
"Hiks."
Yujerian tersentak. Menoleh pada Yuveria saat terasa ada isak tangis di sana. Adiknya masih memejam, dan dilihat dari bagaimana Yuveria tidak memeluknya langsung, dia sedang mengigau.
"Yuve."
Gadis kecil itu menangis dalam tidurnya. "Haha-ue," lirih dia. "Haha-ue."
Dada Yujerian sesak. Denyut yang selalu ia rasakan karena Eros itu kembali, setelah beberapa waktu menghilang lantaran Yujerian pikir dia akan memperbaiki segalanya mulai sekarang.
Harusnya aku tidak percaya pada pria tua itu.
Yujerian memeluk tubuh adiknya kuat-kuat, berharap dia berhenti memimpikan hal buruk yang ia yakin adalah Hestia dipukuli oleh adiknya sendiri.
Yujerian juga tak bisa melupakan itu. Dan semakin tak bisa ketika Mandala berkata, bagi Hestia, itu adalah obat.
Semuanya salah Eros.
Harusnya Yujerian tidak mengandalkan siapa-siapa menjaga adik juga ibunya. Selama ini pria itu tidak ada. Selama ini pria itu tidak pernah ada.
Kenapa sekarang ia begitu bodoh mengharapkan Eros menjalankan tugasnya dengan baik?
Omong kosong.
"Mandala." Yujerian mencari alat yang diberikan oleh Mandala sebagai alat komunikasi jika ia perlu sesuatu. "Mandala, datang ke kamarku sekarang."
Tak butuh waktu lama, di pukul satu pagi ini, Mandala datang. Dia tampaknya langsung memahami situasi, mendekati Yuveria di ranjang.
"Nona demam tinggi." Mandala langsung membuka pakaian Yuveria, membiarkan dadanya tersapu oleh dingin. "Saya akan mengompres dada dan lehernya, Tuan Muda, untuk mempercepat demamnya. Tolong tunggu sebentar."
"Jangan beritahu Haha-ue."
".... Anda yakin? Saya tidak bisa memastikan kapan Nona Hestia mencari Anda berdua lagi."
"Haha-ue terluka." Yujerian berusaha tidak menangis saat memegang tangan adiknya. "Haha-ue pasti akan bersembunyi sampai lukanya sembuh. Haha-ue selalu begitu."
Agar nanti Hestia bisa muncul, berpura-pura tidak terluka sambil berkata, "Iyada ne, Mama jadi tidak sengaja bekerja terlalu keras sampai lupa menyapa kalian. Hari kalian menyenangkan? Siapa yang mau bercerita dulu?"
__ADS_1
Selalu begitu. Selalu pura-pura.
"Baik, Tuan Muda." Mandala pergi, mengambilkan kompres untuk Yuveria.
Dia juga datang bersama seorang pelayan yang bukan berasal dari keluarga ini, namun pelayan dari rumah Narendra yang ikut bersama mereka.
Yujerian hanya terus memegang tangan Yuveria saat adiknya ditangani. Dalam waktu beberapa jam saja demam Yuveria naik pesat. Jantung Yujerian berdebar sangat keras ketakutan, tapi di siang hari akhirnya demam itu turun, dan Yuveria bisa membuka mata.
"Yuje-nii."
"Aku di sini." Yujerian memeluknya. "Aku di sini."
"Yuve ingin Haha-ue."
Perasaan benci Yujerian pada Eros selalu memuncak jika seperti ini.
Adiknya ingin Hestia, tapi Hestia harus bersembunyi agar tidak ketahuan sedang terluka, dan semua itu karena Eros tidak bisa memastikan Hestia tidak terluka.
Justru dia yang melukainya.
...*...
Eros tak tahu di mana istrinya sembunyi, juga tidak tahu di mana anaknya pergi. Mereka kompak menyisihkan Eros sebagai pihak bersalah.
Siangnya, Eros berpamitan pada Darius untuk memenuhi janji bertemu Wija. Sementara waktu, Eros memang meminta libur dari ayahnya agar bisa menyelesaikan persoalan keluarga, jadi Eros tidak pergi ke mana pun kecuali bertemu Wija hari ini.
Mereka bertemu di hotel, tepatnya di dekat kolam renang tempat Sela dan Ririana tengah bermain air.
"Hestia meneleponku kemarin." Itu yang Wija katakan.
Eros mengambil minuman yang dibawakan oleh pelayan hotel, tapi tak meminumnya. "Dia memberitahumu kami bertengkar?"
"Sudah kuduga." Wija malah menghela napas. "Tidak. Tapi dia menyuruhku untuk memberitahu Darius bahwa kami harus pergi ke luar negeri untuk mengurus litium yang aku pegang. Dia bilang dia sudah lama tidak bekerja."
Tapi sebenarnya cuma siasat agar Eros hengkang dari rumahnya, membawa Yujerian juga Yuveria pergi agar anak mereka tidak melihat sosok ibu mereka yang hancur.
Ya, memang sangat Hestia.
__ADS_1
"Hestia berkata padaku, dia ingin berhenti bekerja setelah menikah. Dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Yujerian dan Yuveria." Wija mengangkat bahu. "Jelas aneh dia minta bekerja lagi, kan?"
Eros langsung menenggak habis minuman di tangannya. Tak tahu lagi harus mengatakan apa. "Dia tidak mau menikahiku, itu intinya."
"Tapi kamu memutuskan menikahi dia."
Karena Eros pikir tidak akan seperti ini.
Wija beranjak, mengisyaratkan Eros ikut dengannya. "Aku memanggilmu untuk menasehatimu, ya. Mau tidak mau, kuharap kamu mendengar. Ini mengenai sahabat baikku, lagipula."
Suasana hati Eros sedang sangat buruk. Ia tak yakin sedang ingin dinasehati atau tidak.
"Kamu tidak mengerti sedikitpun perasaan Hestia, benar kan?"
Eros termenung, tapi ia rasa tidak perlu menutupi apa-apa. Maka Eros menganggukkan kepala.
Iya, Eros tidak mengerti. Sedikitpun tidak mengerti.
Saat Eros melakukan itu, Wija tiba-tiba mendorong lembaran kertas padanya. Tentu saja Eros terkejut. Walau keterkejutannya langsung berubah tamparan oleh kenyataan.
Itu sekumpulan kertas berisi sejumlah riwayat korban kekerasan fisik.
Kekerasan oleh orang tua, kekerasan karena kesalahan sepele, kekerasan karena metode pendidikan, kekerasan yang berujung pada kematian.
Semua beritanya mengarah pada anak kecil di bawah usia lima belas tahun.
"Ini Hestia." Wija menekan kertas itu sekali lagi pada Eros yang terpaku. "Tapi ini juga berbeda dari Hestia. Kamu tahu kenapa?"
Mulut Eros mendadak kering.
"Mereka mati karena kekerasan, mereka masuk rumah sakit jiwa karena kekerasan, pelaku kekerasannya divonis penjara. Tapi Hestia? Dia berada di rumahnya sekarang, semua orang yang tahu tentang kekerasan itu menjadikannya candaan saking terbiasanya. Dan pelakunya? Darius berada di rumah yang sama. Tidak ada hukuman. Seolah semuanya biasa saja."
"...."
"Aku menentang pernikahan kalian, kamu tahu? Karena matamu menunjukkan kepedulian, tapi tidak dengan pengertian. Keinginanmu pada Hestia itu menunjukkan kamu sedikitpun tidak mengerti. Kamu hanya menganggap 'Hestia suatu saat pasti akan luluh jika aku berusaha'."
Wija tersenyum remeh.
__ADS_1
"Luluh, huh? Jika kamu memukuli dia sampai tangannya patah, aku jamin dia luluh. Tapi kalau hanya sekadar menggodanya, tolong anggap saja dia selingan di hidupmu. Karena berharap pada hal semacam itu terdengar sangat bodoh bagiku."
*