Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
59. Bidak Berhaga


__ADS_3

"Mandala."


"Ya, Nona?"


"Apa kemarin Mandala memegang tanganku?" Yuveria tersenyum lebar penuh kebahagiaan. "Yuve bermimpi indah saat tangan Yuve dipegang! Yuje-nii memegang yang kanan lalu Mandala memegang yang kiri."


Mandala mengerjap, lalu mengintip ekspresi Eros untuk mengerti apa yang dia mau.


Sepertinya dia tidak berharap anaknya tahu itu perbuatan dia, karena pasti Yuveria akan langsung mengubah kalimatnya jadi mimpi buruk jika tahu.


"Ya, Nona." Mandala mengangguk yakin. "Saya memegangnya karena Nona terlihat ingin menangis dan memanggil Nona Hestia. Saya bersyukur jika bisa membantu."


Yujerian menyuap bubur alpukat cokelat ke mulut adiknya. "Yuve sangat heboh jika tidur. Sudah kubilang belajar memperbaikinya."


Adiknya cemberut. "Sou ieba, Haha-ue lagi-lagi pergi?"


Sebelum Yujerian menjawab, Eros lebih dulu berkata, "Hestia berkata agar menemani kalian melihat-lihat sekolah. Memang masih beberapa bulan kalian masuk, namun itu boleh jika kalian mau."


Ketika Yuveria mau berkata tidak mau, Yujerian diam-diam memegang tangannya.


Sang adik menoleh bingung, tapi dia percaya pada Yujerian jadi diam.


"Baiklah."


Eros jelas tersentak. Dipikir mereka akan bilang sesuatu seperti 'urusaii yo jiji' atau 'pergi saja sendiri'.

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba? "Itu bukan perjalanan penting jadi kalian bisa menolak kalau—"


"Kami baik-baik saja." Yujerian bergantian makan dengan adiknya lewat satu mangkuk besar bubur alpukat cokelat. "Kami tidak ingin menyusahkan Haha-ue, jadi tenang saja."


Ketika selesai makan, jelas saja adiknya menarik Yujerian ke tempat sepi—di taman—untuk menanyakan alasan dari sikapnya.


"Kenapa Yuje-nii berbuat baik pada Chichi-ue?"


"Apa semua perbuatan baik selalu berlabu pada kebodohan, Yuve?"


Adiknya tersentak. "Yuje-nii mau menipunya?"


Tidak sejauh itu, sih. Yujerian hanya mau memanfaatkan segala yang ia punya demi melindungi keluarganya.


Kalau begitu, jika nanti Hestia sudah memusuhi keluarganya dan perlu kekuatan untuk menjatuhkan mereka, Eros adalah solusi.


"Dia bidak berharga." Yujerian memegang tangan kecil adiknya. "Jangan buang bidak berharga terlalu cepat. Gunakan dulu sampai tidak berharga."


Yuveria mengerjap. Lalu tersenyum lebar hingga pipinya menggembung polos. "Yuje-nii memang selalu pintar."


Tentu saja.


Ibunya yang mengajari.


...*...

__ADS_1


Hestia menyesap teh paginya bersama Darius.


Sejak kemarin ia gelisah memikirkan apa yang mau Melia lakukan, tapi melihat sampai sekarang dia dan Tamara belum mengatakan apa-apa dan tetap berpura-pura sedang liburan entah di mana, Hestia rasa mereka tidak akan memakai taktik murahan seperti mengadu.


Kalau dipikir ulang, Melia itu anak yang tangguh. Dia bukan tipe orang yang akan menghina balik jika dia dihina.


Kenapa harus melakukan hal rendah begitu? Robek mulutnya biar dia menyesal dan orang setelahnya tahu apa akibat penghinaan mereka.


Aku yang mengajarinya, gumam Hestia cemas.


"Hestia."


Meski begitu, ia masih harus mempertahankan sandiwara kecil ini. "Ya, Pa?"


"Umurmu berapa sekarang?"


"Tiga puluh, Pa."


Darius menopang pipinya dan tampak serius. "Kamu terlalu lama bermain-main. Di usia dua puluh lima seharusnya kamu sudah bertunangan. Papa rasa kita harus segera melangsungkan pernikahan."


Dalam hati ia gemetaran, di luar Hestia tersenyum santai. "Ayolah, Pa. Tidak seperti ketika aku menikah maka ada keuntungan yang diberikan pada kita. Lebih baik memilih orang dengan hati-hati dan memastikan dia memberi Papa kepuasan sebagai menantu."


"Tapi ini sudah terlalu lama. Tidak aneh jika kamu punya anak sekarang. Saya akan lebih tenang jika anakmu yang menjadi pewaris."


...*...

__ADS_1


__ADS_2