
Eros mengetuk-ngetuk permukaan mejanya dengan gelisah. Sudah hampir dua minggu Norman tidak memberi kabar. Padahal dia dengan sombong bilang akan segera kembali setelah memastikan apakah ada Hestia di pulau itu atau tidak.
Ke mana pula bajing*n itu pergi?
Padahal Eros sudah bilang jangan membuatnya menunggu lama. Jelas ada alasan mengapa dia sangat lama. Tidak mungkin tiba-tiba saja dia memutuskan kontak seperti ini.
Apa jangan-jangan Hestia menemukan dia dan membunuhnya?
Eros tidak tahu Hestia pernah membunuh orang atau tidak, tapi dengar-dengar dia memang tanpa belas kasihan pada orang yang dia anggap musuh.
Kenapa sebenarnya dia harus lari? Padahal Darius sudah berhenti mencarinya bertahun-tahun silam.
"Apa Norman belum memberi kabar?"
Orangnya masih menjawab sama. "Belum, Tuan."
Eros berdecak tak sabaran. "Ini sudah dua minggu. Pasti terjadi sesuatu sampai dia tidak memberi kabar."
"Kami akan mengirim orang tambahan segera."
"Tidak." Eros khawatir malah nasibnya akan sama saja. "Kirim drone dulu."
Berhubung akan ada pesta di sana yang ia minta diadakan atas nama temannya, maka kebanyakan pasti berkeliaran di jalanan.
Norman bukanlah anak buah kroco yang bekerja untuk Eros satu dua tahun. Dia sudah bersamanya lewat dari sepuluh tahun, hingga mereka tumbuh lebih seperti saudara daripada tuan dan bos.
Tidak mungkin dia begitu saja menghilang tanpa jejak. Sinyal ponselnya masih menunjukkan pulau itu.
Kuharap itu kamu, Hestia. Eros menggeram tak sabaran. Siap-siap saja jika aku melihatmu lagi.
Kalau perlu, Eros akan memasukkannya ke kandang biar tidak kabur.
...*...
__ADS_1
"Kawaii kawaii kodomo-tachi." Hestia memanggil mereka ketika tiba di rumah. "Siapa yang ingin tidur dengan Mama hari ini?" [Anak-anak manis.]
"Akuuu!" Yuveria mengangkat tangan, sementara Yujerian hanya diam.
"Yuuki wa ia na no? Heeeeee, Mama kanashii." [Yuuki tidak mau? Eeee, Mama jadi sedih.]
Yujerian berbalik. Masuk ke dalam untuk mandi, tidak menyiapkan makan karena mereka makan nasi kepal yang banyak tadi, lalu mulai menarik futon untuk mereka bertiga di kamar Hestia.
Dengan cepat ibu dan adiknya kembali dari membersihkan diri. Hestia berbaring di tengah sementara masing-masing di sisinya Yujerian dan Yuveria.
Hestia memeluk tubuh kecil Yuveria dalam lengannya sementara Yujerian hanya berbaring telentang, menatap langit-langit sebelum dirinya memejam.
"Yujerian, Yuveria."
Keduanya langsung membuka mata.
"Jika Mama berkata akan mempertemukan kalian dengan Chichi-ue, kalian mau?"
"Haha-ue."
Hestia tersenyum cerah menatap langit-langit kamarnya yang gelap.
"Honto wa ne, Mama tidak bercerita karena Mama berpikir kalian tidak penasaran. Tapi belakangan ini Mama jadi banyak berpikir tentang Chichi-ue. Hora, Satou-san bahkan mengajak Mama berkencan, loh."
"Iya da!" Yuveria langsung duduk. "Yuve ano hito iya da!" [Tidak mau! Yuve tidak mau pria itu.]
Hestia tergelak. "Baiklah, baiklah. Mama pun menolaknya."
Lalu tawanya meredup.
"Ayah kalian ... bernama Eros. Sebenarnya Mama memberi kalian nama yang unik itu karena Chichi-ue."
"Haha-ue membencinya?"
__ADS_1
"Entahlah. Mama juga sudah lama tidak melihatnya."
"Lalu bagaimana Mama mempertemukan kita?"
"Kantan'na koto sa." [Itu sih mudah.]
Yujerian tahu bahwa ibunya tidak suka. Tapi ia memutuskan tidak membantah dan diam saja.
Semua terlihat jelas ketika malam hari ia lagi-lagi harus terbangun, pergi menyusul Hestia yang berjalan lagi ke dekat jendela secara tidak sadar.
"Haha-ue wa usotsuki." Yuveria cemberut menatap ibunya. [Ibu pembohong.]
Yujerian menoleh. Mulutnya terasa kering saat ia berkata, "Bagaimana jika Chichi-ue datang mencari kita, Yuve?"
"Yuve akan melemparnya dengan batu. Batu yang tajam."
"Jika dia meminta maaf pada Yuve dan ternyata dia tidak sengaja?"
"Nii no baka!" Bibir Yuveria mulai bergetar ketika bulir-bulir air matanya berjatuhan. "Nii nante daikirai." [Kakak bodoh. Aku benci Kakak.]
"Yuve."
"Memangnya kita gantungan kunci yang tidak sengaja jatuh lalu ditinggalkan?! Baka!"
Yujerian langsung datang memeluk adiknya. Mengusap-usap punggung dia lembut, berbisik maaf karena sudah mengatakan hal yang mungkin bagi dia terdengar kejam.
Jantungnya terasa sakit lagi waktu Yuveria menangis keras sementara Hestia berdiri di sana, memandangi kekosongan.
Benar.
Ia sendirian karena pria itu tidak ada.
Kenapa mereka harus memaafkan dia kalau selama ini dia menghilang entah ke mana?
__ADS_1
...*...