Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
30. Jangan Memaksaku Memahaminya


__ADS_3

"Paman."


Norman membuka mata ketika suara Yujerian terdengar. Tampangnya sudah memperlihatkan dia stres dikurung, meski tidak kelaparan atau kedinginan.


Namun Norman terkejut sewaktu anak itu mendekat dengan pisau.


"Matte matte matte! Cotto matte kudasai! Hanashi ga chigauda ro ga!" [Tunggu sebentar! Pembicaraannya berbeda, kan?!"


Yujerian memiringkan wajah. "Aku hanya mau melepaskan ikatanmu."


"Hah?"


"Setelah kupikir-pikir, aku hanya menyusahkan diriku karena mengurungmu."


Jadi maksudnya ia akan dilepaskan karena jadi beban?


Sulit mengatakan dia ini bocah menggemaskan atau bocah brengsek menggemaskan.


Sementara Yujerian, ia melakukannya diam-diam ketika adiknya sedang tidur siang di depan televisi. Waktunya tidak banyak, jadi ia harus membuat seakan-akan pria ini berhasil kabur.


Tidak ada gunanya juga ditahan lama-lama.


Lagipula awalnya Yujerian hanya curiga dan ketakutan. Tapi sekarang Yujerian akan menunggu apa pria itu sungguhan muncul atau tidak.


"Pergilah, Paman."


Norman termenung dengan kedua tangan dan kaki yang terbebas. "Kamu yakin?"


"Paman suka diikat?"


"Dengan wanita, iya. Denganmu, jelas tidak."


Norman duduk bersila, memandangi wajah anak lima tahun yang membuatnya bertanya-tanya itu.


"Bagaimana jika bicara denganku sebentar, Anak Kecil? Lagipula, sejak awal aku ini datang untuk menemui ibumu dan berbicara."

__ADS_1


Yujerian tidak mau. Ia bergegas meninggalkan Norman, pergi ke samping Yuveria sebelum dia tersadar kakaknya hilang dan menangis lagi.


Meski butuh waktu beberapa lama berpikir, Norman pun pergi.


Namun Yujerian tidak menyangka ketika malamnya ia keluar lagi menemani Yuveria untuk bermain-main di persiapan festival, ternyata Norman diam-diam bersembunyi mengamati mereka.


Lagi, dia memberi isyarat agar mereka bicara.


Jujur, Yujerian tidak mau. Apalagi sulit mencari alasan agar Yuveria mau lepas darinya. Tapi pria itu terus mengamati di sana seperti hantu, hingga mau tak mau Yujerian menyerah.


"Yuve, pergilah dulu dengan Haha-ue. Aku lupa harus membawa sesuatu."


Yuveria jelas berkata, "Ikut."


"Kaki Yuve akan lelah jika kembali lagi. Pergilah dengan Haha-ue dulu." Lalu ia mendekat. "Ini soal lomba yang akan datang."


Karena mereka tidak bisa memberitahu Hestia mengenai hal itu, jadi adiknya pun mengangguk. Bergegas menyusul Hestia yang sudah lebih dulu berjalan bersama Mikoto dan Teruhashi di depan sana.


"Haha-ue, gandeng Yuve!"


"Nii melupakan sarung tangannya lagi. Katanya sangat dingin jadi Nii pulang mengambilnya dulu."


Yujerian bergegas berlari meninggalkan lokasi terang. Lalu perlahan berbelok ke hutan-hutan untuk menemui pria itu.


"Kenapa Paman tidak pergi?"


Pria itu malah duduk di tanah. "Ayahmu menyuruhku datang mencari tahu tentang ibumu."


"Kalau begitu pergilah dan beritahu dia."


"Kawaikunai na kimi wa." Dia mendengkus. [Kamu bocah tidak lucu, yah.]


Yujerian membuang muka.


"Lagipula dia akan datang sendiri nanti, jadi lebih baik aku tunggu saja."

__ADS_1


"Kalau begitu aku tidak punya urusan dengan Paman." Yujerian mau pergi, namun pria itu mengatakan sesuatu yang spontan menghentikannya.


"Ayahmu mencari ibumu sejak enam tahun terakhir."


"Apa?"


"Dia tidak tahu kalau hubungannya dengan Hestia melahirkan bocah sepertimu dan adikmu. Jika dia tahu, dia akan kesetanan datang kemari."


Yujerian tersenyum sinis. "Yoku aru hanashi da." [Cerita klise.]


"Nah, you don't have any idea about him, Son." [Tidak, kamu tidak tahu apa pun mengenai dia, Nak.]


"So does him. You told me. He doesn't even know about us. Why should I care about him?" [Begitu pula dia. Paman yang berkata. Dia bahkan tidak tahu mengenai kami. Lalu mengapa aku harus peduli pada dia?]


"Tentu saja, itupun juga benar." Pria itu mengisyaratkan duduk dan Yujerian berbaik hati menurutinya. "Ibumu yang pergi, walaupun aku tidak tahu mengapa."


"Ibuku tahu apa yang dia lakukan. Dia akan selalu mengambil keputusan terbaik."


"Keputusan terbaik tidak selalu berarti keputusan yang perlu diambil. Anak Muda, apa definisi terbaik?"


Yujerian diam.


"Terbaik versi semua orang jelas berbeda-beda. Itu keputusan terbaik untuk Ibumu, mungkin saja. Lalu bagaimana denganmu dan adikmu? Bagaimana dengan Ayahmu?"


"Aku tidak peduli. Ibuku yang paling utama."


"Bagaimana jika Ibumu sebenarnya berniat memberi yang terbaik untuk kamu dan ternyata dia salah paham?"


Yujerian mengernyit. "Paman, jangan memaksaku berbicara berbelit-belit. Aku tidak peduli pada apa yang dialami pria itu."


"...."


"Aku juga mengalami banyak hal, begitu juga adik dan ibuku. Pria yang mengaku sebagai ayahku, meskipun kenyataannya dia mencariku, di mataku, di mata adikku, dia hanya tiba-tiba muncul setelah menelantarkan kami. Jangan memaksaku memahaminya!"


...*...

__ADS_1


__ADS_2