
Yujerian dan Yuveria baru akan mengajak Sahna menghampiri Hestia saat melihat ibunya dikelilingi oleh beberapa wanita, seperti sedang marah-marah.
Bergegas mereka mendekat, mendengar jelas bahwa mereka orang tua dari korban Yuveria tadi.
"Ibu tiri memang tidak akan becus menjaga anaknya. Bagaimana bisa Anda diam saja sementara anak-anak tiri Anda berbuat kasar? Nyonya, jika mengurus anak selingkuhan suami Anda tidak bisa, setidaknya jangan biarkan mereka memukuli anak orang lain!"
Keduanya langsung geram.
Yuveria mau maju mendorong mereka, tapi Yujerian menghentikannya.
"Kali ini, biar aku saja."
"Nii."
Yujerian meninggalkan Sahna bersama Yuveria, mendekati ibunya yang diam saja diberondong penyalahan seolah-olah itu salah Hestia karena dia ibu tiri.
"Hei, Nenek Tua."
Mereka menoleh, dan Hestia cengo mendengar perkataan anaknya.
"Kalian semua nenek tua." Yujerian menjulurkan lidah penuh kesan mengejek. "Nenek tua bau tanah. Nenek tua menjijikan."
"Nyonya Hestia!" Jelas mereka mengarahkan kemarahan pada Hestia. "Bagaimana bisa anak Anda—"
"Bagaimana bisa anak Bibi mengejek orang bisu itu bisu?" balas Yujerian, memotong perkataan dia. "Iya, Sahna memang bisu. Lalu bibi juga nenek tua. Kami kan hanya mengatakan fakta, kenapa Bibi marah-marah?"
Hestia ingin menepuk dahinya seketika.
"Sahna bisu, tidak bisa bicara, harus menulis dulu saat mau bicara. Bibi juga bau tanah. Nenek-nenek yang berdandan agar tidak terlihat seperti nenek-nenek." Yujerian terus mengejeknya. "Jika Bibi protes soal itu, Bibi juga tidak boleh protes soal aku mengatakan Bibi itu nenek tua."
"Yuuki-san."
"Mereka bersalah." Yujerian menjawab Hestia. "Mereka marah pada Haha-ue karena Yuve memukul anak mereka, tapi mereka tidak marah saat anak mereka mengatai kekurangan orang lain. Seolah tidak punya kekurangan saja."
Wajah wanita yang Yujerian ejek jelas syok.
"Hei, Bibi. Dasar miskin. Suami Bibi pasti bekerja sampai larut malam agar Bibi bisa ke salon. Orang tuaku itu sangat kaya. Baik ibuku, ayahku juga kakek nenekku. Apa? Aku bersalah menghina kenyataan? Anak Bibi kan juga menghina Sahna. Jika mereka boleh, aku juga boleh."
Hestia berusaha keras menutup mulutnya agar tidak tertawa. Buru-buru dia menggendong Yujerian, tapi anak itu terus berkata mereka nenek tua miskin.
Tidak bisa dibenarkan sih tindakannya, tapi sebagai orang dewasa yang tidak mau ribet mengurusi orang-orang macam mereka, tindakan Yujerian sangat menghibur Hestia.
__ADS_1
Dan seakan semua itu hanya kebohongan, Yujerian sangat tenang menyantap makanan di restoran dua puluh menit kemudian.
Hestia hanya bisa melihat mereka, termasuk Sahna, dengan mata pasrah juga geli.
"Yuuki-san, Mama mengerti Yuuki kesal pada mereka, hanya saja Yuuki juga tidak harus membalas dengan cara yang sama."
"Hai, Haha-ue. Warukatta," ucapnya tanpa rasa bersalah. [Iya, Ibu. Maaf.]
"Yuui mo." [Yuui juga.]
Anak itu membuat ekspresi ogah. "Atashi wa warukuai desuuuu," katanya penuh penekanan. "Kirai mon wa kirai." [Aku tidak bersalah. Tidak suka ya tidak suka.]
Sahna, selaku anak yang paling berbudi, langsung menulis di catatannya.
...Maafkan saya, Bibi....
Hestia mengusap puncak kepala Sahna. "Kesalahan Yuui dan Yuuki adalah membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama kotornya. Perbuatan anak-anak nakal itu pada Sahna menjengkelkan dan kemarahan Yuuki juga Yuui tidak salah."
Mana mungkin ada hak bagi seseorang menghina si A bisu atau si B buta walau kenyataannya begitu. Hestia mungkin juga akan melakukan hal sama jika temannya dihina seperti itu.
"Tolong jaga mereka yah, Sahna." Hestia menatap sayang mereka bertiga. "Keduanya kadang butuh bantuan untuk mengontrol sisi energik mereka."
...*...
Tentu saja, ekspresi wanita itu langsung terganggu. Tapi Hestia berpura-pura tersenyum pada anaknya.
"Ara, Chichi mukae ni kita nda." [Lihat, Ayah datang menjemput kita.]
Entah dia juga sedang berpura-pura tidak tahu anaknya membenci Eros atau memang tidak tahu karena terlalu sibuk berpura-pura, yang jelas ekspresi Yuveria dan Yujerian sama dinginnya.
"Yuui, dakko shinai no?" [Yuui, tidak ingin minta peluk pada Ayah?]
Yuveria memalingkan mata dinginnya dari Eros pada Sahna. "Sudah lama kita tidak bertemu Paman Pengamen. Sahna, Yuje-nii, ayo pergi."
Usaha Eros sekian lama, berantakan sudah.
"Haha-ue juga." Yujerian menarik tangan Hestia. "Ayo pergi bertemu Paman Pengamen."
Tapi Hestia adalah orang dewasa. Dia tidak akan menunjukkan kebenciannya pada Eros yang justru akan jadi contoh bagi kedua anak mereka.
Tanpa itu saja mereka sudah membenci Eros.
__ADS_1
"Kalian mau pergi mengamen lagi?" Hestia tersenyum hangat. "Yasudah, pergilah bersama Sahna. Mama ingin bicara dengan Chichi-ue dulu."
"Tidak usah." Yujerian menarik tangan Hestia lagi. "Ayo pergi bersama."
"Yuuki—"
"Haha-ue." Yujerian menatap tegas ibunya. "Jangan bicara padanya. Ayo pergi."
Kepura-puraan Hestia pun hilang. Dia menghela napas, melepaskan tangan Yujerian dirinya. "Pergilah. Mama harus menyelesaikan masalah dengan Papa."
"Yuje-nii berkata tidak usah!" Yuveria meninggikan suara. "Haha-ue tidak usah bicara dengan penjahat seperti dia!"
"Yuveria, Yujerian. Language, please." [Yujerian, Yuveria, jaga bahasa kalian, tolong.]
Hestia menekan lebih tegas, tak seperti biasanya.
"Okay, kids. Mama harus melakukan sesuatu jadi kalian boleh bermain. Mama tidak ingin mendengar bantahan lagi, dan tidak juga dengan kalimat kasar. Jika kalian menghina Chichi-ue lagi, kalian juga menghina Haha-ue. Do I make myself clear?"
Sahna yang terjebak di antara ketegangan itu hanya bisa terpaku. Baginya yang terbiasa dikucilkan dan sendiri, Sahna punya mata tajam menilai ekspresi wajah seseorang.
Jadi Sahna tahu bagaimana Yujerian dan Yuveria terlihat sangat marah, Hestia yang tampak mau menangis, dan Eros seperti sedang bersedih.
"Yuve tidak akan menerima dia lagi." Yuveria mendongak pada ibunya, lurus menatap mata itu. "Yuve tidak akan pernah memanggil dia ayah lagi. Yuve bersumpah."
"Yuveria—"
"Haha-ue." Yujerian ikut mendongak. "Jangan memaksa kami. Bukankah Haha-ue sendiri yang berkata bahwa itu keputusan kami?"
Hestia terdiam.
"Kami akan pulang ke rumah Narendra bersama Mandala. Haha-ue selesaikan urusan dengan pria itu. Tapi kami tidak akan pernah mau peduli padanya lagi. Tidak pernah."
Eros memandangi punggung kedua anaknya yang menjauh. Mereka berlari kencang bersama, membuat Sahna tergopoh-gopoh mengikuti mereka.
Mungkin kali ini, Eros benar-benar sudah kehilangan mereka.
"Aku tidak masalah." Eros menguatkan hatinya saat melihat urat-urat merah di mata Hestia yang menahan tangis. "Jangan memaksa mereka. Biarkan saja."
Hestia beberapa kali berpaling. Gesturnya menunjukkan dia gemetaran, tapi sejak awal dia memang tipe yang lebih menikmati tangisannya tertahan sebab tak percaya ada orang yang akan peduli padanya.
"Ada apa?" tanya Hestia setelah berhasil mengendalikan diri. "Aku tidak ingat memintamu menjemput kami."
__ADS_1
*