
Beberapa dari mereka tertawa kecil mendengarnya. "Harusnya kamu bersyukur putra-putrimu sangat dewasa. Anak seusia mereka sekarang sedang hobinya merengek macam-macam."
"Hummmmmm. Tapi aku jadi tidak tahu apa yang mereka lakukan. Terutama Yuuki. Kurasa belakangan ini dia terbebani akan sesuatu."
"Dia seperti biasa, kulihat."
Bagi Hestia tidak.
Ia curhat apa adanya meski tidak mendengar ada solusi. Setidaknya ia terhibur ketika mendengar bahwa anak-anak memang punya dunianya sendiri yang tidak perlu terlalu dicampuri selama tidak berbahaya.
Sejenak Hestia menoleh ke arah mereka, hanya untuk menemukan Yujerian duduk membuatkan mainan untuk adiknya seperti mainan yang dimainkan Hinatsuru dan Gamabunta.
Baguslah kalau dia baik-baik saja. Ketakutan terbesarnya sebagai orang tua jelas adalah anaknya terlalu cepat dewasa dan merasakan betapa sampahnya hidup ini.
Bermain-mainlah dulu sampai puas.
...*...
"Nanda, Gaki? Genki nai mitaijan." [Kenapa, Bocah? Kamu terlihat tidak semangat.]
Yujerian menoleh ketika Shin berdiri di sampingnya dengan empat nasi kepal di tangan. Dia pasti diam-diam mengambil nasi kepal yang seharusnya untuk para pekerja, namun Yujerian memintanya satu karena terlihat enak.
"Aku sedang memikirkan pria itu."
"Hm? Siapa? Oyaji?"
Sejenak ia melihat sekitaran, tak mau jika ada yang mendengar. Begitu yakin tidak ada yang menguping, ia mengangguk.
Lalu fokus melihat Yuveria tengah menari-nari sambil bernyanyi ceria dengan anak seusianya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Aku hanya berpikir bahwa tamu yang datang itu adalah ayahku."
"Uwaaaa, majina no? Kudengar dari Soncho, itu pengusaha besar yang tengah berlibur." [Wah, serius?]
"Yah, aku hanya menduga."
Shin duduk melipat kakinya dan mengunyah makanan sambil memerhatikan Yujerian. "Kamu benar-benar tidak ingin bertemu?"
".... Kizutakunai." [Aku tidak ingin terluka.]
"Kamu berpikir dia akan melukaimu?"
"Apa ada alasan lain mengapa ibuku meninggalkan pria itu jika bukan karena dia melukai?"
Sejenak, Shin diam.
Dia bergumam, "Mungkin saja memang begitu."
"Ano na, Yuuki, hubungan orang dewasa lebih rumit dipahami daripada sekadar berpisah karena benci. Bisa saja pria itu bukan sengaja meninggalkanmu."
"Tapi pada akhirnya kami terluka."
Yujerian menatap tangan kecilnya yang tak terlindung oleh sarung tangan. Rasa dingin tidak mencegah ia merasa panas oleh pemikiran-pemikiran di kepalanya.
"Na, Aniki. Jika pria itu datang dan berkata bahwa sebenarnya dia tidak berniat melukai kami, apa serta-merta seluruhnya selesai?"
"...."
"Yuui menghabiskan setengah masa kecilnya menangis diam-diam. Dia selalu bertanya 'di mana ayah, di mana ayah' padaku. Aku diam saja karena ibuku tidak menjelaskan, aku rasa itu karena lukanya. Setelah lima tahun, apa aku harus tersenyum karena akhirnya bertemu dia? Lalu apa? Bagaimana dengan lima tahun ini?"
Mungkin ia pun juga pendendam seperti Yuveria.
__ADS_1
Bedanya Yujerian hanya tidak memperlihatkan itu. Belakangan ketika ia berpikir pria itu sungguhan akan datang dan mengganggunya, perasaan Yujerian jadi buruk.
Percampuran antara ingin tahu tapi takut terluka jika tahu membuat dada kecilnya berdenyut.
Ia menanggung beban sejak kecil. Sejak masih sangat kecil, ia seolah sudah ditakdirkan untuk memahami bahwa ia hidup agar adik dan ibunya bahagia.
Tapi siapa pria itu?
"Kamu tidak bertanya pada Bibi?"
"Aku takut menyakitinya."
"Erai na, Yuuki wa. Sasuga ore no ototo." Shin menepuk-nepuk punggung kecilnya. "[Hebat yah, Yuuki. Itu baru adikku.]
"Yamero." [Hentikan.]
"Aku tidak bisa membayangkan jadi kamu bahkan di usiaku ini, tapi jika ada yang harus kukatakan, kamu melakukan yang terbaik sejauh ini. Sangat baik."
Yujerian tersenyum kecut.
Sebenarnya ia capek. Tapi jika mengeluh, Yuveria akan ikut merasa tidak percaya diri.
"Bersemangatlah. Ini, kuberikan nasi kepal lagi satu. Itu rasa spesial."
Yujerian berterima kasih. Lalu bangkit dari tanah untuk memanggil adiknya.
"Ingin onigiri?" Yujerian menyuapkan nasi kepal itu ke mulut adiknya. "Aku ingin jalan-jalan sebentar. Yuve tetap di sini?"
"Tidak. Ikut."
"Baiklah." Yujerian menarik dia pergi, berjalan menjauh setelah Yuveria berteriak pada Hestia bahwa mereka akan berjalan-jalan sebentar.
__ADS_1
...*...