
"Ayo, Pa. Aku akan mengantar Papa ke mobil. Ayo."
Eros mengikuti dari belakang. Melihat sampai Darius pergi, gagal mengucapkan hal pada putrinya, dan putrinya berpura-pura tidak tahu.
"Ada apa?" tanya Hestia ketika Eros memandanginya.
Tapi Eros menggeleng.
Masalah utama telah selesai. Kalau dia masih suka pura-pura, mungkin tidak lagi masalah. Karena bebannya sudah hilang.
Dia sudah bisa bahagia.
"Aku harus menghubungi Wija juga." Hestia bergumam begitu mereka duduk di helikopter bersama.
Akan lebih cepat daripada harus memakai kendaraan biasa.
"Aku juga lupa menghubungi Melia. Bagaimana dengan rumah yang kita minta? Selera Melia memilih rumah pasti terlalu mewah. Aku ingin—"
"Hei, hei. Pelan-pelan." Eros menurunkan ponsel Hestia. "Berhenti seperti orang yang dikejar waktu. Kamu sudah tidak perlu melakukannya."
Hestia mengembuskan napas. "Kebiasaan," jawab dia mengelak.
"Daripada itu, aku sudah menyiapkan ini." Eros meraih sesuatu di bawah kursi, lalu menyerahkannya pada Hestia.
"Apa?" Hestia bertanya tapi tak perlu dijawab karena sudah membukanya.
Perempuan itu mengerjap, menemukan dua buah anting berbeda ukuran dan dua buah jam tangan serupa tapi beda ukuran pula.
__ADS_1
"Ini untuk anak-anak?"
Eros mengambil jam tangan hitam berukuran besar. Mengetuk layarnya, sambil meminta Hestia memakai anting berukuran besar.
"Ini alat komunikasi."
Suara Eros terdengar di telinga Hestia. Membuatnya jelas mengangkat alis. "Dua arah?"
"Ya. Ada tombol kecil di sini, tekan itu untuk membalas."
Hestia tertawa mengetahuinya. "Kenapa kamu membuat ini?"
"Lebih tepatnya untuk kalian." Eros meletakkan jam itu lagi. "Anak-anak sangat gelisah tiap jauh darimu. Walaupun mulai sekarang mungkin tidak lagi, dengan ini mereka bisa sedikit tenang."
Bukan ide yang buruk. Yujerian dan Yuveria pasti akan menyukainya.
Hestia memutuskan tidak memakai itu dulu, meletakkannya kembali di kotak agar anaknya melihat dulu. Dengan tak sabar ia melihat ke luar jendela, menyaksikan pemandangan dari ketinggian selama dua puluh menit sampai akhirnya mereka mendarat di halaman kediaman Eros.
Lengan Hestia yang tertusuk ditutupi lengan baju panjang, jadi tidak akan ada masalah.
Begitu pikir Hestia, sewaktu ia masuk, dan terdengar suara denting piano.
Spontan ia dan Eros mendekat ke sumber suara, melihat Rion, Astria, Laura bahkan Panji duduk dalam ruangan di mana kedua anaknya duduk bermain piano.
Bukan Yuveria yang menyanyi, melainkan Yujerian.
"Tsumetai nimada ga, sora de itetsuite, yasashii furi shite, mai ochiri koro ni. Hanareta dareka to, dareka ga ita koto, tada sore dake no hanashi."
__ADS_1
[Air mata yang dingin lalu membeku di langit, berpura-pura baik lalu perlahan mencekik, ini hanya sebatas cerita tentang seseorang yang selalu bersama lalu berpisah.]
Hestia bisa merasakan kesedihan Yujerian di suaranya. Ekspresi pasrah anggota keluarga Eros, Yuveria yang tidak menyanyi, sampai Laura terlihat cemberut; tidak perlu dijelaskan ada apa.
"Anata no subete ga, katachi wo nakushite mo, eien ni boku no naka de ikiteku yo. Sayonara dekizu ni, arukidasu boku to, zutto isshoni."
[Segala hal tentangmu, bahkan jika menghilang, semuanya akan tetap hidup dalam diriku. Meski tak bisa mengucapkan perpisahan, kau akan selalu ada, di sini selamanya.]
Hestia meletakkan keningnya ke dada Eros. Menerima pesan dari anaknya lewat lagu itu.
Tapi Hestia harus menghadapi mereka. Membujuk dan meyakinkan mereka. Jadi setelah mengangguk pada Eros yang bertanya apa ia baik-baik saja, Hestia beranjak.
"Mama lebih suka lagu Spanyol kemarin."
Keduanya terlonjak, langsung menoleh ke arah Hestia.
Sayangnya, ketika Hestia pikir mereka akan melompat memeluknya, mereka malah diam.
Wajah keduanya langsung miris. Seolah-olah mereka takut mendekat lalu Hestia mengucapkan selamat tinggal lagi dan mereka harus menunggu lama lagi.
Hestia berjongkok. Meletakkan kotak hadiah yang nampaknya tidak akan bisa jadi sogokan bagi mereka.
Ia tahu bagaimana membujuk mereka.
Maka Hestia bersenandung. Sudah pernah bilang pada Eros kan? Yuveria gampang dirayu oleh vokal.
Wajah Yuveria langsung terlihat ingin menangis ketika Hestia menyanyikan mereka lagu tidur kesukaan mereka.
__ADS_1
Tak dapat menahannya, Yuveria berlari ke pelukan Hestia. Dia menangis keras, menumpahkan kekesalan dan kemarahannya sebab Hestia terlalu lama menghilang.
*