Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
71. Ingin Pecah


__ADS_3

Hestia berusaha menelan makanannya pagi ini. Pertengkaran dengan Eros kemarin membuat ia sakit kepala. Tapi setiap kali mengingat apa yang dia katakan, ada sesuatu dalam diri Hestia yang tahu dia benar.


Ia diam ketika pembicaraan pagi berjalan seolah tak terjadi apa-apa. Matanya melihat Melia yang lagi-lagi memakai make up mencolok.


Hestia sesak mengetahui itu untuk menutupi kekerasan di wajahnya. Napas Hestia berembus kasar. Sesuatu di hatinya memberontak. Ingin sekali bertanya pada Darius, apa dia menyesal melukai kedua putrinya?


Tidak. Apa dia tahu luka itu merenggut kewarasan mereka berdua?


"Ada apa, Kakak?" Melia menyadari mata Hestia memerah. Pertahanannya melemah dan menggigil akan pecah justru ketika Darius ada. "Apa sesuatu terjadi dengan Yohannes? Kakak terlihat ingin menangis."


Hestia memang mau menangis. Dan sumpah mati ia benci melakukannya di sini.


Jadi meski menggigil, Hestia tersenyum. "A-aku rasa aku demam. Bukan karena Yohannes, Melia. Kamu salah paham."


"Demam?" Darius menatapnya seolah dia khawatir.


Justru semakin menyakitkan karena Hestia berharap dia sungguh-sungguh khawatir sebagai seorang ayah.


"Kamu seharusnya bilang, Hestia. Panggil dokter segera. Mungkin kamu kelelahan karena baru kembali bekerja."


Di seberang sana, Melia malah tersenyum lebar. Rasanya seperti mengatakan 'nikmati penderitaan batinmu'.


Hestia menjadikan itu alasan untuk pergi ke kamarnya. Berbaring menatap langit-langit sebelum ia menutup mata, menangis dalam diam.

__ADS_1


Kebencian Melia, bukan ia tidak mengerti.


Mereka berdua merasakan hal sama setiap waktu.


Perasaan di mana tidak ada satupun manusia di dunia ini yang melindungi mereka, melindungi punggung mereka, karena satu-satunya manusia yang mereka percaya akan melakukannya, justru melukai tubuh mereka.


Rasanya ia berharap menyerah. Tapi pada akhirnya tidak ada yang ia dapatkan jika menyerah.


Putra putrinya, mereka harus hidup lebih baik dari Hestia.


...*...


"Chichi." Yuveria bergumam dalam tidurnya. "Haha wa ...."


Eros tersenyum kecil. Mereka menangis lalu tiba-tiba tidur di masing-masing bahunya.


Semalam suntuk Eros menggendong mereka. Sampai paginya Mandala datang, terkejut menemukan Eros masih menggendong kedua anaknya yang juga masih tidur.


Mandala bantu memindahkan mereka. Meski tangan Eros sakit, ia cukup senang melihat mereka tidur nyenyak.


Biasanya mereka bangun pagi.


"Bisakah saya bicara sebentar dengan Anda, Tuan?"

__ADS_1


Eros menoleh ketika Mandala tiba-tiba bicara. Ia sudah beberapa kali melihat orangnya Narendra. Jangankan pengawal, istri-istri Narendra pun memanggil suami mereka tuan dan tidak berani menatap mata mereka demi kesopanan.


Setahu Eros, anak buah Narendra tidak dididik bicara kecuali mereka disuruh melakukannya.


"Ada apa?"


Mandala tak ragu berkata, "Nyonya Hestia mengalami gangguan kejiwaan hingga memiliki perilaku tidur berjalan selama beberapa tahun terakhir."


Eros tersekat. "Apa?"


"Saya mengetahuinya saat menjemput mereka di pulau. Putra Putri Anda tahu hal itu. Tuan Muda Al memerintahkan saya untuk tidak bicara sampai setidaknya Tuan Muda dan Nona Muda membuka hati mereka."


"...."


"Nona Hestia meminta Tuan Muda Al menjaga mereka berdua, dan dari pengamatan kami, luka di hati mereka berdua akan tetap sama jika Nona Hestia tidak menyembuhkan diri sendiri."


Mandala sejenak diam. "Perilaku Nona Hestia sekarang mengarah pada kerusakan yang lebih parah di jiwanya. Hanya itu, Tuan."


Eros memandangi kedua anaknya dengan mulut terkatup. Jadi salah satu alasan kenapa mereka begitu membenci Eros adalah karena ia tak tahu luka ibu mereka?


Meski tahu Hestia mengalami kekerasan, Eros sudah bilang ia tak tahu rasanya.


Ia tak tahu rasanya, jadi tak akan pernah paham bagaimana perilaku mereka yang mengalaminya.

__ADS_1


"Jaga mereka."


...*...


__ADS_2