestia menolak dipapah karena ia tidak terluka di bagian kaki. "Aku datang membicarakan pernikahan."


Tak ada waktu bagi Yohannes bernapas, karena begitu duduk, Hestia menjelaskan seluruh cerita apa adanya.


Tentang anak Eros adalah anaknya, tentang Darius adalah pria pemukul, tentang ia terluka karena Melia kehilangan kendali dan itu karena luka parah di hatinya setelah dipukuli selama Hestia menghilang.


Ya, ia memberi aibnya ke tangan Yohannes.


"Aku yang meminta Al melindungi anakku dari ayahku."

__ADS_1


Hestia menelan ludah ketika matanya memerah, tapi berusaha keras tidak menangis di depan seseorang.


"Aku takut mereka akan dipaksa mengalami apa yang aku alami. Aku membenci pria, Yohan. Aku membenci semua jenis pria di dunia termasuk pria baik dan pria yang tulus. Aku membenci semuanya baik Darius, kamu atau Eros atau siapa pun!"


Lalu Hestia menarik napas dalam-dalam, memenangkan dirinya dari gejolak emosi sesaat, dan menundukkan kepala dalam-dalam.


"Tapi aku mencintai anak-anakku lebih dari kebencianku. Karena itu tolong, permalukan aku atau apa pun asal bukan anakku. Mereka ingin Eros. Tolong lampiaskan saja padaku dan jangan libatkan keluarga Eros."


Jika Gouw menyentuh Prajapati, anak-anak Hestia cepat atau lambat akan tahu. Ia akan menundukkan kepalanya di depan pria yang ia anggap belatung jika itu demi mereka berdua.


Jadi tolong, jangan perlihatkan betapa busuk dan menjijikan dunia ini.


Yohannes hanya bisa mengatup mulut. Ia pasti tidak akan percaya dan akan menganggap itu hanya akal-akalan Hestia agar pertunangan mereka batal jika tak melihat bekas cekikan membiru di lehernya.


Seolah dia bilang 'lempar saja kotoran ke wajahku tapi jangan mengenai apa pun kecuali wajahku'.


Aku tahu dia wanita yang cerdas dan licik. Yohannes melirik ke arah lain. Tapi aku tidak tahu dia seluar biasa ini.


Pada dasarnya, Yohannes tidak memandang Hestia sebagai alat.


Ia tahu orang tuanya punya niat membangun koneksi dan pembicaraan pernikahan lebih mengarah pada keuntungan politik, tapi ia sungguh-sungguh mau menikah dalam hubungan hati ke hati.


"Aku mengerti." Yohannes beranjak. Mendekati Hestia dan meraih tangannya.

__ADS_1


Bukan untuk apa pun, melainkan melepas cincin di sana.


"Tidak masalah, Hestia. Aku menghargai kejujuranmu."


"Tidak. Tolong lakukan sesuatu sebagai balasan."


"Aku memang merasa itu sangat disayangkan dan memalukan." Yohannes menyentuh bahunya hati-hati. "Tapi, Hestia, tidak berarti aku benar-benar harus membalasmu. Kamu berterus terang, kamu menyampaikan alasan, kamu tidak secara sengaja mempermalukan aku. Maka, aku akan menerimanya."


Hestia mendongak.


"Tapi, bisakah aku minta sesuatu sebagai gantinya?"


"Apa pun."


Astaga. Sensitif sekali wanita ini. "Aku tidak berkata aku minta uang atau sahammu."


Dia benar-benar tidak mempercayai pria punya hati atau ketulusan.


"Jangan menikah jika kamu sendiri belum menerima itu." Yohannes tersenyum. "Aku pernah bertemu beberapa orang yang terluka karena kekerasan, walaupun aku tidak bisa bilang aku paham. Jadi setidaknya aku hanya bisa bilang, cobalah untuk membuka hati sedikit. Tidak semua pria lahir untuk menyakitimu. Ah, tidak. Tidak semua pria ... menganggap kalian wanita sebagai bahan pelampiasan."


"...."


...*...

__ADS_1


__ADS_2