Kembar Nakal Sang Pewaris

Kembar Nakal Sang Pewaris
90. Sebuah Ketakutan dan Kesedihan


__ADS_3

Dari kejauhan, Eros takjub melihat kedua anaknya duduk di dekat hadis asing sambil sesekali melihat note. Baru kali ini ia melihat kembar nakal itu berteman dengan orang lain.


Eros tak mengerti sampai Hestia memberitahunya.


"Sahna Aulia, kurasa dia salah satu anak beasiswa di sini. Dia tunawicara dan Yujerian penasaran tentangnya."


"Kamu bisa menjamin mereka tidak akan mengejek atau menyakitinya, kan?"


Hestia tersenyum dengan mata melotot. "Jika anakku mengejek seseorang maka tidak ada orang lain selain kamu."


"Maaf." Eros kan cuma memastikan.


Tapi ia juga berharap mereka berdua tidak terlalu sombong atau membanggakan diri karena punya orang tua luar biasa.


Karena nampaknya mereka punya bakat jadi tukang bully.


...*...


Meski tahu kedua anaknya tertarik, Hestia tidak menduga kalau mereka berdua bahkan memutuskan pergi bermain bersama Sahna.


Keduanya, terutama Yujerian, tampak sangat-sangat menaruh perhatian. Hestia bingung sampai berpikir Yujerian mungkin suka pada anak itu, tapi usia Yujerian belum memungkinkan dia untuk peduli soal cinta pada lawan jenis.


"Hei." Eros diam-diam berbisik di sebelahnya. "Biarkan mereka bermain jika itu menyenangkan."


Maksudnya ayo pergi tidur karena sejak pernikahan kita belum melakukan malam pertama?


Hestia mendengkus. Tapi melihat kedua anaknya sangat larut dalam percakapan meski harus dijawab oleh tulisan, Hestia pikir mereka berdua tak akan sadar jika ia dan Eros pergi bersama.


Ada Mandala juga yang mengawasi mereka. Tentu saja termasuk orang-orang yang Eros letakkan di sekitaran keduanya agar tidak ada bahaya mendekat.


"Baiklah." Hestia rasa tidak ada masalah membiarkan mereka.


Keduanya juga sejak dulu memang anak outdoor. Daripada terus dikurung dan diawasi di rumah, membiarkan mereka bermain di mana mereka mau pasti lebih sehat bagi mental keduanya.


Pulang ke rumah Eros terlalu jauh hanya untuk melakukan hubungan di tempat tidur, jadi keduanya memutuskan mampir ke hotel terdekat.


Sekalian jika Yuveria dan Yujerian lapar, mereka bisa langsung datang untuk makan bersama.


"Aku merindukanmu."


Hestia menatap Eros di sampingnya. "Tidak perlu merayuku."


"Aku tidak merayu."


Mata Hestia melirik tangan Eros di pahanya, mengemudi sambil memegang tangan Hestia.


Haruskah Hestia bilang Eros punya tangan yang 'indah'? Kekar, berotot, tampak besar dan kokoh.


Hestia memegangi tenggorokannya saat tiba-tiba ia memikirkan hal menjijikan. Napasnya memburu oleh desakan aneh.


Dia bukan Darius, bisik Hestia dalam dirinya. Dia bukan Darius jadi tangannya tidak akan menyentuh Yuveria dan Yujerian.

__ADS_1


"Sayang?"


Tangan Hestia mendadak dingin.


Hal sekilas di kepalanya menjadi besar dan berlarut-larut. Ia merasa ingin muntah ketika tiba-tiba berpikir Eros akan menggunakan tangannya memukuli Yujerian dan Yuveria.


"Hestia? Hestia, ada apa?"


Eros memberhentikan mobilnya segera. Menarik wajah Hestia yang pucat dan berusaha bernapas.


Meski tak tahu ada apa, Eros menenangkannya. Menarik dan membuang napas di wajahnya agar dia mengikuti ritme Eros.


"Okay?" tanyanya memastikan.


Lega melihat Hestia mengangguk, meski nampaknya masih ada sisa-sisa ketakutan di sana.


...*...


"Apa Anda kasihan?"


Yujerian tidak menoleh sewaktu Mandala menanyainya hal tersebut. Tapi ia menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Fokus melihat Yuveria dan Sahna sedang berbincang—walau secara teknis Yuveria yang lebih banyak bicara dan Sahna membalas dengan ekspresi saja.


"Apa dia terlihat menyedihkan untuk aku kasihan?"


Mandala melirik ke arah Sahna sebelum menjawab, "Mungkin kesepian adalah kata yang lebih tepat."


Itulah yang Yujerian pikirkan.


"Apa ada sesuatu?"


"Kedua orang tuanya sering terlibat pertengkaran sejak usia gadis itu masih dua tahun. Karena memang memiliki gangguan saraf sejak kecil, gadis itu kesulitan belajar bicara. Orang tuanya berpikir dia bisu hingga lama-lama mereka melampiaskannya pada gadis itu."


"Apa dia dipukuli?"


"Dari informasi yang saya tahu, tidak secara fisik, melainkan secara verbal. Setelah berusia empat tahun, dia diadopsi paksa oleh kerabatnya yang kasihan. Dan sampai sekarang dia memutuskan untuk tidak bicara."


Yujerian munduk mendengarnya. Ia tahu mata gadis itu tidak berbohong. Saat dia duduk di tengah keramaian, dia tersenyum tapi terlihat lelah dan bersedih.


Seperti Yuveria ketika merindukan Eros dulu.


Atau seperti Hestia saat berdiri di dekat jendela malam hari.


...*...


"Niiiiii!"


Yujerian tersentak. "Nani?" [Apa?]


Adiknya entah sejak kapan turun dari ayunan, memegang tangan Sahna di sebelah kirinya. "Ayo pergi ke sana. Yuve melihat pemain musik di sana."


"Pemain musik?"

__ADS_1


"Mungkin pengamen." Mandala memperjelas. "Anda ingin pergi, Tuan Muda?"


"Mungkin tidak buruk."


Yujerian langsung berlari mendekati mereka. Memegang tangan Yuveria agar dia tak ceroboh berlari.


"Yuve ingin Sahna mendengar nyanyian Yuve. Ayo pinjam alat musik Paman itu."


Ketiganya berjalan beriringan di trotoar jalan, meninggalkan taman. Norman yang dari jauh mengawasi mereka mau tak mau harus turun tangan, karena Eros bisa mengulitinya jika sampai anak-anak nakal itu terluka.


"Permisi, Paman, bisakah Yuve ikut bernyanyi?" tanya Yuveria begitu mereka mendekati pengamen jalanan yang membawa sejumlah alat musik itu.


Tentu saja pengamen jalanan itu heran. Tapi karena mereka terlihat menggemaskan dan cantik, tingkah mereka akan tetap lucu bahkan kalau suaranya jelek. Jadi, pengamen itu memanggil Yuveria mendekat.


"Ingin menyanyi lagu apa, Adik Kecil?"


"Hmmm, Nii akan memainkan instrumennya. Yuve yang bernyanyi."


"Nii?"


Yujerian mendekat. "Aku, Paman."


"Kamu bisa bermain alat musik?"


Norman hanya melipat tangan melihat mereka. Sudah tahu juga keduanya bisa, jadi ia cuma mengawasi.


Di samping mereka, Sahna duduk tenang menyaksikan semua itu. Agak terkejut mengetahui Yujerian ternyata bisa memainkan kibor, tapi memilih menikmati ketika suara Yuveria terdengar.


Orang-orang langsung berkumpul karena tercengang. Sejumlah dari mereka mengambil video disertai keributan akan kekaguman suara Yuveria.


"Look up to the skies you'll realize I live for all eternity. Take a look within your heart a love for all the world can see. Everything that you believe will give you all the strength that you need. To cary on ...."


Mandala dan Norman tersekat.


Padahal mereka sudah pernah mendengar Yuveria menyanyikan lagu tersebut, tapi kali ini dia sungguhan tampil seolah dia berada di panggung konser, ditonton oleh jutaan orang hingga dia benar-benar harus memukau.


Sahna pun terpaku. Meski bisa mendengar suara Yuveria memang bagus bahkan ketika bicara, tak gadis itu sangka akan seluar biasa itu.


Hari itu, hanya dalam waktu semalam, suara Yuveria tersebar ke seluruh negeri dan menjadi trending topic di sosial media hingga hari-hari berikutnya.


*


"Eros, harus berapa lama Ibu menunggu cucu Ibu tinggal bersama Ibu?!"


Telinga Eros sudah sakit mendengar ibunya berteriak-teriak ingin cucunya lebih sering berkunjung. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa ketika belakangan Yuveria dan Yujerian jadi suka bergaul dengan pengamen jalanan.


Eros mau memberi mereka ruang mengembangkan bakat. Sekolah mereka pun sangat-sangat senang dan mendukung jika Yuveria fokus menyanyi setelah dia menggemparkan sosial media dengan suaranya.


Masalahnya, Eros bisa apa?


Kedua anak itu malah lebih suka pergi mengamen. Mereka bilang, "Kami tidak mau diatur."

__ADS_1


...*...


__ADS_2