Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
79. Kecupan Yang Lama


__ADS_3

Hestia membasahi bibirnya. Sempat ragu sejenak tapi ia putuskan mengatakannya. "Darius bertingkah aneh."


"Mengenai?"


"Dia ... dia terlihat peduli padaku."


"Kamu tidak ingin dia peduli?"


"Aku mungkin pendendam. Aku tidak lupa apa yang dia lakukan. Aku dan adikku terluka lalu sekarang dia peduli? Itu menjijikan bagiku." Hestia menghela napas samar.


Ia tak tahu apa sebenarnya yang ia rasakan.


Memang menjijikan, tapi Hestia sama sekali tidak bisa berpikir untuk membenci dia.


"Kamu tidak memaafkan Darius."


Hestia tidak bisa membalas.


"Tapi kamu juga tidak ingin membalasnya."


Al meraih cangkir teh dingin di atas meja.


"Aku akan bicara pada Gouw agar menarik pertunangan itu. Tentu saja dengan kompensasi darimu sebagai gantinya. Jadi aku harap kamu fokus pada Eros untuk tahu apa yang kamu inginkan."


Hestia tidak ingin menikahi pria mana pun.


Perasaan itu belum berubah sama sekali.


...*...

__ADS_1


Al membiarkan Hestia menumpang di helikopternya menuju kediaman utama keluarga Eros. Karena ternyata Laura berada di halaman bersama Eros dan Astria, Al pun turun untuk menyapa.


"Haha-ue!"


Hestia tak bergabung dengan mereka. Merentangkan tangan untuk menerima pelukan erat dari dua malaikat kecilnya. "Mama merindukan kalian."


Setelah melewati drama panjang lamaran, Hestia benar-benar merindukan mereka berdua.


"Apa Haha-ue lelah?" Yuveria membelai wajahnya dengan tangan kecil anak itu. "Apa yang Haha-ue lakukan kemarin? Apa Haha-ue bekerja seharian?"


Yujerian ikut menyentuh wajahnya. "Tubuh Haha-ue panas. Mengapa Haha-ue sangat keras kepala? Aku sudah bilang jika lelah maka ambil waktu beristirahat."


Yah, ia merindukan suara omelan mereka.


"Yurushite, Yuuki, Yuui. Mama sedang sangaaaaaaaat lelah karena merindukan kalian."


Anak perempuannya tertawa kecil. Menjatuhkan diri pada Hestia sampai tubuhnya terdorong ke rumput. Bukannya menolong, Yujerian ikut menindihnya.


Dari jauh Eros melihat itu, jelas saja tersenyum. Tak pakai waktu lagi ia bergerak menyusul, ikut duduk di atas rumput hijau yang mereka tiduri.


"Chichi, Haha-ue ingin tidur di sini."


"Maka tidurlah." Eros menepuk-nepuk kepala Yuveria. "Yuve juga tidurlah. Udara di sini segar dan sejuk. Yuve akan bermimpi indah jika tidur di sini."


Sejujurnya, Hestia agak terkejut melihat kedua anaknya benar-benar tidur. Mereka tidur di masing-masing tubuh Hestia, mungkin terlalu merindukannya sampai tidak lagi berpikir bahkan Hestia agak keberatan.


Meski begitu, Hestia hanya mengusap-usap kepala mereka. Ikut memejamkan mata, merasakan ada ketenangan asing dari kedamaian ini.


Hanya mereka yang Hestia miliki dengan segenap hatinya.

__ADS_1


Jika mereka senang, Hestia rasa ia pun akan sangat bahagia.


"Tidurlah juga, Hestia."


Ia membuka mata pada Eros. "Berhenti mencari kesempatan di depan anakku."


Eros malah tersenyum. "Mereka anakku juga."


Terserah. "Al berkata akan membantuku membuat Gouw menarik lamaran mereka tanpa masalah."


"Aku tidak mau tahu soal Gouw." Eros diam-diam menyelipkan tangan di sela rambutnya. "Aku ingin tahu soal kamu menerima lamaranku atau tidak."


Hestia tidak mau menikahi pria.


Tapi ketika ia menunduk, melihat kedua anaknya tampak sangat nyaman dan tenang sejak kehadiran Eros ... apa Hestia harus menepikan dirinya sendiri?


"Hestia."


"Aku—"


Kelopak mata Hestia melebar.


Kini di depan matanya, sepasang mata dengan warna abu-abu nampak. Napasnya tertahan, merasakan kecupan Eros di bibirnya.


Hanya kecupan, yang sangat lama, disaksikan oleh Laura, Astria dan Al dari kejauhan, dan kedua anaknya yang tertidur pulas.


Seolah tak habis melakukan apa-apa, Eros memindahkan bibirnya di kening Hestia, mengusap kepalanya hati-hati. "Tidurlah."


Hestia menelan ludah.

__ADS_1


Satu-satunya yang ia takutkan sekarang adalah Yujerian atau Yuveria terbangun karena menyadari detak jantung ibu mereka terlalu keras.


*


__ADS_2