
"Hestia."
Mungkin besok Hestia harus membuat janji dengan dokter mata. Karena entah kenapa belakangan matanya jadi lebih sering memerah.
Terutama jika melihat Eros.
"Hestia." Dia mendatangi Hestia, namun ia tak mau bicara dengannya. Saat Hestia berencana kabur, Eros menangkap tangannya. "Tidak bisakah kita membicarakannya bersama? Tolong."
"Kamu tidak perlu menghabiskan waktumu membicarakan ingatan lapuk." Hestia menarik tangannya lepas dari Eros. "Pergilah, Eros. Aku rasa usahamu cukup sampai di sini. Kita bisa hidup dalam status suami istri tanpa saling mengganggu."
"Maaf. Maaf mengatakan hal buruk."
Napas Hestia berembus berat.
Tahu apa permintaan maaf yang menyebalkan? Permintaan maaf tanpa kesadaran.
Eros tidak tahu kesalahannya apa. Eros tidak memahami kesalahannya apa. Dan secara rasional, itu wajar. Karena dia tidak akan pernah memahami apa yang tidak pernah dia alami.
Kesalahan akan terus terulang. Dia akan terus berpikir trauma Hestia hanyalah ingatan lapuk, masa lalu yang sudah usang.
"Aku sudah terlalu sakit jiwa dengan diriku sendiri." Hestia berlalu. "Aku menolakmu. Pergilah."
Hestia benar-benar pergi. Meninggalkan Eros yang hanya bisa terdiam menatap wanita itu masuk ke mobil, bersama dua anaknya.
Dia ingin mengantar Yujerian dan Yuveria ke sekolah, hari pertama mereka. Meski Eros ingin ikut, kini ia sadar.
Bukan cuma mata Hestia, tapi mata kedua anaknya menunjukkan tembok yang jauh lebih tebal dari pertama kali.
Eros mengacaukan segalanya.
...*...
"Hei, cobalah bicara! Kamu pasti bisa melakukannya!"
"Dia selalu menulis setiap ingin bicara. Hahaha, siapa juga yang mau membaca tulisan orang bisu!"
"Dasar bisu! Orang bisu seharusnya tidak sekolah! Menyusahkan saja!"
Yujerian dan Yuveria berlari ke kerumunan saat mendengar kata bisu.
Mandala memberitahu mereka, meski ada beberapa penyandang disabilitas bersekolah di Asgard, hanya Sahna yang bisu di lingkungan anak-anak.
__ADS_1
Jadi mereka tahu itu Sahna.
Dan benar saja. Gadis teman mereka tengah dikelilingi oleh beberapa anak laki-laki juga perempuan, sementara Sahna menunduk malu di lantai oleh ejekan mereka.
Sebelum Yujerian bisa menghentikan, Yuveria sudah menarik tinjunya, menerjang mereka.
"NANI SHITE KURETA NDA TEME?!" [APA YANG KALIAN SEMUA LAKUKAN, BRENGS*K?!]
Jerit histeris terdengar. Yuveria melampiaskan kekesalannya pada Eros dengan memukuli anak laki-laki pengganggu Sahna.
Karena tahu adiknya tidak akan kalah, Yujerian memilih berlutut. Membantu Sahna berdiri.
"SAHNA TEMANKU!" Yuveria mengamuk. "KALAU KALIAN MENGGANGGUNYA, AKAN KURETAKKAN GIGI KALIAN SEMUA!"
Mata Yujerian tertuju pada seseorang yang ia kenali, anak dari sahabat ibunya, berdiri menertawakan Sahna dan kini tampak kesal gara-gara kemunculan mereka.
"Kamu baik-baik saja?" Untuk sekarang, Yujerian lebih baik memastikan Sahna.
Yang membuat Yujerian sedih, Sahna tersenyum tulus. Mengangguk dengan wajah seperti biasa, seolah tidak ada yang membuatnya terluka.
Dia dan Haha-ue sama.
...*...
...Yuuki, aku minta maaf. ...
Sahna langsung menulis di buku catatannya.
...Aku akan mengaku bahwa aku yang melakukannya. ...
...Jangan libatkan diri kalian. ...
Yujerian tersenyum kecil. Menggerakkan tangannya untuk membalas dengan bahasa isyarat Amerika.
Beberapa kali ia melihat Sahna menggerakan tangannya menggunakan bahasa isyarat Amerika, bukan Indonesia.
Jika bahasa isyarat Amerika, Yujerian tahu.
"Semua orang tahu itu bohong." Begitu arti dari gerakan tangan Yujerian. "Kamu orang yang lembut, mustahil memukul seseorang. Jadi tidak perlu berbohong."
Sahna mengerjap, tapi langsung membalas dengan gerakan tangan juga. Yang kira-kira dapat diartikan, "Tapi Ayah Ibu kalian akan kecewa."
__ADS_1
Yujerian langsung menggeleng. Kali ini bicara. "Haha-ue bukan ibu yang suka marah pada anaknya. Kami akan menjelaskan apa yang terjadi dan Haha-ue akan memutuskan apakah itu salah atu tidak."
...*...
Hestia nyaris cengo mendengar panggilan tiba-tiba sewaktu dirinya bahkan baru duduk disamping ibu-ibu para anak baru.
Makin cengo diberitahu bahwa Yuveria memukul lima orang anak—demi Tuhan—sampai mereka menangis kencang di UKS. Jelas, orang tua mereka dipanggil.
"Well ...." Hestia membasahi bibir. Menatap kedua anaknya yang tampak polos-polos saja. "Ada penjelasan, kalian berdua?"
Yuveria menunjuk Sahna. "Mereka menghina Sahna."
"Benarkah? Menghina seperti apa sampai Yuve berpikir memukuli mereka adalah balasan yang benar?"
Kedua anaknya melihat Sahna, dan Hestia sadar itu permintaan izin. Ketika Sahna mengangguk dengan senyum lembutnya, Yujerian langsung mengatakan semuanya.
"Mereka berkata Sahna orang bisu yang tidak layak berada di sekolah ini."
Hestia menatap anak yang dihina, tampak tersenyum teduh.
Dia terbiasa, pikir Hestia seketika. Dia pasti sangat terbiasa sampai dia terlihat berpikir layak menerimanya.
Perasaan Hestia sedang kacau, tapi malah tambah kacau melihat anak itu.
"Baiklah." Hestia mengangguk. Balas tersenyum pada Sahna sebelum ia berpaling pada kepala sekolah. "Saya minta maaf atas perbuatan kedua anak saya, Pak, tapi saya pun meminta pertanggungjawaban pibak sekolah atas kerusakan psikis anak ini. Jika Yuveria tidak memukul seseorang, apa ada yang akan menghentikan mereka secara damai?"
"Kasus seperti ini selalu terjadi." Yang menjawab bukan kepala sekolah, melainkan sebuah suara di belakang mereka, berasal dari pintu yang tiba-tiba terbuka.
Hestia terkejut menemukan Al berada di sana.
"Kamu di sini?"
Dahulu, sekolah ini dipegang oleh Trika Narendra alias ibunya Al. Namun karena wanita itu sekarang sudah tiada, maka setahu Hestia pemegangnya adalah istri Al. Ternyata dia juga datang ke acara pembukaan.
"Aku sengaja datang melihatmu dan mereka." Al berdiri di samping Sahna, berjongkok di depannya. "Siapa namamu, Nak?"
Sahna mengerjap bingung. Tapi dia menulisnya.
"Baiklah. Mulai sekarang, aku menugaskan Yujerian dan Yuveria menjaga Sahna. Kalian berdua bisa?"
Yuveria langsung membuat sikap hormat. "Makasero." [Serahkan pada kami.]
__ADS_1
Sementara Yujerian hanya tersenyum tipis.
...*...