
"Jadilah istriku."
Hestia tersedak. Benar-benar tersedak, karena tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada pembukaan atau kata pengantar, dia malah langsung mengatakan hal itu.
"Setidaknya katakan di situasi yang seharusnya!"
Eros mengerjap. "Memang ini bukan situasi seharusnya?"
"Hah?"
"Kamu berada di rumahku dan memasak di dapurku."
Hestia mendesis. "Berhenti berkata dapurku padahal yang bekerja di sini pelayan. Lalu apa? Kamu ingin bilang 'aku membayangkan kamu memasak di sini untukku' padahal artinya cuma menggantikan pelayan? Memangnya kamu pernah masuk ke dapur sebelum hari ini?"
Sejenak Eros diam, tapi kemudian berkata, "Ibuku bukan sosialita."
"Lalu?"
"Ibuku punya waktu yang sangat banyak, jadi ibuku yang memasak di pagi dan malam hari. Kecuali siang hari, karena biasanya Ibu tidur."
Hening.
Hestia mengerjap dan sadar ternyata dia benar-benar menggombal tadi. Tapi semua jadi garing entah karena ekspresi Eros atau karena Hestia merusaknya.
"Terserah."
__ADS_1
Sementara mereka diselimuti hening, Astria dan Laura memandang mereka putus asa.
"Aku tidak mengerti kenapa dua manusia kulkas macam itu bisa saling jatuh cinta sampai punya anak!" Astria rasanya mau menggigit tembok. "Padahal seharusnya mereka sedikit jujur."
Laura juga pusing. Bagaimana bisa kalimat 'jadilah istriku' malah berakhir ke kalimat 'ibuku tidur siang'.
"Oba." Yuveria yang ikut menyaksikan, mendongak pada neneknya. "Jika Haha-ue menikahi Chichi-ue, apa Oba akan menyayangi Haha-ue?"
"Tentu saja, Manisku. Oba tidak akan pernah menyuruh mereka berdua masak bersama dan berakhir seperti ini lagi! Oba berjanji!"
Yujerian rasa itu bukan soal memasaknya, tapi terserahlah. "Kalau begitu, bagaimana caranya agar kami tahu Haha-ue mau menikahi Chichi-ue?"
Kedua wanita ibu dan anak itu berpandangan sebelum kompak tersenyum misterius.
Mereka langsung mengajak Yujerian dan Yuveria pergi, sementara Hestia dan Eros membuat makanan bersama dalam hening.
...*...
Tapi anehnya mereka mau makan disuapi sambil masing-masing duduk di pangkuan Hestia dan Eros.
"Hmmm, tidak biasanya Yuuki ingin dipangku Mama." Hestia menyuapi Yuveria di pangkuan Eros. Dan Eros menyuapi Yujerian di pangkuannya. "Ada apa? Kalian sedang bermain 'aku jadi bayi lagi'?"
Kuping Yujerian panas mendengarnya. Tapi ia bertahan karena sudah setuju bekerja sama.
Sabar sedikit, sabar sedikit.
__ADS_1
"Chichi." Yuveria lebih alami dalam berakting. "Yuve ingin dipeluk."
Eros juga terkejut. Meski sejurus kemudian tersenyum, memeluk tubuh kecil anaknya dari belakang. Tak sampai sana, ia mencium pipi dan telinganya hingga Yuveria menggeliat geli.
Pemandangan itu membuat Hestia terbungkam. Sesuatu di dadanya terasa nyeri saat ia sadar Yuveria sudah sangat lama menahan diri dari bermanja-manja dengan ayahnya.
Mereka sebentar lagi bersekolah. Anak-anak sekolah cenderung brutal dalam menilai kekurangan teman sebayanya. Jika mereka tahu Yuveria dan Yujerian tidak punya ibu, maka mereka akan mengolok-olok keduannya.
"Ne."
Keduanya ikut menoleh bersama Eros menoleh.
"Jika Mama menikahi Chichi, kalian baik-baik saja?"
Yujerian mencengkram kuat pinggiran meja.
Ia tak boleh bilang bahwa sebenarnya ia tak mau karena Eros membuatnya kecewa. Jika Hestia bisa baik-baik saja dan sembuh, Yujerian akan sangat bahagia.
"Haha-ue mau menikahi Chichi-ue?"
Hestia tersenyum pada anaknya. "Bukankah dia tampan? Menyenangkan melihat wajahnya setiap malam, kan?"
"Kami mau jika Haha-ue mau. Itu syaratnya."
"Baiklah." Hestia menatap Eros sekilas. Kembali tersenyum agar kedua anaknya senang. "Mama akan menikahi Chichi-ue."
__ADS_1
...*...