
Hestia berhasil terlepas, tapi itu terlambat saat Darius datang menampar wajah ibu tirinya.
"Hal gila apa yang coba kamu lakukan?!" Darius memukulinya penuh amarah.
Namun bukannya merasa terbela, Hestia justru terguncang. Sesuatu dalam dirinya memberontak keras. Sangat keras dan menggelegak.
Sebelum dirinya bisa menyadari sesuatu, Hestia sudah mendorong Darius.
"BERHENTI MEMBUATKU SAKIT JIWA!" Kini kewarasan Hestia yang hilang. "AKU TIDAK BUTUH DIBELA! AKU BISA MELAKUKANNYA SENDIRI! APA YANG KAMU MENGERTI, HAH?! MEMUKULI ORANG?!"
Hestia menarik tangan Tamara, menyerahkan cutter ke tangannya.
Itu terlalu cepat untuk dicegah, termasuk oleh Eros, saat Hestia menusuk tangannya sendiri dengan cutter di tangan Tamara.
"Lakukan, Ma." Hestia mencengkram tangan ibu tirinya. "Lampiaskan amarah Mama."
"Hestia!"
"DIAM!" Hestia berteriak sangat keras. Gema suaranya terdengar di dinding bahkan jantung Eros. Tapi wanita itu tak sadar, kembali mendorong tangan Tamara agar menusuk-nusuk tangannya sendiri. "Ayo lakukan. Ayo lakukan. Puaskan diri Mama."
"HESTIA, BERHENTI!"
"AKU TIDAK BISA!" Hestia menepis keras tangan Darius darinya. "AKU TIDAK BISA! AKU TIDAK BISA!"
"Hestia!"
__ADS_1
"KALIAN MENGERTI APA, HAH?! MENGERTI APA LUKA KAMI?! YANG KALIAN PRIA PIKIRKAN HANYA INI YANG BENAR INI YANG TERBAIK! PERNAH SEKALI SAJA KALIAN BERPIKIR TENTANG PERASAAN KAMI?! TIDAK! KENAPA? KARENA KALIAN MERASA ITU TIDAK BERGUNA, TIDAK MEMBERI KEUNTUNGAN!"
Hestia memeluk tubuh Tamara yang membeku. Justru menangis terisak-isak oleh perasaan iba pada ibu tirinya.
"JANGAN MENYALAHKAN MAMA! JANGAN PERNAH BERANI! KALIAN MEMBELA APA DI SINI, HAH?! MEMBELAKU?! KARENA AKU TERLUKA?!"
Hestia menangis keras ketika Melia berlutut memeluk ibunya juga.
"AKU TIDAK BUTUH KALIAN! TINGGALKAN KAMI! MENJAUH DARI KAMI! PERGI SAJA DAN URUS DIRI KALIAN SENDIRI! TIDAK PERLU BERUSAHA MENGERTI! TIDAK ADA YANG BUTUH!!"
Jeritan pilu Hestia terdengar. Memancing tangisan Tamara pecah bersamanya.
Bahkan kalau Tamara menusuk jantungnya, Hestia tidak akan pernah menyalahkan Tamara.
Eros dan Darius tidak akan pernah mengerti rasanya menyayangi seseorang melebihi diri sendiri. Mereka hanya terus memikirkan harus begini dan harus begitu.
Bagi mereka yang terpenting adalah memenuhi target, memenuhi tujuan.
Tujuan Darius adalah punya anak sempurna, tujuan Eros adalah mendapatkan wanita yang dia mau.
Peduli setan soal perasaan. Peduli setan soal luka di hati mereka. Karena itulah Hestia benci pria.
Bagi mereka semua ini hanya ingatan lapuk. Sesuatu yang diungkit-ungkit karena wanita memang suka memperumit segalanya.
...*...
__ADS_1
"Apa sekarang aku boleh bersikap jujur?"
Eros menoleh pada suara adiknya Hestia yang berbicara pada Darius.
Mereka sekarang berada di rumah sakit. Membawa Hestia dan Tamara yang sama-sama tak sadarkan diri. Karena Melia tidak terlibat pertengkaran, dia baik-baik saja.
Secara fisik.
"Berhenti memasang wajah menyesal," kata dia, pada Darius. "Berhenti jadi menjijikan, Pa. Aku tidak butuh itu."
"Melia—"
"Jangan bicara padaku. Jangan." Telunjuk anak itu bahkan mengarah pada wajah Darius yang mungkin tak pernah dia lawan. "Aku akan mengajukan tuntutan jika aku dengar satu kata saja dari mulut Papa. Akan kupukuli diriku sendiri separah mungkin sampai pengadilan mengajukan hukuman penjara puluhan tahun. Mengerti?"
Eros hanya diam melihat mereka.
"Aku hanya ingin bilang," Melia memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang, "aku sangat membencimu sampai bertahun-tahun tidurku dipenuhi mimpi buruk."
Wajah Darius hanya dipenuhi kekosongan.
"Aku sangat membencimu, Pa, sampai aku sering muntah hanya karena memikirkan Papa. Aku bahkan sering berpikir 'ah, bagaimana sebenarnya aku harus membunuh bajingan tua itu'. Tapi aku tidak pernah melakukannya karena aku mungkin akan sangat merindukan tamparan Papa."
Eros baru maju ketika Melia tampak mulai tidak waras, mau memukuli Darius di rumah sakit.
...*...
__ADS_1