
Jelas Hestia bisa menggendongnya secara paksa, tapi anak kecil juga punya perasaan. Anak ini sedang kacau dan bukan solusi memaksa dia melakukan sesuatu.
"Bisa aku duduk juga?" Melia yang Hestia ajak bersamanya juga mendekat, bukan keluar dari kabin, namun duduk di samping Hestia.
Hestia merasakan pelukan Yujerian mengerat. Meski hanya sekilas.
"Apa ada sesuatu yang kamu ingin katakan padaku, Anak Kecil?"
Hm? Apa maksud Melia?
Hestia bertanya-tanya, menunduk pada anaknya yang kini memperlihatkan sedikit wajah. Dia benar-benar murung. Tidak seperti Yujerian yang selalu Hestia lihat dewasa, penuh pertimbangan, cerdas menilai situasi.
"Nani?" tanyanya halus. [Ada apa?]
Tapi yang menjawab adalah Melia. "Anak ini melihatku memukulimu."
Kelopak mata Hestia melebar syok. Ia ingat satu-satunya saat di mana Melia memukulinya saat ada Yujerian adalah ....
"Kamu sepertinya menganggap Eros adalah sumber dari semua kesialan hidupmu. Apa pun itu, termasuk aku."
Hestia mendekapnya. Tak tahu harus berkata apa jika benar Yujerian melihat itu.
"Hei, Yujerian." Melia tidak seperti mengajak anak kecil bicara, melainkan rekan sebayanya. "Apa yang membuatmu tidak bisa memaafkan Eros?"
Ada banyak alasan seorang anak tidak mau memaafkan orang tuanya. Entah sepele atau berat.
Hestia dulu tidak bisa memaafkan Darius hingga seluruhnya menumpuk jadi sebuah beban mental yang berat. Tapi, apa yang membuat Yujerian tidak bisa memaafkan Eros meski Eros sudah minta maaf berulang kali, dan mengakui kesalahannya?
"Aku tidak tahu." Yujerian bergumam. "Aku tidak tahu tapi...."
__ADS_1
"Tapi?"
"Dadaku sakit." Yujerian mencengkram dadanya. "Orewa aitsu ...." [Aku, pada orang itu ....]
"...."
"Orewa ...."
Dia kebingungan dengan perasaannya sendiri. Dan Hestia pun bingung dengan apa yang dia rasakan.
Tapi Melia menarik tangan Yujerian, memaksanya berhenti bersembunyi.
"Pergi padanya dan katakan secara langsung."
Yujerian terpaku.
"Masalahmu adalah Eros, tapi kamu melibatkan adikmu yang kamu cintai, ibumu yang bagimu berharga, hanya karena kamu tidak mau bicara secara langsung."
"Apa masalahmu dengan Eros? Jika segala yang kamu rasakan ini, sudah kamu sampaikan padanya dan ternyata tidak ada yang berubah, aku bersumpah padamu akan membawa kalian pergi jauh darinya. Benar kan, Hestia?"
Hestia mengerjap, tapi melihat mata Melia, ia mengangguk.
Kalau itu yang Melia lihat, maka mungkin itulah yang terjadi.
Kalau dipikir lagi, Hestia merasa lepas justru setelah berteriak pada Darius. Tanpa harus mendengar dia minta maaf atau apa pun.
"Yuve memang anak yang manja dan egois." Hestia mengusap wajah anaknya. "Itu karena Yuve selalu tahu bahwa ada Yuje yang memanjakannya dan memaafkan keegoisannya. Hm? Mama percaya pada kalian. Selalu dan akan selalu."
Yujerian mengerjap dengan mata merah. Akhirnya dia mengangguk, memeluk Hestia erat-erat.
__ADS_1
Berkat itu, dia mau turun dari pesawat.
...*...
"Jiji."
Eros menoleh atas panggilan itu.
Baru saja ia selesai menidurkan Yuveria dibantu oleh Ibu dan Astria, tentu saja setelah melewati rangkaian tangisan tak terputus.
Dia dan Yujerian jarang bertengkar, apalagi saling menghina. Tentu saja anak perempuannya syok mendengar perkataan Yujerian.
"Ada apa?" balas Eros tenang. Atau lebih tepatnya pasrah.
"Aku ingin membicarakan sesuatu."
Eros pun beranjak. Keluar dari rumah kecil Hestia itu, mengikuti langkah Yujerian.
Panas terik menyengat dan suara-suara keributan kecil terdengar dari warga yang menyambut kepulangan Hestia. Anaknya berjalan membawa Eros ke dermaga, lalu tiba-tiba berhenti.
Bentangan laut tepat berada di samping mereka.
"Kamu ingin mengatakan apa?" tanya Eros karena dia sempat diam.
Yujerian memandangi lautan dengan mata sendu. Membuat perasaan Eros tersayat sebab mata anaknya seperti itu karena ketiadaan Eros di hidup mereka selama bertahun-tahun.
"Kenapa baru sekarang?"
Lagi-lagi dia berbicara seolah tak mengakui Eros sebagai ayahnya.
__ADS_1
...*...