
Hestia menarikan jari-jemarinya di atas tuts piano. Memenuhi kamar Melia dengan suara nyanyian lembutnya.
"We try to find the passion inside, a flame that will never burn out, something that's mine, I did it on my own, no looking back, wishing for my time to shine."
Melia yang sedang duduk membawa buku, ikut bersenandung.
"No way to know so I'll just follow my heart, each in every road seems to be calling to me, I'll keep moving on so there's no looking back."
Keduanya saling berpandangan. Mengingat masa kecil yang mereka habiskan serasa sama dengan hari ini, namun juga berbeda dengan hari ini.
"A deep breath and my best foot forward. One small step from zero to start again."
Hestia tersenyum lebar oleh suara mereka yang tiba-tiba meninggi bersama.
"If we want to be strong, have to believe that we can. Just taking one small step to hero, to make a change, and start brand new, I'll be wishing for the same thing I always do."
Jemari Hestia melambat, tapi matanya tertancap pada Melia.
"It's always you."
Seluruh ruangan hening. Hestia mengangkat tangannya dari tuts piano, beranjak dari sana untuk mendekati Melia.
Gadis itu hanya diam mendongak, menatapnya. Tapi ketika Hestia membuka tangan, memeluknya, Melia langsung melingkarkan tangan ke punggung Hestia.
Hanya dia yang Hestia punya untuk berbagi lukanya ini. Hanya dia yang mengerti. Hanya dia yang tahu betul rasa sakit dan tak terlupanya.
"Menurutmu Papa benar sudah berubah?" tanya Melia tiba-tiba.
Hestia menyisir rambut halus Melia dengan tangannya. Sekilas melihat bekas lebam di punggung tangannya itu akibat pukulan Melia.
Nyaris serupa dengan lebam yang Melia punya di tengkuknya.
"Aku tidak tahu." Hestia membenamkan bibirnya di rambut Melia. "Aku tidak berharap."
Mengharapkan seseorang berubah itu selalu berakhir menyakitkan. Karena tidak ada satupun orang yang dapat mengubah orang lain, apalagi mereka yang merasa tidak harus berubah.
Mau Darius menjadi seperti apa sekarang, apa yang berlalu tidak benar-benar berlalu. Ada bekas dalam diri mereka berdua, yang mungkin tidak Darius lihat.
"Melia."
"Hm?"
"Siapa pria yang selalu bersamamu di sini?" Hestia selalu penasaran dengan pria itu. Dia memukuli Melia terus-menerus, tapi selain dari itu, dia tidak pernah terlihat.
Melia melepaskan diri. Kembali membuka bukunya seolah tidak terjadi apa pun. "Aku membelinya dari Mahesa."
"Mahardika?" Hestia duduk di depan adiknya. "Kamu membawa masuk pria berbahaya begitu saja?"
__ADS_1
"Aku memang berencana menghancurkan keluarga ini nanti."
Hestia menggeleng tak habis pikir. "Hubungan kalian dekat?"
"Cukup dekat." Melia tampak melamun. "Akh merasa tenang bersamanya."
Ketenangan adalah kemewahan. Hestia mengulurkan tangan ke wajah Melia, mengusapnya penuh kasih sayang.
Aku tidak seharusnya membiarkan dia terluka.
Hestia menangis dalam hatinya memikirkan berapa kali wajah ini mendapat tamparan dari Darius hingga dia tak lagi tahu cara menjaga wajahnya dari tamparan seseorang.
"Maafkan aku." Hestia membawa kening Melia padanya. "Maafkan aku melupakanmu di sini."
Melia terdiam, sangat lama.
Tapi kemudian mengangguk.
Melia sangat membenci Hestia sejak saat itu. Sangat-sangat membencinya.
Akan tetapi ketika Hestia merintih kesakitan, kemudian tersenyum dan meminta maaf, Melia sudah merasa cukup.
Rasa sakitnya merindukan permintaan maaf. Hanya itu.
Dan ia sudah membalas sepuas hatinya.
...*...
Tentu saja, yang pertama kali ia datangi adalah kedua anak manisnya.
"Lihat apa yang Mama bawa?" Hestia menggoyang-goyangkan surat kelulusan kedua anaknya. "Siapa yang diterima bersekolah?"
Yujerian dan Yuveria hanya diam, saling menggenggam tangan mereka.
Kini saat melihat Hestia, mereka terus terbayang ibu mereka dipukuli. Hal itu membuat Yuveria takut, bukan karena membayangkan dirinya dipukul, tapi sangat takut jika ibu mereka sakit.
Sama halnya dengan Yuveria, Yujerian merasakan dadanya berdenyut.
Inikah yang selama ini Hestia rasakan? Padahal Yujerian hanya menyaksikan, bukan mengalami.
"Ara ara nani, futari-tomo? Kaoiro ga warui no yo. Nanika atta no? Mama ni oshiete." [Loh, ada apa, kalian berdua? Wajah kalian pucat. Apa sesuatu terjadi? Beritahu Mama.]
Yujerian sudah mewanti-wanti adiknya. Jadi mereka menggeleng, bergegas mendekati Hestia untuk memeluknya.
"Haha-ue bekerja sangat lama," gumam Yuveria, seakan dia berpikir Hestia menghilang karena sibuk bekerja. "Mengapa Haha-ue masih bekerja keras?"
Senyum Hestia agak retak mendengar itu. "Gomen ne, kodomo tachi. Mama berjanji akan lebih sering meluangkan waktu. Oh, benar juga. Bagaimana jika kita berbicara lagi dengan Bibi Melia? Bibi Melia baru saja menyelesaikan buku baru. Kalian pasti tertarik mendengarnya."
__ADS_1
Mereka belum siap bertemu Melia yang memukuli Hestia.
Hestia yang menyadari ada beban di wajah anaknya jadi bingung. Bagaimanapun caranya ia tak mau mereka mengalami hal buruk di rumah ini.
Mereka harus keluar terlebih dahulu.
"Hei, Mama punya ide. Bagaimana kalau kalian mengajak Sahna camping? Mama mendengar Sahna juga diterima. Ayo rayakan bersama. Ajak Sahna menginap di tenda seperti perkemahan musim panas."
Dengan begini mereka akan keluar, jadi Hestia bisa sedikit lega.
"Mama mendengarnya dari Paman Al, mengajak teman sebaya kita tinggal bersama akan meningkatkan kreativitas. Yuve juga ingin berlatih menyanyi, kan? Ah, Yuuki juga ingin ruangan luas agar bebas berlatih pedang? Bagaimana kalau kita memanggil Paman Al sesekali? Paman Al mahir berpedang, loh."
Hestia layu melihat mereka terus diam.
"Doka shita no, kimitachi?" [Ada apa dengan kalian?]
Yuveria menangis. "Haha-ue to issho." [Aku ingin Ibu.]
Jantung Hestia serasa diremas. "Mama berada di sini."
"Kami berbuat salah."
"Hei, siapa yang mengatakan itu, hm? Tidak ada kesalahan yang kalian perbuatan."
Tapi keduanya tetap menangis. Karena di kepala mereka sekarang, apa yang mereka rasa terjadi, adalah sebuah kesalahan membiarkan Hestia menikahi Eros.
Tidak. Itu kesalahan karena Hestia membawa mereka kembali ke Indonesia, padahal kehidupan mereka sudah sangat damai di sana.
Terutama Yujerian. Anak itu merasa penderitaan ibunya adalah perbuatannya.
Jika saja aku tidak mengundang dia. Yujerian terisak-isak tanpa memedulikan harga dirinya yang selalu melarang dia menangis.
Anak itu menyesali keinginannya bertemu Eros telah membawa Hestia dalam rasa sakit.
"Haha-ue." Yujerian memeluk ibunya erat-erat. "Shimani kaerou." [Ayo pulang ke pulau.]
Ayo pulang, ke tempat mereka merasakan kedamaian. Tempat membosankan tapi tak pernah melukai.
"Yuuki."
"Kaerou," ulangnya. "Oyaji ni iranai. Orewa ...." [Ayo kembali. Aku tidak butuh Ayah. Aku ....]
Yujerian memeluk mereka berdua seolah dunia akan berakhir besok.
"Orega Haha-ue to Yuve mamoru kara. Zettaini mamoru kara." [Aku akan menjaga Ibu dan Yuve. Aku bersumpah akan menjaga kalian.]
"...."
__ADS_1
"Dakara kaerou." [Jadi ayo pulang.]
*