Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
40. Air Mata Yang Membeku


__ADS_3

"Ya." [Hei.]


Hestia tersentak kaget ketika Al tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Takoyaki sepuluh porsi, Obachan."


Wanita itu mendengkus atas panggilan Al yang jelas-jelas lebih tua darinya. Tapi ia segera mencatat pesanan dan memberitahu Mikoto tambahan pesanan baru.


"Ada apa? Kamu sudah bicara dengan Eros?"


"Menurutmu aku di sini jika sudah?"


Hestia pada dasarnya cuma lari. Menghindar karena bingung harus mengatakan apa.


Anaknya tidak mau jujur, Hestia tidak tahu apa yang mesti dibicarakan, sedangkan Eros nampak masih mencerna situasi.


Semuanya mau bicara. Semuanya hanya tak tahu harus membicarakan apa tanpa rasa canggung.


"Apa kamu terluka?" tanyanya tiba-tiba.


Jelas membuat Al mengangkat alis. "Aku?"


"Saat kecil."


Ia sungkan merinci, bahwa apakah dia terluka ketika dulu waktu kecil tinggal bersama ibunya sampai usia lima tahun, dan tak lama setelah itu dia diasingkan ke Jepang.

__ADS_1


Keluarga Al punya banyak masalah yang rumit dipahami, bahkan oleh Hestia.


Saat di Jepang, Al sedikitpun tidak pernah dikunjungi kecuali sekali setahun oleh ayahnya. Ibunya tidak pernah terlihat mencintai Al, namun sampai detik ini, di usia tiga puluhan lebih, Al terus mengejar ibunya.


Apa dia terluka memiliki orang tua seperti itu? Apa dia bertahan? Itu yang mau ia tanyakan, karena anaknya sedikit banyak memiliki problema yang sama.


"Tentu saja." Al tersenyum kecil saat menjawabnya. "Aku akan memberitahumu hal ini sebagai jaminan rahasiamu aman. Ibuku punya anak haram."


Hestia agak tersentak. "Benarkah?"


"Usianya sudah dua puluh tahun dan dia bersama kami di sini." Al bersandar di dekat pilar kayu saat lanjut menceritakannya. "Sebelum itu, beberapa bulan sebelum anak itu datang, ayahku membawa anak haram juga."


"...."


"Anak haram ayahku dari wanita penari yang dia tiduri karena ibuku tidak bisa melayaninya. Sementara anak haram ibuku adalah hasil inses."


"Tidak masalah. Aku hanya ingin bilang bahwa aku memang terluka karena banyak hal yang dilakukan orang tuaku. Aku melimpahkan kesalahan pada Oyaji, lalu mengemis kasih sayang ibuku meski sampai sekarang belum kudapatkan. Perasaanku pada orang tuaku mungkin saja rumit. Tapi saat mereka tidak ada, baik Ibu atau Ayahku yang menyebalkan itu, aku mencari mereka."


"...."


"Kamu merindukan Darius, Hestia?"


Hestia menggeleng. "Namun terus terang, kadang, dalam kegelapan, aku mencarinya."


"Aku bisa mengatakan padamu kenapa."

__ADS_1


"Menurutmu?"


"Itu karena ada perasaan di hatimu untuk Darius. Entah kebencian atau kekecewaan." Al mengulas senyum teduh. "Jika ada kebencian atau kekecewaan di hatimu, Hestia, lari bukan solusinya."


"...."


"Aku mencintai ibuku bahkan kalau dia berbisik dia membenciku di telingaku. Karena dia ibuku. Dia berdarah melahirkanku. Dia memikirkanku. Kamu, entah apa perasaanmu pada Darius, kamu memikirkan dia. Kamu mengetahui dengan pasti siapa dia."


Hestia merasa sulit menelan ludah.


Inilah yang ia takuti. Jika sesuatu terlanjur bocor dari hatinya, ia mulai mengais-ngais harapan dari luka lama.


Pada kenyataannya, Al memang bertahan dari ibunya yang berkata dia membenci Al itu. Bahkan ketika ayahnya punya anak haram dari wanita lain, lalu ibunya pun punya anak haram dari pria lain, nyatanya dia tetap jadi Al.


"Hestia."


"Hm?"


Al menerima takoyakinya meski menatap mata Hestia. "Aku mengenali matamu."


"Apa?"


"Mata yang sama dengan ibuku." Pria itu tersenyum lagi. "Mata yang takut terluka parah dan tidak akan sembuh lagi."


Bibir Hestia bergetar saat ia tersenyum kecil, berharap dinginnya hari juga membekukan air matanya di dalam sana.

__ADS_1


...*...


__ADS_2