
Hestia menutup wajahnya dan menangis saat sadar pelukan Darius bukanlah pertanda dia berubah atau keluarga ini berubah.
Tidak ada penyesalan dari perbuatannya. Darius merasa benar saat melakukannya hingga dia tetap melakukannya pada Melia.
Sekarang kebencian itu justru tertarah padanya karena tak satupun dari mereka berani mengarahkan kebencian secara langsung pada Darius.
Jika saja ada, jika saja bisa, sejak dulu sekali dia telah hancur. Tapi semua orang menggigit lidah karena tak berani.
...*...
Esok hari, seolah tak pernah terjadi apa-apa, seluruh keluarga turun untuk makan pagi.
Hestia duduk di samping Darius, tersenyum cerah menanggapi ceritanya tentang bagaimana perkembangan bisnis mereka.
Tak ada satupun yang bertanya mengapa ia pergi, ke mana ia pergi, apa yang ia lakukan dan seterusnya. Semua berjalan normal dan Hestia yakin itu karena Darius.
Ayahnya tipe yang tidak suka mengungkit sebuah masalah jika hal itu tidak menguntungkan.
Tidak usah pikirkan dari mana. Yang penting Hestia kembali dan siap mengambil alih pekerjaannya sebagai anak pertama.
"Melia, pagi-pagi kamu sudah berdandan. Kamu ada acara?"
Sebelas dua belas dengan Hestia, Melia tersenyum kecil. "Iya, Pa. Kakak sudah kembali, jadi kurasa aku sedikit butuh berlibur."
__ADS_1
Dia hanya bermake up untuk menutupi bekas tamparan di wajahnya. Dan alasan liburan dia buat seketika daripada panjang.
Hestia menahan getir di hatinya ketika tahu bahwa keluarga ini tidak berjalan normal. Membayangkan anaknya harus ikut dalam keluarga ini membuat Hestia ingin muntah.
Tidak boleh. Untuk sementara, mereka tidak boleh tahu.
Terutama Darius.
Jika mereka tahu Hestia punya anak, maka dia akan segera membuat cerita Hestia selama ini menghilang karena hamil dan menikah diam-diam dengan seseorang yang akan Darius atur.
Lalu Yujerian dan Yuveria akan mulai dididik sebagai pewaris. Bakat mereka berdua akan dipaksa terus berkembang bahkan kalau mereka harus dicambuk setiap hari.
"Sayang, kurasa aku juga akan ikut dengan Melia." Tamara alias ibu tirinya menyahut dengan wajah dibuat-buat. "Aku rasa kamu dan Hestia ingin menghabiskan banyak waktu, jadi daripada aku cemburu, lebih baik aku dan Melia berlibur dulu. Kami akan membeli oleh-oleh terbaik untuk Hestia nantinya."
Sisanya diam, karena tahu bahwa itu cuma kepura-puraan.
Baik Tamara, Melia, Hestia.
"Hati-hati di jalan, Ibu, Melia." Hestia tersenyum. "Bicara soal itu, Pa, aku perlu menyapa Wija dulu. Kudengar dia punya anak perempuan juga."
"Ah, benar, benar. Pergilah menemui temanmu. Kita bisa menghabiskan waktu sore nanti."
Hestia tertawa cerah.
__ADS_1
Meski di kamar mandi kemudian ia memuntahkan seluruh makanannya.
Jika saja keluarga ini dipenuhi kejujuran di mana kalian muak maka bisa berteriak muak, maka Hestia sudah dari dulu meneriaki Darius.
Namun pada kenyataannya bahkan saudara-saudara Hestia yang lain memilih pura-pura tuli, pura-pura buta, karena memang itu cara hidup nyaman tanpa masalah.
Terbersit rasa penyesalan di hatinya kembali ke tempat ini, namun Hestia sadar jika ia tak datang, maka mungkin selamanya ia menyiksa Melia tanpa tahu perbuatannya itu.
...*...
Eros tidak bisa seenaknya ikut campur pada urusan keluarga Hestia. Dia adalah perempuan yang sedikitpun tidak mau ditolong terutama oleh kaum pria.
Tapi melihat bagaimana matanya memerah pagi ini, sudah jelas Hestia tidak melewati sesuatu yang baik.
Mencari informasi di keluarga Hestia tidaklah mudah. Darius akan hancur jika tindak kekerasannya diekspose, jadi jelas tidak sangat sulit masuk mencari bukti.
Hestia mungkin juga tidak merasa mengekspose perbuatan Darius adalah keharusan.
"Haha-ue!"
Lagi dan lagi, dia memberi wajah ceria pada kedua anak mereka.
Karena yang sekarang bisa dia lakukan, hanya pura-pura tidak punya masalah di hadapan anaknya.
__ADS_1
*