
"Dou shita no, Haha-ue?" [Ada apa, Ibu?]
Yuveria mengintip ke dalam kamar ibunya karena tak kunjung muncul, padahal mereka sudah bersemangat ingin berangkat ke festival.
Dilihat ibunya malah berdiri di depan cermin, menopang pipi dengan muka terbebani oleh sesuatu.
"Hmmm." Hestia bergumam lesu. "Baru saja Mama menerima panggilan. Pengrajin kita terluka jadi mereka membawanya ke rumah sakit."
"Haha-ue tidak bisa ikut?"
"Sore ne, Yuui-san. Mama sebenarnya ingin datang dengan kalian. Tapi Mama juga harus bertanggung jawab. Menurut Yuui bagaimana?"
"Kalau begitu Haha-ue pergi saja." Yujerian datang dengan mantel tebal milik adiknya. Dipasang benda itu ke tubuh Yuveria, memastikan dia tidak akan kedinginan. "Haha-ue bisa datang ke festival setelah menjenguk Touru-jiji."
Hestia cemberut. "Demo Yuuki-san, Mama wa matsuri no ikitai no, futari to isshoni." [Tapi, Yuuki, Mama ingin datang ke festival bersama kalian.]
"Wagamama iu na. Ashitamo iru kara. Nanti juga kita bisa pulang bersama. Haha-ue lebih baik ke rumah sakit saja. Jika Touru-jiji meninggal, bukankah kapal jadi tidak bisa dibuat sementara?" [Tidak boleh egois. Besok masih ada kesempatan.]
"Mulutmu manis sekali, Putraku." Walau dengan muka lesu penuh kekecewaan, Hestia datang mencium wajah anaknya. "Kalau begitu jaga diri kalian baik-baik dan selalu ingat?"
"Berhati-hati di keramaian." Keduanya menjawab kompak.
__ADS_1
Lalu Yujerian menambah. "Kita juga akan bersama Hinatsuru dan Oji-ue, jadi Haha-ue tidak perlu cemas."
Hestia melipat tangan dan pura-pura berpikir. "Mama sebenarnya lebih cemas pada orang jahat yang ingin mengganggu kalian. Kasihan nasib mereka."
Yuveria tertawa bangga. Merasa bahwa itu pujian karena dia tak kenal belas kasihan kalau sudah dijahati orang.
Sementara Yujerian hanya tersenyum tipis, segera mengajak adiknya pergi.
Pertandingan catur adalah yang pertama akan diadakan, jadi ia harus bergegas. Agak kecewa sebenarnya karena Hestia tidak bisa melihat ia bermain padahal itu kejutan, namun besok dan besoknya lagi dia juga akan melihat.
"Yuje-nii, sebelum bertanding, ayo beli permen apel!"
"Baiklah."
...*...
Lepas memastikan juga pada dokter agar beliau dirawat dengan baik beberapa hari, Hestia bergegas pergi karena ingin menghabiskan festival untuk anaknya.
Jarang-jarang ada festival sebesar ini terjadi, jadi tentu ia pun bersemangat. Satou juga menemaninya.
"Aku menantikan pertandingan catur yang akan diadakan." Pria itu terkekeh pelan. "Sangat jarang ada pertandingan membosankan—bagi anak muda—seperti itu. Benar-benar jarang ada yang tertarik kecuali sesepuh kita. Padahal cukup seru."
__ADS_1
"Bagiku catur membosankan." Hestia mengangkat bahu. "Tentu saja itu menantang, tapi polanya sangat terbaca jika sudah terbiasa. Pada akhirnya hanya tentang buah catur bergerak di atas kotak-kotak."
"Hestia-san bisa memainkannya?"
"Aku memainkannya sejak kecil."
Catur bisa jadi bukti bahwa seseorang memiliki kecerdasan intelektual. Apalagi di sekolahnya dulu ada semacam turnamen catur hingga Darius berkata ia harus menang.
Bicara soal itu, beberapa hari ini ia melihat putranya bermain papan catur. Hestia sedikit mengajari dia caranya bermain dulu, tapi tidak lagi ia perhatikan karena kesibukannya.
Anak itu mungkin juga akan senang.
"Siapa yah yang mensponsori festival sebesar ini di pulau? Aku sama sekali tidak pernah bertemu mereka. Apa Satou-san tahu?"
"Ya. Aku mengenalnya. Aku bahkan bercerita bahwa Hestia-san mengelola pelabuhan sejak beberapa tahun terakhir. Dia ingin bertemu denganmu nanti."
"Hmmm, aku jadi ingin tahu. Siapa namanya?"
Pria itu malah tertawa dan melihat ke satu arah. Lalu tiba-tiba dia berhenti, merangkul sopan Hestia. "Kebetulan. Orangnya datang."
Hestia membeku.
__ADS_1
...*...